Minggu, 31 Maret 2019

Ngopi

Pagi yang dingin ini saya coba larutkan serbuk C8H10N4O2( 1,3,7-Trimethylpurine-2,6-dione)*, yang melarut dalam air panas lantas menembus dalam sel darah menghantar hormon kortisol yang ada di zonna fasikulata pada kelenjar adrenal,lantas hidupmu pun lebih hidup
#iki ceritane ngombe kopi
(*) rumus kimia kafein

Dadi nek ditakoni,  kowe ngombe opo,  jawaben : ngombe 1,3,7-Trimethylpurine-2,6-dione alias C8H10N4O2

Menari diatas awan

Menari2 diatas awan
Bukankah kita selalu hadir dalam mimpi, melebur seluruh rindu dalam air mata dan doa. Dan kita menari2 dengan angan saat asa terselip diantara sujud dan diam. Seluruh rindu meluruh tatkala sunyi hanya ucap yang tak terdengar dan bersembunyi di balik awan. Cukup satu bisikkan : naaak,,,, mari menari2lah diatas awan,,,,,

Amplop

Amplop
Menurut wikipedia : Amplop adalah sebuah bungkus dari "surat" atau benda yang dikirimkan per pos. Sebuah amplop biasanya terbuat dari kertas yang dipotong berbentuk belah ketupat dan dilipat sedemikian rupa.

Seiring kemajuan teknologi,  amplop sudah jarang dipakai karena isi surat sudah berubah dari kertas menjadi angin diangkasa.  Ada yang bernama email,  ada yang bernama sms,  wa,  bahkan amplop sebagai tanda pengenal di hajatan, coba saja masuk ke orang nikahan tanpa bawa amplop (meskipun isinya angin alias kosong 😁), tanda matanya pasti amplop,  baru boleh dipersilahkan masuk.

Celakanya,  kebaikan hati si amplop kadang disalahgunakan.  Misal,  kalau bicara surat kaleng,  yang disobek amplop.  Terima surat putus asmara,  disobek sobek amplopnya(bahkan tukul bilang tak sobek sobek).  Hanya KPK saja yang segan,  jangankan dirobek, di-intip mungkin mereka ogah. Malu karena amplop menjadi saksi dunia akherat. Malu karena isinya tidak sesuai peruntukannya untuk mengirim surat.  Tentu saja amplop tak akan bicara,  sebab ia hanya menjalankan kewajibannya dengan tulus,  setulus hati ini,,,, 😁.

Senin, 18 Maret 2019

Segelas kopi pahit

Paling seneng kalau lagi hangout (cangkruk) ngamati anak2 milenial,  sambil kepo apa yang dikerjakan mereka.  Harus diakui,  ada gap memang anak daerah dengan kota macam Jember, Surabaya, Malang.  Suka gak suka ini penting sebab,  10 tahun lagi mereka yang akan berdaulat menggantikan generasi berikutnya. Bisa dibayangkan jika sekarang starter point nya malah biasa2 saja, kelak  hanya menghasilkan generasi biasa2 pula. Tanpa bermaksud sinis,  ini adalah ironi problem daerah versus kota.

Tanpa juga bermaksud komparasi,  dalam beberapa hal kompetisi itu penting,  kesadaran akan ilmu, literasi dsb harus mulai disematkan pada anak2 muda usia 15-20 tahunan.  Teknologi informasi sudah menjalar kemana mana baik kota maupun daerah,  mestinya ini menjadi trigger buat ortunya atau bahkan sekolah? agar lebih nge- push dan nge- boost  anak2 nya.

