Rabu, 07 Desember 2011

mata-air mata


Tanpa membedakan bagian tubuh yang lain karena semua adalah anugerah Tuhan, saya suka memperhatikan yang namanya mata. Buat saya mata seperti jendela hati dan jiwa. Memperhatikan mata seseorang saat bicara, seperti masuk ke sebuah lorong yang berakhir di kisi-kisi tempat memori mereka di tanggalkan. Disana tersimpan semua memori bahagia atau lara, dan lewat mata pancaran emosi itu hadir. Apapun peristiwanya, saat itu menyentuh kalbu, selalu bermuara di mata dan,,,air yang keluar cerminan itu. Bahagia atau sedih kalau itu menguatkan emosi maka yang keluar air mata. Sebagus apapun dan sepintar apapun orang, mungkin bisa memanipulasi tindakan bahkan tangisan, namun tak mampu menandingi emosi yang keluar dari dalam bersama air mata.

Sebagai anak kolong, dulu pantang buat menangis, setiap menerima hukuman apapun kesalahannya, pantang menunduk, dagu harus tetap tegak, mata harus menatap ke depan walau sekecil itu kelopak sudah banjir air mata. Dan sampai besar pun kadang terbawa, setiap bicara agak kurang klop kalau belum bisa menatap mata. Itulah sebabnya mata yang indah buat saya terasa eksotis, definisi indah memang bisa diperdebatkan, tapi mata yang indah seperti gabungan antara pancaran emosi dan kedalaman jiwa yang memilikinya, dan itu terasa saat saya menatapnya. Perhatikan mata bayi, atau balita, terasa indah bukan,,,coba ungkapkan dengan kata keindahannya,,,susah, karena mata yang polos itu membuktikan kedalaman jiwa, kedalaman spiritual yang membuatnya.

Hanya mata, bagian tubuh manusia yang mengeluarkan air tanpa aroma dan warna, bagi saya itu melambangkan kejernihan, sebuah tempat dimana kesucian bersemayam. Jadi kalau melihat mata yang indah terkadang saya ingin melihatnya menangis, rasanya seperti melihat lukisan alam yang eksotis karena ada kejujuran bercampur keikhlasan disana.. Dulu,,,saya paling suka melihat Adinda putri saya menangis, entah kenapa saat mata indahnya banjir oleh air, ada tarikan spiritual seolah saya bisa menggapaiNya. Hari ini kadang merasa kehilangan momen semacam itu, mata yang indah dan menangis. Kalau kelak bisa menemui hal itu lagi, saya berjanji akan menatapnya cukup lama, kenapa? hmm,,,saya menyebutnya seperti mengalami ejakulasi spiritual :-D.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar