Rabu, 25 Juli 2018

Lena

Ketika kelahiran datang dari pintu depan, ajalmu menanti di pintu belakang.  Jarak diantaranya,  banyak yang di maknai secara berbeda.  Ada yang menamainya : kehidupan,  disana dirimu terdampar menjadi tamu di sebuah ruang tamu, dan tak mungkin selamanya disitu,  sebab kelak akan pulang.

Jarak antara depan dan belakang hanya sepenggalan untaian doa, terlalu singkat. Saat kita lahir,  disambut doa, pulang ke haribaan Nya juga dengan doa. Bahkan doa menjadi penawar saat langkah ini terpuruk dalam do(s)a.

Dan sebaik2 doa,  adalah menghantar diri ini dalam pendar cahaya Nya,  mengabdikan dirimu untuk orang tua, istri/suami, anak,  guru dan orang yang memberimu Cinta.  Dan kewajibanmu adalah melunasi hutang Cinta mereka,  dalam perbuatan yang Indah dan doa.
Sehingga apapun yang kau maknai :  usia,  waktu,  harta,  jabatan,  hingga kesenangan kehidupan,  semuanya terangkum dalam satu kata yaitu jarak.  Dan jarak itu terukur hanya dengan dua saja,  pintu depan dan belakang,  selebihnya,,,,, lena.

Re-intro

Di serambi itu angin hanya bergulir lemah,  saat sore mengisyaratkan kalau dirimu  beranjak pergi,  bukan menangisi keadaan namun karena keabadian tak bisa ditemui dengan begini,  katamu.
Jadi aku pun termangu saat lembaran puisi menoreh di buku harian dan betapa kata2 itu menghujam,  bukankah ini semacam intro,  ketika badan letih mencari kemana mana,  hakikat diri terbang tercantol entah dimana?.  Bukankah pernah kau bilang,  jangan ditangisi keadaanmu disini,  kamu menulisnya di bait puisi,  keabadian hanya rumah sejati,  sisanya ilusi.
Jadi,  sore ini kamu tersenyum tipis serta menatap awan sebentar lagi memerah sebelum gelap datang,  tiba2 berbisik: alangkah indahnya ketika awan itu bergegas pulang seolah tahu malam adalah peraduan keabadian.  Aku hanya bengong setelah tahu,  dimana kata2 itu kau simpan,,,,,,
Dimana katamu? Aku bilang ada di gemerlip Bintang,  dan kamu tertawa seolah te akannya benar jawabnya.

Minggu, 15 Juli 2018

Juli

Bulan ini buat kami terasa istimewa,  ada dua hal besar yang terjadi,  pertama karena ini adalah bulan dimana kami mengikat tautan suci menjadi sepasang kekasih.  Kedua,  bulan ini pula saya memutuskan memiliki  waktu lebih banyak buat keluarga,  teman,  saudara. Saya memutuskan pensiun lebih awal didasari perenungan lebih setahun.  Ada bisikan spiritual untuk memutuskan itu.  Bisikan spiritual yang dimaksud adalah adanya kesadaran untuk berbuat sesuatu untuk orang lain namun tidak didasari hubungan transaksional,  lebih kepada menjalin silaturahmi berdasar ketulusan. 

Di dasar kalbu terdalam ada yang menyuruh : "broken wing,  sudah waktunya berkata cukup,  enaugh,  melangkahlah menuju jalan2 kesunyian,  mengabdi pada kehidupan,  bukan penghidupan".
Jadi langkah selanjutnya adalah merancang sebuah "perjalanan" dengan menyediakan diri ini untuk semata-mata dalam kebaikan keindahan Nya (beautiful kindness). Ada banyak yang saya lakukan,  dengan sedikit pengalaman yang diperoleh,  ingin membaginya buat yang membutuhkan.  Itu aktifitas yang lama saya idamkan,  biarlah ini sebagai cara untuk melunasi hutang Cinta  pada Adinda,  anak semata wayang saya. Sedang untuk hal lainnya,  cukup itu rahasia saya dengan Nya. 

Sabtu, 14 Juli 2018

Seribu masjud satu jumlahnya

Dulu, puisi ini begitu menyengat penalaran saya, memberi sengatan spiritual yang luar biasa

SERIBU MASJID SATU JUMLAHNYA
Puisi Emha Ainun Najib

Satu
Masjid itu dua macamnya
Satu ruh, lainnya badan
Satu di atas tanah berdiri
Lainnya bersemayam di hati
Tak boleh hilang salah satunyaa
Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu
Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu
Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu

Dua
Masjid selalu dua macamnya
Satu terbuat dari bata dan logam
Lainnya tak terperi
Karena sejati

Tiga
Masjid batu bata
Berdiri di mana-mana
Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya
Timbul tenggelam antara ada dan tiada
Mungkin di hati kita
Di dalam jiwa, di pusat sukma
Membisikkannama Allah ta'ala
Kita diajari mengenali-Nya
Di dalam masjid batu bata
Kita melangkah, kemudian bersujud
Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa
Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna

Empat
Sangat mahal biaya masjid badan
Padahal temboknya berlumut karena hujan
Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban
Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan
Masjid badan gampang binasa
Matahari mengelupas warnanya
Ketika datang badai, beterbangan gentingnya
Oleh gempa ambruk dindingnya
Masjid ruh mengabadi
Pisau tak sanggup menikamnya
Senapan tak bisa membidiknya
Politik tak mampu memenjarakannya
Lima
Masjid ruh kita bawa ke mana-mana
Ke sekolah, kantor, pasar dan tamasya
Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota
Tanpa seorang pun sanggup mencopetnya
Sebab tangan pencuri amatlah pendeknya
Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala
Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya
Sebab majid ruh adalah semesta raya
Jika kita berumah di masjid ruh
Tak kuasa para musuh melihat kita
Jika kita terjun memasuki genggaman-Nya
Mereka menembak hanya bayangan kita

Enam
Masjid itu dua macamnya
Masjid badan berdiri kaku
Tak bisa digenggam
Tak mungkin kita bawa masuk kuburan
Adapun justru masjid ruh yang mengangkat kita
Melampaui ujung waktu nun di sana
Terbang melintasi seribu alam seribu semesta
Hinggap di keharibaan cinta-Nya

Tujuh
Masjid itu dua macamnya
Orang yang hanya punya masjid pertama
Segera mati sebelum membusuk dagingnya
Karena kiblatnya hanya batu berhala
Tetapi mereka yang sombong dengan masjid kedua
Berkeliaran sebagai ruh gentayangan
Tidak memiliki tanah pijakan
Sehingga kakinya gagal berjalan
Maka hanya bagi orang yang waspada
Dua masjid menjadi satu jumlahnya
Syariat dan hakikat
Menyatu dalam tarikat ke makrifat

Delapan
Bahkan seribu masjid, sejuta masjid
Niscaya hanya satu belaka jumlahnya
Sebab tujuh samudera gerakan sejarah
Bergetar dalam satu ukhuwah islamiyah
Sesekali kita pertengkarkan soal bid'ah
Atau jumlah rakaat sebuah shalat sunnah
Itu sekedar pertengkaran suami istri
Untuk memperoleh kemesraan kembali
Para pemimpin saling bercuriga
Kelompok satu mengafirkan lainnya
Itu namanya belajar mendewasakan khilafah
Sambil menggali penemuan model imamah

Sembilan
Seribu masjid dibangun
Seribu lainnya didirikan
Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun
Tagihan masa depan kita cicilkan
Seribu orang mendirikan satu masjid badan
Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan
Hadir engkau semua menyodorkan kawruh

Seribu masjid tumbuh dalam sejarah
Bergetar menyatu sejumlah Allah
Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan
Melainkan dengan hikmah kepemimpinan

Allah itu mustahil kalah
Sebab kehidupan senantiasa lapar nubuwwah
Kepada berjuta Abu Jahl yang menghadang langkah
Muadzin kita selalu mengumandangkan Hayya 'Alal Falah!

Jejakmu

Jika dirimu adalah sebutir angan
biarkan ia larut menuju kalbu terdalam,  dan hinggaplah di deretan DNA yang menguak jejak masa lalu milyaran tahun saat bigbang,  karena kamu adalah bagian terkecil dari Bintang,  matahari dan galaksi

Jika kamu merunut lagi ke masa awal,  ada jejakmu disana,  dan kamu adalah entitas tak bernama
Dan kamu memulai perjalan ini dengan kun fayakun,  setelah berjanji bahwa eksistensi dan personalitas yang dititipkan Nya padamu,  kamu sepenuhnya menghamba.

Dan kau juga berjanji jika seluruh hidupmu akan diabdikan di jalan2 keindahan yaitu Cinta,  sehingga setiap awalan langkahmu Dia berpesan : dengan atas nama Ku yang maha kasih dan maha penyayang

Jadi jika dirimu kesasar dijalan2 materi dan menyangka itu hidup,  bukankah dirimu tahu kalau semua sifat kebendaan adalah ilusi.  Bukankah setiap huruf yang kau pelajari dalam ilmu mekanika kuantum mengatakan itu.

Lantas,  kesombongan apa yang kau miliki sehingga berani menafikan sejarah dan jejak masa lalu yang tak bisa kau hapus dengan beribu maaf apapun kecuali kau bersimpuh pada Nya dengan rela.