Jadi ini perkara apa? Wes ngene wae,  saya pernah melihat,  anak2 smu di starbak mulai sore sampai malam bergerombol di depan laptop asik mengerjakan tugas kelompok(jajane arek2 smu di setarbak,  sangune piro,,,,, 😁). Tapi buat saya itu positif karena mungkin wifi disana lebih kenceng daripada di rumah. Atau lain kali mereka begitu serius diskusi di Jeko sambil nyeruput mbuh minuman opo plus makan donat yang empuk (pasti gulanya tinggi, sehingga saya gak doyan). Sekarang menukik ke daerah,  disana tidak ada setarbak atau jeko,  adanya indo*****, kebetulan  kopinya enak,  ada beberapa anak paling tidak 17 tahunan lagi rame, bukan diskusi kelompok, tapi barengan main game online.

Apa saya harus misuh2 bilang pakyu,,,, ini realita,  meskipun gak bisa di gebyah uyah sampe uaasin,  disparitas literasi bahkan mungkin mental terjadi,  padahal memiliki akses yang sama dalam teknologi informasi,  di kota maupun daerah sudah foji alias 4G. Kesimpulannya memang jelas : waktu.  Dikota waktu berjalan seperti adukan semen molen,muter begitu cepat sehingga yang kuat di tengah yang gak kuat minggir. Di daerah waktu begitu panjang mirip pisang molen,  Selow dan renyah. Sama2 molen tapi beda cara,  akhirnya,,,,, begitulah adanya 😀😀😀, dalam bahasa internasyonal istilahnya adalah : "time doesn't make a difference, but mind".

Minggu, 17 Maret 2019

Lokkah tak addere

Semalem, dalam kesempatan "nongkrong" di tempat minum kopi di Situbondo,  ada sepasang muda mudi kalau dilihat dari gesturnya lagi pdkt.  Dari logatnya yang kental aksen madura, saya yakin mereka lokalan orang sana,  namun yang bikin senyum2 sendiri,  pdkt ala Jakarta,  bahasanya lo gue,,,,, nyakartai (bukan nyakar-tai) 😁. Seolah dengan bahasa gaul rasa cinta akan lebih diterima

Persoalan bahasa agar bisa kelihatan keren dengan memakai aksen tertentu terutama nyakartai sudah lama saya amati.  Di Malang,  mahasiswanya setiap ketemu entah di mall, warung jarang pake bahasa ngalam sekarang, lebih merasa cool kalau bisa ber-elu gue, padahal ketika ketemu temen sekampungnya tanpa tersadar bilang : ehhh nda,,,,piye kabarmu, suweloh ra ketemu nda,,,,; nda bahasa slank brarti bro untuk orang jawa mulai dari kediri sampai pacitan. Persoalan ini juga karena rata2 pendatang dari jakarta banyak kuliah disana bahkan penyiar radio di  malang banyak pakai ucapan lo-gue.

Gejala apakah ini? Saya sih menyebutnya imferior culture, persoalan gegar budaya bagi pendatang yang berlatar belakang agropolis menuju metropolis. Lain halnya surabaya, mereka lebih suka dengan ucapan slank setempat, bahkan penyiar radio anak muda disana selalu memakai ucapan suroboyoan, sampai dalam interaksi dengan pendengar yang namanya umpatan "raimu" umum diucapkan. Jancuuk,,,,,sudah menjadi hiasan sehari2 sebagai tanda keakraban. Surabaya terasa lebih egaliter, mereka tak merasa minder kalau tak nyakartai. Bahkan anak2 muda  pendatang dari ibukota pernah saya dengar enteng aja bilang janncuuk, mereka merasa ada penerimaan dengan bilang kata2 tersebut.

Repotnya anak2 muda di jakarta mulai jarang memakainya, mereka selalu selipkan bahasa english,sehingga ada bahasa jaksel, jakbar, jaktim, untuk menunjukkan perbedaan komunikasi di daerah tsb.
"iam find2 aja tuh jalan sm dia yg penting ngerasa comfort aja, after all, time yang akan kasih descision,  mo lanjut apa kagak", piye jal nek ngono ngomonge,,, 😁😁😁. Saya hanya bilang,  anak muda ibukota  merasa imferior, kalau ga sisipkan kata inernasyeonal. Sama dengan yang di Situbondo semalam,  gak marem kalau ga pakai bahasa nyakartai,  hanya saya jadi kuatir,  jika yang perempuan menolak terus pakai bahasa sono,  pasti bilangnya. : lo-gue,,,,,, end,,,,,
Pastinya si cowok langsung ambruk sambil bilang : lokkah tak addere
😁😁😁😁😁

