Kamis, 30 Mei 2019

Lebaran


Lebaran itu dua bentuknya,

Lebaran fisik dan lebaran ruhani

Lebaran fisik, wajah berseri karena atribut diri serba baru dan wangi

Lebaran ruhani,  hanya wajah spiritual yang berseri


Lebaran fisik bergembira karena bertemu keluarga, saling bermaaf2an seolah semua dosa hilang hari itu juga,  bahkan hutang minta dimaafkan dan dimaklumi


Lebaran ruhani,  menangis sedih tak terperi, perpisahan begitu terasa setelah mendekap sebulan penuh mesra dengan sang Khaliqnya.  Lebaran ruhani hanya meminta ampunan Nya,  menapak jalan akhirat penuh sahaja


Lebaran fisik,  begitu ramai dan berlimpah makanan dan kue,  berkunjung pada sanak saudara meminta maaf untuk menjadi fitri


Lebaran ruhani,  berlimpah cahaya ampunan dari Nya,  sepi di jalan sunyi menguak rahasia ilahi,  wajah2 spiritual bercahaya berseri meminta maghfirah Nya. 


Lebaran fisik begitu sibuk,  mudik menjadi wajib,  kembali ke kampung halaman,  membawa sedikit pamer kesuksesan di kota,  dan saat kembali,  berjuang untuk hidup demi setahun lagi


Lebaran ruhani hanya perlu kerendahan hati,  kembali pada diri sejati,  mudik ke kampung akhirat dengan berjanji,  taubatan nasuha membawa catatan amal dan dosa

Minggu, 05 Mei 2019

Puasa kita

Naik kelaskah puasa kita? 


Insya Allah besok puasa, kalau mau berandai2 jika puasa tidak diwajibkan atas mu,  misal hanya disunahkan,  prosentase yang puasa sama yang tidak,  kira2 banyak mana,  dengan asumsi,  pahala yang diberikan sama persis.  Kok saya pesimis kalau puasa menjadi sunah, banyak yang menjalaninya 😊.


Diwajibkan saja kita mengenal jenis puasa bedug (puasa setengah hari buat anak2 kita yang belajar puasa) puasa kendang ( puasanya cuman di hari pertama dan hari terakhir mirip kendang,  selebihnya blong 😂), ada puasa "poso" alias puasa tapi nopo2 kerso 😁. Yang parah ada puasa "surga" ikut sahur,  sarapan pagi gak lupa,,,, 😁😁😁.


Maka rutinitas puasa yang kita lakukan pun berjalan,  saat ngantuk2 nya disuruh sahur,  saat panas2 nya disiang hari,  lihat es teh seperti melihat harta karun.  Sore hari istri kita diminta buatkan takjil mulai kolak, jajanan pasar,  gorengan ditambah makanan yang bernacam2 sehingga menunggu maghrib begitu krusial,,,,, 😆. Seminggu puasa kita sudah tergoda untuk persiapan lebaran,  mushala dan masjid saf nya maju,  saf di mall2 mulai ramai,  sehingga puasa jadi komoditas ekonomi yang penuh ghirah. Mulai parcel,  baju, kue, minuman semua sedap sipandang mata(kecuali dompet). Sampai puasa berakhir besok lebaran,  kita gembira karena menahan lapar haus di siang hari berganti dengan baju baru,  bermaaf2an,  hilang dosa2 sekaligus bersedih karena meninggalkan puasa dengan harapan tahun depan dipertemukan kembali bersama ramadhan sekaligus berasumsi kita merasa surga ditangan? ( melihat kelakuan kita,  itu,, malaikat nek bisa misuh,,,,, pasti misuhhhh jiannnnn,,,, c,, k)😂😂😂. 


Dari tahun ke tahun puasa kita masih mirip anak TN taman nak kanak,  manjanya minta ampun,  minta surga tapi ga mau  berpayah2 dihadapanNya. Puasa yang harfiah menahan lapar dahaga di siang hari, bertujuan melatih fisik dan jiwa, malamnya makan melebihi apapun, seperti balas dendam. Sudah begitu ngerasa ge-er seolah apa yang dilakukan sudah maksimal.  Puasa kita masih menyentuh badaniah semata,  bukan jiwa,  puasa kita masih berkutat makanan, minuman, bukan puasa yang menyentuh langit. 