Ketika dirimu menjejak jalan2 sunyi,  kau akan tahu,  sebutir apapun niat kebaikan mu akan menjelma jadi mutiara,  dan sebutir apapun niat keburukan mu,  akan menjelma menjadi debu saat kau sesali itu.
Saat itulah kamu tahu mengapa gunung,  bunga, embun, matahari,  bumi bintang selalu bertasbih pada Nya. Mereka ikhlas dalam tataran diam, kami menyebutnya jalan sunyi

Jumat, 13 Juli 2018

Derap

Sejauh jauh berjalan kelak dirimu akan menyadari bahwa akan kembali pada diri sendiri. 
Mungkin kesedihan dan kebahagiaan adalah titik terminal yang akan datang silih berganti
Namun dirimu akan tetap ada, mirip kampung halaman yang nun jauh disana
Kadang rindumu telah menepis keasingan karena keterlanjuran
Lantas di sudut waktu diatas usia yang makin menua dirimu bertanya : siapakah saya?
Ahhh,,,, kecengengan apalagi ini,  dirimu mestinya telah menemukan "rumah", home,,,, bukan house,  bukan pula kesombongan kecil berupa angka namun tak bermakna
Bukankah dalam lubuk hatimu terdalam,  ada rasa penyesalan namun tak terungapkan
Bahkan saat langkahmu menyusuri hidup,  sempat menafikan teman seperjalanan,  lantas bertanya dimana ia sekarang?
Bukankah terlambat menanyakan itu saat matahari hampir tenggelam?

Jadi,  sebelum langkahmu menjauh dan makin mendekat tenggat waktu,  dirimu berusaha menemukan kesejatian namun dengan hati yang membatu,  mungkinkah itu?
Sebab hidupmu tak bisa dirancang dengan asumsi,  kecenderungan,  bahkan tendensi.
Hidup tak semudah itu,  ia yang kan menuntunmu,  walau terkadang ia memberikan potongan teka teki.
Karena bukan seberapa banyak kelak yang akan digendong (materi,  pangkat,  maqom dan harkatmu)
Kamu hanya akan disambut dengan gembira saat dirimu kembali ke rumah kesejatian dengan ikhlas dan rela,  membawa cerita perjalanan langkahmu dengan gembira.
Saat kau sadari itu,  kamu akan tersungkur menangisi kebodohan dan kesia2an,  karena semuanya telah sempurna dan cukup
Satu2nya yang telah lama kau lupakan hanya sebuah kata : "terimakasih"
Bahkan kata semudah itu pun kau kelu,,,,,

Rabu, 11 Juli 2018

Reborn

Ketika perjalananmu melintasi padang2 pengembaraan sendirian,  kau hanya ditemani Bintang dan bulan saat malam.  Ditemani pagi dan embun kala Mentari merindukanmu. Diri mu menaiki bukit dan lembah kesulitan dan segera menemukan mata air untuk membasuh hausmu,  dan merasa hidup hanyalah kumpulan makna yang hanya bisa dimengerti dengan kerendahan hati.  Kadang dirimu bertanya diujung mana perjalanan berhenti? Dan selalu saja jawabannya adalah melangkah dalam tapak2 yang menuntunmu menuju cahaya Nya. Dirimu pernah menyebutnya dengan pendar cahaya Nya,  dan terkadang kau per ah mengatakannya jalan sunyi.

Sungguh didalam sesak nafas melihat dunia yang makin menua namun makin angkuh dengan sisi kemanusiaannya,  kamu melihat ini adalah cara untuk makin mengukuhkan betapa hidup teramat lembek pada air mata,  bahkan terlalu cengeng dan picisan.  Itu kau bilang saat duduk di sebuah batu yang berlubang karena tetesan air. Sampai di titik ini dirimu menyimpulkan bukan seberapa banyak yang akan dibawa,  bukan seberapa jauh dirimu mengembara,  bukan seberapa tinggi dirimu menengadah.  Namun apakah di setiap langkahmu kau menemukan konsistensi kepada Nya,  menemukan jejak makna betapa seluruh sudut ruang dan waktu hanyalah bulir bulir embun yang akan menguap karena kasih sayang Nya. 

Saat dirimu menemukan itu,  kau merasa eksistensimu hanyalah bagian dari ketiadaan dan nisbi,  semuanya hanyalah milik Nya.  Patutkah dirimu menjadi sombong meskipun secuil saja

Jumat, 06 Juli 2018

bukan untuk sembarang hati

"bukan untuk sembarang hati"

ketika jalan menyisakan usia yang kelak kan pergi

ketika waktu tersenyum sembari membisikkan : temui, aku rindu,,,

setelah sekian lama mencari,  menelisik seluruh sudut hidup ini

kemana kelak kan kembali jika pintu nurani tertutup daki hati

kita menyangka telah bertemu puncak kehidupan

bergelimang gemerlap dunia nan mempesona

namun kita alpa, sebab kita hanya sekedar nyadong cahayaNya

kelak akan diminta kembali,
yang terbaik akan dihisab,  yang terburuk akan di azab

berjalan kemanapun,  selalu bertemu cahayaNya

lantas kenapa kita silau dengan Nya
bukankah  Ia menyapa , merinduimu

mengharap dirimu terangguk, dan kita menangisi betapa abai dengan tanda kasih sayang Nya

lamat terdengar lagu : "bukan untuk sembarang hati,  aku katakan ini,  sungguh aku cinta kamuu,,,"(she)

*bayangkan saat Ia membisikkan ini padamu,  niscaya kamu akan tersungkur2 dihadapan Nya betapa Cinta Nya telah membuatmu meleleh menjadi sesuatu yang tak tersisa*