Selasa, 12 Maret 2019

Maret ini

Maret ini
Lama ga "ngaji" ke batos batu,  banyak perubahan yang ditata sana sini dan surprise,  bayar parkir ga perlu uang kontan tapi cukup nge-tag ovo dan suara mesinnya crit crit langsung beres. Bukan itu saja,  saya ketemu dengan Gurpan,  sohib saya yang selama ini menemani kemana2, hanya kadang kesibukannya pada momen tertentu dan kondisi tertentu dia menemui saya. Proses ketemunya ini selalu pakai dramatik sedikit,  kadang jadi penjual kaki lima,  kadang jadi pengemis, atau peran undercover lainnya.

Tadi saat kebelet piscur,  saya keburu masuk toilet dan ketika mau bayar,  ada yang berkata : sampun dibayar broken wing. Tentu saya kaget yang punya panggilan itu hanya Gurpan,  broedin pun hanya ikut2an.  Saat saya amati,  ada petugas mirip2 OB dan saya pun tersenyum senang : Gurpan,,,,, apa kabar lama kita gak ketemu,  tahu2 jadi petugas klining serpis. Tak kalah senyumnya,  Gurpan memeluk saya : broken wing,  kelihatan kurus sekarang,,,,,

Kami pun sambil duduk di pojokan mulai bertukar cerita,  tapi saya banyak yang mendengar karena kadang takut  dia begitu hapal suasana hati saya.  Saya tahu,  di tiap bulan maret dia akan selalu berkabar tentang Adinda. Saya kadang menganggap Gurpan ini malaikat lintas jaman dan alam,  entah biar saya seneng atau apa dia selalu mengabarkan Adinda. "Anakmu makin gede broken wing,  makin cantik mirip ibunya",katanya membuka percakapan. "Dia titip salam,  agar ayah dan mamanya jaga kesehatan". Mulai kelopak mata menggenang,  nguras tabungan air mata. "Its okey semuanya,  gak perlu kauatir apapun tentangnya" kata Gurpan.

Saya tahu,  ada pesan tersendiri jika Gurpan sudah muncul. Makanya saya banyak mendengar." bukankah hidup tak pernah berkata tidak broken wing,  semua pasti mengangguk,  kadang kita aja yang ingin berlebih". Wah ngerasa kesindir saya.
"Kesulitan kita hanya remeh2 kecil mirip upil dan pada waktunya akan terbuang".
" ini yang kadang bikin terlena gur, keinginan seperti menjauhi kata cukup,  kekuatiran selalu mengintimidasi pikiran seolah esok adalah gelap semata".
" hehehe" katanya terkekeh lantas berkata : kita ini kadang sok tahunya melebihi  Tuhan broken wing,  jangankan esok,  sedetik ke depan dari sekarang,  semua kemungkinan bisa saja terjadi,  apalagi semenit,  sejam,  sehari,  kalau kita teliti,  berbagai kemungkinan apapun bisa saja terjadi, dan kita sok merasa bisa menarik kesimpulan berdasar fakta empiris. Bukannya pasrah, tapi fakta empiris gak bisa dijadikan patokan menebak apa yang akan terjadi kecuali kita hanya harus bersikap rendah hati".
Bingung aku opo sing diomongno,  hanya biar sok gaya ketok ngerti, saya pun berargumen sok ilmiah:"bukankah itu fatalistik gur? "
"Panganan opo iku?  lah sing bilang fatalistik iku sopo,  iku lak awakmu dewe". Matii aku 😥
" lah terus kudu piye gur? "