Ramadhan mirip oase kecil ditengah padang pasir,  bulan tempat kita  "memfermentasi" semua luka jiwa,  ramadhan mirip probiotik yang meluruhkan TOM hati kita,  mempurifikasi nafsu yang selalu membela badaniah, namun tak kangen batiniyah. Puasa kita sejenak harus bisa melupakan al-matosiyah,  hypermartiyah dan transmartiyah,  kembali ke sifat ruhiyah. Jika tidak,  kegembiraan puasa kita palsu,  kesedihan kita ditinggal ramadhan dengan berurai air mata adalah fake.  Kemesraan kita dengan Nya tidak tulus, hanya didasari transaksional semata. Dari tahun ke tahun  tidak pernah naik kelas dalam berpuasa,  sehingga hakikatnya luput,  idul fitri hanya seremonial, bukan fitrah sejati tapi fitri2an mirip dewi dan siti.  Akankah begitu?

Rabu, 01 Mei 2019

Selamat hardiknas 2mei

Selamat hari pendidikan nasional 2 mei 

Menurut fakta google, ada temuan menarik bahwa anak smu ke sekolah sekitar 60% nya adalah untuk sosialisasi bukan menuntut ilmu. Kata sekolah sendiri mungkin serapan dari bahasa belanda school,  dan dasar pendidikan barat menjadi acuan pendidikan kita.

Sebagaimana pendidikan barat yang mengedepankan logika, dasar sekolah berbasis pengetahuan logika sehinga anak pintar di sekolah adalah anak yg bisa menyerap pelajaran ber basis IQ. 


Lantas dimana budi pekerti?  Ia hanya sebagian kecil yang diajarkan di institusi bernama sekolah. Hasilnya kita tahu, indonesia jago dalam lomba olimpiade matematika, kimia, fisik, ilmu- ilmu dasar di tingkat internasional. Namun menjadi sedih tatkala persoalan budi pekerti yang jadi dasar budaya hidup perlahan memudar.

Kita jadi terkaget kaget tatkala anak kita bikin pesta bikini setelah UN. Kita tersentak tatkala tawuran mengakibatkan korban mati sia sia. Kita mengelus dada ketika anak kita sudah "pintar" bikin video porno dengan memerankannya sendiri. Kita kalut tatkala narkoba telah merasuk di lingkungan mereka.

Kita sering menyalahkan sistem pendidikansekarang, tanpa sadar kita juga sebenarnya " korban" sistem yang sama. Sekolah dipandang sebagai jalan melempangkan masa depan sehingga sekolah menjadi badan ekonomi dan didalamnya berlaku hukum transaksional.


Menyedihkan? ada yang menyedihkan lagi bila kita tahu bahwa kecerdasan tidak ditentukan oleh nilai IQ namun EQ, hal yang telah lama kita beri porsinya mnimal. Lantas sistem apa yang harus kita terapkan untuk anak kita. Berkaca dari negara " maju" dari sisi pengetahuan namun miskin dari sisi iman, seperti jepang, eropa, amerika, menurut saya pendidikan nasional harus berbasis budaya dan budi pekerti, bukan jargon yang sekedar omong kosong seperti pendidikan  berkarakter namun tanpa tahu karakter yang bagaimana. 

Bukankah local wisdom harus sudah diberi porsi yang berimbang. Bukankah sudah sepatutnya pengetahuan budi pekerti menjadi garda depan pendidikan kita. Ilmu pengetahuan bisa dipelajari, karena metode itu sudah banyak, sedangkan pengetahuan budaya, budi pekerti, harus terus diasah.


Memang benar sekolah bukan yang utama dalam pembentukan karakter anak,  ada keluarga, lingkungan, namun sekolah bisa menjadi pemicu utama dalam hal pembentukan budi pekerti. Sekolah selayaknya bukan lagi menjadi badan ekonomi yang mencari keuntungan dari secuil ilmu yang diberikan tuhan dan berlagak pongah.

Bukankah ki Hajar Dewantara berkata:" ing ngarsa sung tuladha, ing madya mbangun karsa, tutwuri handayani". Ini dasar dari pembentukan karakter berbasis budi pekerti. Selamat hari pendidikan nasional