Senin, 21 Juni 2021

Ini perkara trust(kopyah broedin)

Saya pernah malam2 dulu pulang kerja nemuin tukang sate di Blitar Selatan, ngomongnya alus, sampe sungkan sebagai orang Jawa bahasa kromo nya kalah. Lebih kaget lagi ternyata ia orang blega Bangkalan. Dia kaget juga begitu saya bilang Belgia (plesetan blega, salah satu kecamatan di kab Bangkalan) hingga akhirnya dapat diskon lumayan. Begitulah jika orang madura merantau, siapapun dianggap tretan walau hanya sekedar bisa ngomong madura nik- sakonik(dikit2).

Di Malang juga begitu, nawar apapun pake bahasa madura, pasti di diskon. Jadi bargaining anda naik saat bisa memenuhi unsur trust mereka, pakai bahasa madura meskipun logat jawa. Gak percaya? Saya kalau cukur pasti cari tukang cukur madura, selain murah meriah, ajak ngobrol dengan bahasa madura, habis cukur pasti dipijat lama. Jadi ini masalah trust menurut saya.

Makanya kalau kemarin ada demo perkara penyekatan jembatan suramadu jangan2 hanya perkara yang satu ini, trust, terlepas konsekwensi prokes.
Mereka tidak anti malah pro, mereka tidak takut sama orang yang namanya Sueb, demikian sohib saya broedin nerangkan.
Awalnya bingung juga apa maksudnya,,, ternyata mereka pro thd prokes bukan anti(gen). Apalagi Sueb (maksudnya swab).

Jadi ini sebenarnya masalah dialektika, yang perlu sering dikomunikasikan. Saat masih "bekerja", daerah Surabaya Utara mulai perak, kembang jepun, kapasan dan sekitarnya kebanyakan pekerja lepas yang memang tinggal di madura tiap hari pulang pergi lewat suramadu. Dikatakan dialektika karena permasalahannya tidak cukup dimengerti dengan pemahaman resiko sebaran penyakit, tapi lebih dari itu, ratusan, atau bahkan ribuan tiap hari mereka lalu lalang lewati jembatan sebagai saksi bisu upaya memeras keringat mereka.

Ini mirip cerita broedin saat ditilang pak pol gegara gak pakai helm hanya pakai kopyah. Pak pol nerangkan kalau pakai helm kepala bisa terlindungi.  Tentu saja broedin membantah : coba helm nya dibanting pak pasti pecah,  coba kopyah saya sampean banting,  pecah ga. 
Kalau dipahami secara apa adanya tentu ga nyambung,  tapi kalau dipahami secara dialektika tentu kita ngakak. Dan pak Pol punya solusi cerdas,  kopyah tetep suruh pakai, tapi tilang tetep jalan,,,,,


Rabu, 02 Juni 2021

Lebaran

Selamat lebaran
Selamat lebaran kawan,  kita sudah lebaran lagi
Akan sibuk waktu kita beberapa hari lagi menyiapkan pernak pernik lebaran sehingga tak terasa puasa  hanya sekedar menahan lapar dahaga,  amalannya sirna tak berbekas menyublim entah kemana

Selamat lebaran kawan
waktu2 bermunajat pada Nya di malam2 sunyi tinggal menghitung hari, kalah dengan riuh rendah menghadapi lebaran,  seolah tanpanya terlewati kemenangan
Kemenangan? Kemenangan terhadap apa bila sisa hari terakhir puasa tak sanggup menahan godaan terhadap hasrat yg begitu banyaknya. 

Selamat lebaran kawan
sudah beli baju baru? apakah kue2 telah tertata rapi dimeja,  senyum semu bahagia,  namun sejatinya hati kosong belaka.  Di hari terakhir puasa kita begitu rakus memborong semuanya seolah esok tiada,  te ha er habis  untuk membeli ini itu seolah tanpanya lebaran hanya seremonial belaka,  prasyarat ampunan hanya dengan berkata : mohon maaf lahir batin,  hilanglah dosa2 kita 

Selamat lebaran kawan
Sebulan puasa, siang menahan dahaga,  malam syahwat berjalan tanpa jeda, lantas kita menyambut bulan kemenangan untuk setahun ke depan,  tak malu kah harus berpura2 pada Nya? 

Selamat lebaran kawan
Usia hanya isyarat waktu sebelum diambil oleh Nya,  lebaran mestinya menjadi titik kulminasi puncak pertaubatan bahwa ada yang lebih sejati,  lebaran hanya penanda bahwa kelak kita akan kembali dalam keadaan Fitri,  lebaran hanya terminal untuk meniada, selebihnya berharap Allah ridha dengan kita.