"Nek di jlentrehno kiro2 opo yo awakmu ngerti broken wing".
Kiro2 yo blass,,,,, gur
(Jiampput aku misuh jero ati,  macak klining serpis ae ngajak ngomong sing aku gak ngerti).
"Nek gak ngerti ojo misuh tahh,  mbok istighfar" (hahaha,,,,, konangan).
" gampangane ngene ae wes,  timbang awakmu ngelu mikiri urip, terus bingung tentang esok hari arep ngopo,  wong sakmenit ke depan  awakmu buta ae,  sok2 ngomong fatalistik,  iku gaweane wong males,  kepasrahan iku kata keterangan setelah kata kerja bernama upaya,  jowone upoyo,  goleki upo sing disiyo2 😂😂, artine usaha".
" lah implentasine keseharian piye gur,  wong jenenge keyakinan,  mood kadang munggah mudun koyo kathok kolor".

" eling sing tahu tak omongno broken wing,  nek luwe mangan,  nek ngelak ngombe,  nek ngantuk turu,,,,,, ". "Bukankah itu sebuah penyadaran,  awarness broken wing, bukankah banyak orang yang tubuhnya ada saat ini,  pikirannya entah dimana.  Coba lihat orang2 di mall,  bar piscur terkadang kesusu ga mbayar,  nek ditagih,  mbayar duik 2000 gak onok,  sing di tokno 100 rb. Saya kadang ngelus dodo,  arep nyusuki males,  wes gratis tis tis,  tak dongakno manuke abuh tekan omah,,,,,, "
Saya ketawa denger manuk abuh gara2 duit 2000. " lah aku sing mbayar sopo mau gur? ". Awakmu konco tak gratisno broken wing.  Suwun gur,  mestine mau sak "ngumbahe" pisan.  Mayak koen iku broken wing,,,,hahahaha

Setelah cukup, saya pun pamit,  ada beban yang lepas setelah ketemu sohib saya, Gurpan alias guru kehidupan, ada kelegaan mendengar Adinda its okey,  ada kelegaan karena diingatkan untuk hidup di detik ini,  mangan nek luwe,  ngombe nek ngelak, turu nek ngantuk. Hal yang dulu pernah di omongin dan selalu diulang2 sama dia.

Sabtu, 09 Maret 2019

NKRI,,,,,harga mati?

NKRI harga mati,,,,,,?
Sebagai anak tentara,  saya dididik mirip2 tentara juga, meskipun keinginan ortu untuk jadi tentara gak kesampaian.  Saat masih balita, rumah di barak,di Bandung,  mainan saya adalah eks tank unisoviet yang meriamnya panjang sehingga saya sering bergelandutan di meriamnya. Mainan dalam arti bener2 tank karena memang dekat dengan barak.  Saya bisa tahu apa mobil Gaz buatan Rusia,  truk pengangkut merek Dodge buatan amrik. Asiknya juga semua itu dibiarin sama bapak.

Saya bahkan hafal sapta marga dan sumpah prajurit karena setiap hari senin di tiap apel selalu dengar hal begituan. Disiplin,  pada anak kecil dulu adalah wajib hafal lagu2 daerah,  wajib menghormati perayaan di asrama berbagai agama,  mulai waisak, Natal, nyepi, galungan. Sampai sekarang, saya bisa memainkan alat musik daerah macam angklung,  arumba, kolintang. Dulu seneng2 aja karena memang tersedia di asrama dan tanpa terasa ini mendidik nasionalisme.  Saya yakin anak2 tentara yang pernah hidup dibarak pasti merasakan hal sama,  lihat bapaknya pakai baju PDL,  latihan baris berbaris,  latihan formasi penyergapan mirip di tipi2,  itu adalah hal yang paling saya ingat.  Dan seperti anak2 lainnya begitu lihat bapaknya pakai baju kebesaran,  bangganya bukan main.

