Senin, 12 November 2018

Day off

Jadi dalam momen tertentu, saya sedang belajar untuk melepas kemelekatan,  sekaligus belajar ada namun "meniada".
Dalam tataran tertentu ini memang sulit,  mirip nasihat "gurpan" bilang : minum saat haus,  makan ketika lapar.
Hebatnya semua hal tersebut dilandasi karena cinta,  miripmatahari,  embun,  angin,  hujan,  mereka melakukan tugasnya penuh ikhlas.
Jadi belajar berjarak,  kemelekatan dengan hal yang bersifat "luar", hanya bagian episode yang harus saya jalani,  yang ujungnya sendiri tak tahu dimana,  tapi inilah hidup.
Dalam bahasa lain : you did not know where the future will be,   but you know to where (anda tak tahu dimana masa depan itu tapi anda tahu akan kemana)

Sabtu, 03 November 2018

Hujan november

Hujan november
Hujan bulan november,  seperti menjemput doa doa yang berjuang menuju ke langit dan membasahi singgasana malaikat yang trenyuh saat manusia peminta-minta rizki namun lupa mohon ampunan.

Hujan bulan november, ketika rintiknya jatuh ke tanah,  beraroma kenangan tempat masa lalu hanya cumbu berasik masyuk dengan kegetiran dan tawa,  mengombang ambingkan hati antara putus asa dengan dera,  dan kita tertawa sambil menyeka air mata setelah tersadar ini cara Mu bercanda.

Hujan bulan november,  rinainya menerpa wajah wajah haus kasih sayang Mu, bahkan mencarinya kemana mana tanpa sadar prasangka menghalangi temukan cahaya Mu,  mengetuk pintu dan menemukan dirimu didalam.

Hujan november,  daun daun semula lusuh kini terbuai kelembutan,  dingin hanya suara yang terdengar,  hingga malam menepikan semua kemarahan dan memberinya kelembutan,  seperti berkata sejauh2 mencari tak akan kau temukan jika hatimu prasangka belaka. Tiba2 gerimis mengetuk pintu hatimu dengan lembut : hai jiwa yang tenang,,,,,,,

Jumat, 02 November 2018

Caffein effect

Peradaban kita sedang memasuki proses tahap dasar dari siklus yang terulang (orang Jawa bilang Pranoto mongso).  Siklus peradaban dasar adalah saat individu ingin memperlihatkan eksistensinya dalam masyarakat,  sehingga dalam tataran pragmatis,  kita kenal istilah selfie,  plagiat,  eksis. Ini merujuk pada masyarakat barat setelah terjadinya revolusi perancis,  dimana saat itu kita masuk di budaya egaliter. Sekarang barat malah memasuki kondisi pre egaliter.  Kita malah memasuki post individual

Saat revolusi Perancis,  sumber daya alam dikuasai dan di eksploitasi seperti meras santan,  hasilnya adalah kekeringan jiwa saat kemakmuran badaniah malah membuat limbung.  Saat peradaban kita mencapai Puncak tertinggi spiritual,  barat memasuki Puncak peradaban materialitas,  efek yang tak terbendung adalah kolonialisme merajalela dimana mana. Efek itu dirasakan sampai hari ini sebagai Puncak kegelapan jahiliah terhadap materi,  dan kita memasuki itu saat ini.

Pernah dengar lagu gundul pacul, lir ilir atau e- dayohe teko;  lagu kaya makna gambaran masyarakat egaliter yang memiliki visi gemah ripah loh jinawi dan berujung pada baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.  Hari ini tembang itu coba dikumandangkan lagi untuk mengingatkan, eksistensimu sacara individu kelak akan menemui kebimbangan tatkala ruh mu tak pernah kau jenguk dengan memberinya energi spiritual.

Demikian status saya pagi ini sebagai pengamat ekonomi palsu,  tetap jaga kesehatan bodi dan iman,,,,
#caffein_effect