Selasa, 17 Maret 2020

Ello

Malam dan kamu : ello

Ketika malammu berisi celoteh tentang anak anak yang selalu ramai di mushalla saat jelang maghrib berebutan ingin jadi yang pertama adzan di depan mikropon, atau lain kali jadi sepi karena tak satupun dari mereka berteriak, saat hujan sore membuat mereka hanya bisa memandanginya
dari balik jendela.

Kadang aku pun merindui itu, saat kepolosan mereka bersenandung memuji Nya, anak dengan masa depan yang bahkan mereka pun tak mengerti definisinya apa.

Entah kenapa hidup begitu cepat berlalu. Senyum mereka seperti menambah ornamen hari dan waktu saat melihat mereka berlarian dan ribut dengan suara mikropon yang terlalu keras volumenya  berdenging memekak telinga, namun sumpah,,,aku begitu menikmatinya.

Kadang kita menginginkan kembali menjadi polos seperti mereka, waktu terhentak ketika menatap mata teduh itu sehingga rela berhenti hanya untuk menyadari mereka mahluk yang dikirim kesini hanya untuk meyakini, kita semakin menua dan mereka menjadi jiwa yang meng-indah hari demi hari, sedangkan kita makin merenta.

Ahh,,, hidup memang menoreh banyak kenangan tentang masa lalu saat hujan kembali mengguyur kota ini dan aku tak menyesal menemuimu dengan celoteh cadel sembari bershalawat : alohuakbal shogilo,,,,,
(entah kenapa anak itu akhirnya dipanggil ello)

Senin, 09 Maret 2020

Tersenyum dan mengangguk

Kita mungkin hanya sepenggalan langkah berjalan, 
rasanya seperti menit terakhir yang kita punya, 
ada banyak hal yang harus diceritakan :
tentang sepasang burung berkicau dengan paruh berpelukan
ini seperti membaca kisah roman picisan
dan kau tahu endingnya?berantakan tatkala dari depan
dua pejantan kucing memperebutkan betina, 
musim kawin katamu

Jadi cerita burung pun hanya kisah yang berlalu, begitu
jeritan angin yang meliukkan pohon membuatnya kabur
aku hanya tertawa, karena ini bukan hal yang sepadan
jadi dengan ngelantur kesana kemari
bagaimana bisa kita menemukan jalan
kalau semua kisah berakhir di tempat kita memulainya, 
ada yang bisikkan itulah hidup sejati
sejauh berjalan dibawa angin akhirnya kembali

Tiba-tiba anginpun berbisik:
"kamu ingat ini bulan apa?"
aku mengangguk
"setinggi-tingginya harapan, ada jeda untuk sunyi
disana kamu akan bertemu keikhlasan dan romantika
saat kau tahu itu,jarak,dan waktu hanya sepenggal
perjalanan yang sempurna"
aku tersenyum dan mengangguk

# tulisan kesukaan saya setelah sekian lama kekeringan ide buat menangkap momen hidup 😊


Jumat, 06 Maret 2020

Urip mung sarono

Urip mung sarono
Kalau lihat bio saya,,, (cieeee),  kata pertama tertulis : "urip mung sarono"
Kata itu terlontar dari bapak penjual es thung2(es puter) yang biasa lewat depan perumahan.  Kenapa beliau bisa bilang gitu? Pernah saya tanya sekedar basa basi : pripun pak rame dinten niki? (gimana pak ramai hari ini?).  Dia jawab : "mboten mesti pak, kadang rame kadang nggeh sepi,  dilakoni mawon,  urip niku mung sarono". Artinya : tidak mesti pak, kadang ramai kadang sepi,  dijalani saja,  bukankah hidup hanya sarana.

Jawabannya,,,, bikin mak nyess di hati,  keikhlasan bapak penjual es menjalani hidupnya dengan bilang urip mung sarono,  hidup hanya sarana,  hanya wadah.  Wadah tempat menyemai keikhlasan, ketulusan dan kebaikan2,  nilai2 kasih sayang, rahman rahim. Langsung dijalani oleh si bapak dalam keseharian (gak kayak saya dikasih ujian dikit mberotnya setengah mati).  

Hanya orang yang laku lampahnya konsisten bisa bilang seperti itu,  dibanding diri ini,,, saya minder sama sampeyan pak,  jauh seperti melihat langit.


Kamis, 05 Maret 2020

Dibalik kata

Dibalik kata
Terpekur sunyi menanti dirimu
kembali,,,,,
Ia menahan nafas pertanda waktu hanya nisbi
Tak tertahan kerinduannya,  seperti melihat cakrawala yang berganti menjadi jingga

Dibalik kata
Keheningan hanya bisa sembunyi
Semua ucap,  semua tafakur seperti buih terombang ambing di laut sepi seolah kelak akan kembali

Dibalik kata
hanya doa yang bisa menembusnya sebab bukan karena ia ada, namun ketiadaan 
Dari sunyi kembali sunyi
Dari tiada menuju keabadian
Tempat ibu sejati bersemayam