Jadi jangan tanyakan nasionalisme saya,  jangan tanyakan ke pancasila an saya, jangan kuliahi dengan jargon2 NKRI harga mati.  Sudah jadi keseharian mulai kecil.  Sehingga bila mendekati pemilu sekarang hal tersebut diulang2 lagi,  saya teramat hafal mana capres yang nasionalisme nya terhadap negeri ini begitu mendalam mana yang bukan.

Terlebih belakangan ini ada yang anti dwifungsi tni, kemudian menghina2 dengan ujaran yang tak pantas,  saya yakin mereka tak pernah alami,  bagaimana saat pagi hari di depan barak,  ada bapak2 dengan seragam PDU dikawal PM mengetuk pintu rumah,  tangisan pilu dari para istri dan anak2 karena  pertanda ada sesuatu dengan suaminya saat bertugas, gugur.

Negeri ini tidak saja dibangun dengan misi diplomatis,  tapi juga dengan darah para syuhadak,  jadi koar2 karena kebijakan yang tidak diinginkan, hanya membuat perih tidak saja para prajurit yang sedang bertugas,  tapi anak istri yang ada di rumah.

Janganlah tanyakan nasionalisme kami,  anak2 prajurit yang pernah tinggal bagaimana getirnya hidup di barak, sebab mata hati ini tahu siapa pemimpin yang sungguh2 akan membawa perubahan Indonesia sesungguhnya, siapa yang hanya main2 demi kekuasaan. Tak perduli itu sipil maupun purnawirawan.
#bukan_kampanye

CEO,,,,,CFO

Tiba2 sohib saya kirim foto kartu nama ke wa,  kerenn ,,,disitu tertulis :

"Mr.  Broedin van Klompen"
                   ( CEO)
         Pengusaha anggur

Saya mikir sejak kapan dia jadi pengusaha anggur,  apakah pekerjaannya sebagai jukir di bilangan kembang jepun sudah diwariskan ke anaknya. Saya balas pesannya : selamat ente sekarang sudah sukses dien,  jadi pengusaha,  terus gimana kerjaanmu?

Jawaban yang saya terima cuman : hehehehe,,,,,,
Makasih mas bro (dia selalu sebut saya begitu karena tahunya nama saya broken wing) namanya juga usaha,  doakan saya mas bro mudah2an lancar.

" terus mbak Sari(istrinya saripah) gimana apa masih BKO(bawah kendali operasi) di Surabaya? "
" sekarang ane tarik bantu ane jadi
CFO,  yang di Surabaya digantikan anak ane sama istrinya"
" wah hebattt ente dien sudah alih generasi,  kamu maju,  apa resepnya,  saya jadi malu,  kamu sudah jauh di depan kapan2 kalau ga sibuk pengen denger cerita lengkapnya dari ente'
"hehehehe,,,, boleh2 mas bro"
" kamu itu ekspor anggur atau impor anggur to dien? " dulu waktu di Surabaya mbak Sari memang jual buah2an di lapak,  kulakan di pasar pabean,  siapa tahu sekarang nemu investor dipercaya untuk jadi distributornya,  bayangan saya.
"hehehehe,,,,, "cuman itu jawabnya

Lama2 saya curiga sama anak satu ini,  jawabannya lain dari biasanya,  gak cengengesan begitu,, apalagi kecerdasannya diatas rata2, pasti ada sesuatu.
"Dien,,, ane curiga,  jangan2 kartu nama kamu palsu,  bukan pengusaha anggur,  tapi kamu pengangguran sekarang'
"heheheh,,,,, " jawabnya singkat yang bikin saya jadi penasaran.

Lama dia ga balas akhirnya siang2,  kluning ada notifikasi telpon via wa dari dia.
"Sorry mas bro tadi ga sempat jawab,  lagi sibuk,  udah sebulan ini ane pulang kampung ga lagi di Surabaya,  nemenin mama (emaknya mbak Sari) di kampung,  saya saya sudah tinggalkan hiruk pikuk di Surabaya biar si Regi nerusin usaha (gantikan jukir) sama istrinya (anaknya dikasih nama Abdul Regi karena lahirnya rebo legi), sekarang sama saripah lagi bikin lapak jualan yang sama di kampung,  apalagi ketrampilan ane kan cuman itu"
"terus usaha apa dien sama mbak Sari?"
"sama jual buah khususnya anggur,di kampung ada lapak di jual ane beli, Regi saya suruh kulakan di Surabaya kirim kesini,  lumayan mas bro yang jalanin istri, ane hanya ngatur kulakannya,  banyak waktu nganggur ane sekarang"
"lah terus duwe ide dari mana kok kamu bikin kartu nama pengusaha anggur merangkap CEO terus istrimu jadi CFO, lah ente ngerti opo ceo dan cfo? "
"hehehehe,,,,, kokonya tempat ane kulakan di Surabaya bilang, dien bial belkembang dan agak bonafid kamu bikino kaltu nama, telus kasihkan sama olang2 dikampungmu klo mau jualan anggul,  kamu nanti jadi distlibutol wilayah sana"
"Sejak kapan kamu jadi pelat ngono dien? "
"ane niru koko ne mas bro "katanya terbahak.  "Terus opo juntrungane kamu pake CEO dan CFO"
"loh iku singkatan mas bro". Singkatan opo to dien gayamu kemeruh
"Jare kokone CEO singkatan cek entuke okeh (biar dapatnya banyak) CFO cek fuluse okeh(biar uangnya banyak) "
Saya terbahak 😂😂😂 mendengar penuturannya sambil jawab :" jancuuukkk,,,,,, onok2 ae karanganmu dien"

"jok kliru mas bro,  kartu iku iso di ijolno duik"katanya
"Hah,,,,, yang bener?"
"Iyo tenan,  lah ane liat di tipi2 pengangguran koyo ane nanti bisa digaji, makane ane buru2 bikin kartu ini biar cepet realisasinya"
" koen ndelok nang tipi endi kok aku ga tau weruh"
Tiba2 terdengar suara mbak Sari : "papi,,,,,, ojo ngobrol ae,,,,, ewangi ngedukno barang,,,,,ngono yo sakiki nganggur bojone di pulosoro"
Saya ketawa syukurinnnnnn,,,,,,
"sek2 mas bro tak tutup sek, bojo ane nyeluk"katanya terbata
"Dien,,,,, dien sek2 tipi ngendi jaremu mau,  nek bener aku tak gawe pisan"
"gampang nanti ane sambung lagi yo" klik telpon putus,,,,,,
Saya mikir tipi ngendi iku,  kok dia bisa lebih tahu infonya dari saya,,,,,, penasaran

Kamis, 07 Maret 2019

Jejak digital

Jejak digital
Yuk ngelanjutin tentang sosmed. Sore ini kita bahas yang namanya jejak digital (digital track), istilah baru ketika sosmed mulai ramai di angkasa.  Tak ada padanannya kecuali yang paling mendekati adalah jejak rekam (track record).

Jadi begini soddharrra soddhara,,,, saat anda membuat status,  kemudian status tersebut anda hapus,  apakah sudah hilang menjadi debu? no,,, no,,, no,,, gak semudah itu karena sosmed ini ibarat sistem,  apapun yang ditulis, atau yang dihapus,  ia masih tersimpan di pusat bank datanya facebook,  jadi kelihatannya hilang dilayar,  tapi sesungguhnya ia tidak hilang,,,,, bingung to,,,,,,.

Wes ngene ae (gini aja)  gampangannya : kalau anda punya perhiasan,  buku catatan penting dan very2 penting,  anda mungkin punya pikiran menyimpannya di bank dengan menyewa  safety box. Setiap tulisan yang anda buat,  anda simpan di safety box,  demikian juga bila ada yang dihapus.  Pihak bank akan mencatat tanggal sekian anda datang nulis bla bla bla. Tanggal sekian anda datang menghapus bala bla bla.  Semua tercatat dengan rapi.

Di dunia Maya,  safety box ini bernama alamat akun anda yang disebut IP(internet protocol, dan anda memiliki alamat IP berupa deretan angka yang khas. Jadi saat anda membuat kesalahan katakanlah menyebut asu kirik kodok cebong,,,,,, dan seluruh warga kebun binatang, untuk mengungkapkan kekesalan pada seseorang,  kemudian orang itu gak terima dan anda membela diri kalau tidak menyebutkan itu dengan menghapusnya. Masalah sudah selesai? Mbotenn,,,,, karena jejak digital yang sudah dihapus dapat dibuka dan treng treng,,,,, tulisan itu masih ada lengkap dengan jam, hari, detik, dimana menulisnya, pake hape apa tank top,,,,, upss lap top,,, 😁. Inilah yang disebut jejak digital dan anda tidak bisa menghapusnya kecuali menutup akun dan minggat dari dunia maya.

Jejak digital inilah yang tak semua dimengerti,  jangankan orang awam,  pesohor, artis,  pejabat,  kadang gak tahu sampsi mereka jatuh karena jejak digital, sakitnya,,,,,, jatuh karena apa yang ditulisnya. Makanya saya sering ingatkan untuk bijak dalam bermedsos.  Jangankan tulisan yang mengandung hate speech alias ujaran kebencian.  Kita meng-unggah foto2 anak kita yang lucu2 saja sudah bisa dijadikan para predator untuk berniat jahat.

Hari ini, tanpa disadari hidup kita sangat tergantung teknologi.  Sehari tanpa hape,  tanpa melihat wa,  tanpa melihat twitter,  seperti kehilangan daya. Istilah simbion (simbiosis biologi ontologi)  merujuk pada gabungan separuh mahluk hidup,  separo mesin cerdas,  seperti melekat pada kita. Ketergantungan manusia sekarang pada teknologi yang diwakili oleh hape,  memang memudahkan namun juga seperti tercerabut dari habitat alami nya. Mau tidak mau, kelak anak cucu kita yang akan memasuki atmosfer ini,  tugas kita adalah memberinya pemahaman,  apapun namanya,  teknologi secanggih itu,  kita tetaplah manusia,,,,,, yang punya kepekaan rasa,,,,,, teknologi harusnya memudahkan bukan menyusahkan.

Tetiba lamat2 terdengar lagu lama : "woo,, woo,,,aku,,,, hanya ingin kau tahu,,,,
besarnya cintakuu,,,,,,
tngginya khayalku bersamamu,,,,,, "
Apa kelak robot dengan kecerdasan artificial bisa merasakan lagu ini yo,,, lagu lama tapi lupa judulnya,,,,, 😁😁😁

Citizen jurnalism

Citizen jurnalism
Saya tidak paham awal pembuatan sosial media seperti FB, twitter, WA dsb arahnya kemana,  sebab pembuatnya rata2 orang barat yang memang dikenal individualism.  Mungkin karena hal ini sehingga platform nya dibuat untuk menghubungkan silaturahmi sekaligus berbagi informasi dari keluarga, teman dekat. Sebab kita tahu semenjak duduk di bangku kuliah rata2 mereka sudah pisah dengan ortu nya.

Namun siapa sangka saat jejaringnya sudah mendunia sehingga ada istilah  WWW;  world wide web (padanan indonesianya jejaring jagat jembar alias JJJ dan akhirnya geje 😁)  efek silaturahmi yang dulu ingin dikenalkan seorang bernama zuckerberg dkk mirip angin sepoi2 berubah menjadi puting beliung,,,, kata orang Jawa ngedab2i. Jejaring dunia maya berubah menjadi gerakan moral beserta efek sampingnya,  sehingga informasi yang beredar begitu masif,  tidak hanya individu yang ditelanjangi secara terbuka,  pemerintahan yang korup dan otoriter terimbas juga sehingga ada beberapa negara melarang twitter.

Ingat bagaimana amerika kehilangan muka saat seorang bernama Julian
Assange dengan wikileaks-nya mengeluarkan dokumen sensitif yang anginnya sempat berimbas ke Indonesia juga (saat itu kita berusaha menangkis info itu mirip menangkis angin, hingga akhirnya masuk angin).

Sampai2 konon beberapa negara  dijatuhkan oleh gerakan netizen(istilah untuk menyebut warga dunia Maya) semisal beberapa daerah di timur tengah seperti Mesir , Irak,  Libia dsb. Sehingga "menguasai" sosial media adalah cara membuat sunyi warga negaranya.  Namun apa daya gelombang informasi yang di bungkam se-erat apapun ia mengalir deras,  sehingga strateginya adalah dengan meng-counter informasi dengan membuat informasi palsu alias hoax yang saat ini ramai berseliweran di medsos Indonesia.

Efek hoax ini begitu merasuk,  sampai ada gerakan anti hoax yang kadang diproduksi oleh pusat hoax,,,,,, 😁😁, karena pada saat mencapai ketinggian tertentu hoax yang disebar malah menjadi paradoks dan merugikan pembuatnya.

Sosmed yang semula adalah ajang silaturahmi dalam kelompok kecil,  berubah menjadi gerakan politik yang melibatkan warga dunia maya mulai dari isu lingkungan,  pendidikan, ketimpangan,  dan exploitasa alam. Hari ini setiap orang punya hak untuk bicara apapun dari hal yang remeh2 hingga yang berat. Keterbukaan ini membuat ada sebagian orang berniat jahat dengan mencuri data pribadi,  melakukan penipuan baik perorangan hingga organisasi.

Sungguh sosmed hari ini,  sunyi di darat tapi ramai di angkasa,  tanpa pemakaian yang bijak, kita, keluarga,  anak2 kita yang masih belum ngerti efek samping sosmed akan ditelanjangi habis2an. Jadi saya kadang suka kuatir saat mereka bersosmed tapi mengindahkan tatakrama sebagai seorang netizen.  Sehingga citizen jurnalism  yang awalnya baik,  berubah menjadi dracula jurnalism (iki istilahku dewe,,,,)  merujuk informasi dan status yang dibuat netizen malah membuat kita naik darah,,,,, 😁😁😁
So,,,,, be wise bersosmed, lindungi anak2 kita dari intipan predator jurnalism (iki yo istilahku dewe maneh,,,,), karena tidak semua keterbukaan baik bila akhirnya malah menelanjangi kita untuk dilihat semua orang,  mirip ikan dalam akuarium, mulai minum sampai eek aja kelihatan,,,,,, 😄

Selasa, 05 Maret 2019

Hidupmu

Hidupmu,,,,,
Hidupmu untuk siapakah?
Untuk Tuhan pencipta seluruh alam semesta?
Percayalah Tuhan mewakilkannya pada orang tuamu, anak2 istrimu dan pada orang2 yang butuh pertolonganmu

Untuk itulah kamu senantiasa berdoa bukan meminta, namun meneguhkan kesanggupanmu menjalani semua itu

Sebab,,,
Pencarianmu bukanlah apa yang di dapat,  pencarianmu adalah apa yang diperbuat
Pencapaianmu bukanlah sejumlah kuantitas tertentu
Pencapaianmu adalah dampak keberadaanmu

Suksesmu bukanlah berada di puncak2 pencapaian kuasa, harta, dan pernak pernik dunia lainnya.
Suksesmu adalah kesanggupanmu merebahkan diri serendah2nya pada kehidupan.
Tersungkur serendah2nya di sepertiga malam ketika keheningan menyapamu dan kamu menangisi ketidak mengertianmu.

Kelak kamu akan mengerti maqom dirimu adalah saat dimana engkau  berawal dan mengakhiri,  dari tiada mengada dan meniada.