Senin, 26 Desember 2016

Asu(msi)

Entahlah apa saya ini puritan,saya termasuk penganut pria yang bangga melihat wanita "open mind" bukan " open wear". Perkembangan kultur antropologi manusia (ngemeng epe iki)  sejak jaman 
Pithecanthropus erectus hingga manusia modern turunan homo sapiens,  yang namanya wear yang tadinya untuk menutupi tubuh akibat cuaca dingin sekarang malah berkembang wear yang kewer2 alias robek sana sini sampe kalau bisa terlihat yang namanya under wear.

Jadi kalau awal dari telanjang dan kebudayaan makin menutup terhadap tubuh, sekarang malah balik jadi terlihat telanjang (meski sebagian) lagi,  ini sebuah kemajuan peradaban atau kemunduran?. Sohib saya Broedin van Klompen,  selalu punya jawaban akan hal itu ( bukan van klompen kalau ga bisa berargumen) . Katanya : "kesadaran peradaban yang bergerak dari no wear ke under wear lantas partial wear sampai nude,  adalah produk pemikiran yang canggih,  malah kelak teknologi manusia akan bisa menciptakan pakaian seolah pemakainya ga merasa sedang berpakaian". Terus kelihatan telanjang donk,  kemajuan opo kui dien,, ." tergantung asumsimu bro,  kalau pikiranmu porno yaa ketok mudo,  nek pikiranmu positif itu sebuah hasil teknologi.

Sek sek dien,  nek anakmu wedok budal nang mall terus gawe klambi kekecilan sampe udel mbek pupune ketok,  ente tego tah."nahh itu lain perkara,  sama wanita seperti itu kita harus kasihan",,loh piye maksutmu? " siapa tahu bro,  dia ga punya duit untuk beli baju yang pantas sehingga terpaksa pake baju adiknya" jawabnya terkekeh. Lahh itu kan mengundang bir,,,, " lom tentu itu kan asumsimu bro,  tergantung niat kita melihatnya sebagai komoditas seksual atau bukan", lah faktanya itu sudah jadi trend setter dimanapun dien sya nyanggah.

" tergantung dari sisi mana kamu melihat itu bro,  kalau dari sisi komoditas,  itu kemajuan ekonomi,  kalau dari sisi etika, di barat sudah hal biasa,  kalau dipandang dari sudut antropologi yang kamu bilang itu kemunduran,  apalagi kalau dilihat dari disi keyakinanmu dan aku,  itu bertentangan,  bukankah hanya dari sisi asumsimu saja broken wing"anjrit iso ae arek iki ngemeng,  kuliah nang sopo iso berargumen gitu. Lah nurut kamu sing bener sing endi dien?

"Yoo tergantung apakah asumsi dia, mereka, kita,  aku,  kamu, bener opo ga berdasar etika makrokosmos kebudayaan,  kalau dilihat frame yang pendek,  bisa saja benar,  tapi kalau dilihat frame yang panjang, bisa saja asumsi kamu yang benar". Tiba2 di depan kami berdua, lewat gadis dengan rok mini,  broedin melotot tak lepas kemana gadis itu berjalan.  Opo asumsimu dien nek ngono?. " ojo main asumsi bro nek ngono,  iki rejeki,,, haahaaa". Rejeki ndasmu dien,  tak keplak kepalanya,,,,

Buat anak2 perempuanku,  berpakaian agak nutup ya, ga ada jaminan kalau kalian ketemu broedin van klompen,  matanya melotot seperti lihat duit seratus ribuan,  kalian pasti jijik dilihatin begitu,  jangan salahkan dia,  karena dia lagi berasumsi tentang pakaianmu bukan bagian tubuhmu,,,, 😀😀😀😀

Jumat, 23 Desember 2016

Mengukur waktu(re-intro)


Saya ini paling sentimental dengan hal yang berbau perpisahan,  seolah hidup sekejap berhenti saat sahabat,  orang terkasih,  tiba2 meninggalkan kita,  bisa nangis bombay. Bukan karena tidak bisa ketemu lagi,  namun kenangan yang tersisa membuat semuanya begitu Indah,  yup keindahan itu yang bisa menitikkan air mata.  Namun anehnya saat melihat kematian berpisahnya ruh dan raga, tidak lantas saya menangis.  Buat saya kematian adalah jalan kembali pulang,  welcome home,  kegembiraan seharusnya.

Nahhh,, dalam kehidupan inilah saya terlalu sering melihat "kematian" kecil. Ada yang rautnya cantik dan tampan,  sehingga kemana2 itu yang d banggakan,  bagi saya kematian. Demikian halnya kepintaran yang di nomor satukan, kelimpahan waktu yang disediakan Tuhan pun bisa jadi pertanda kematian itu sendiri.  Susahnya,  anak2 muda, tampan, cantik, pintar, mereka menjemput kematiannya sendiri dengan tidak bisa mengukur waktu saat ini. Yang mereka bayangkan adalah masa depan dengan segala asesorisnya menjadi ini itu, punya ini itu yang dianggap parameter sukses. Sahabat saya Broedin kadang terkekeh melihat fenomena ini sambil tidak lupa misuh jancuuuuuk. Sengaja "u" nya dipanjangkan untuk penekanan.

Dia bilang,  ini adalah hasil pendidikan kolonial yang telah jadi DNA di dalam darah anak cucu kita. "Mas bro, inilah hasil nya,  kolonial sengaja dari dulu merekonstruksi bangsa ini dengan mindset kultur hedonis materialistis yang dibungkus modernitas kekinian",katanya.  Byuhhhh, kata2 nya dapat darimana,  maksudnya piye to Dien,  ente arudam ko iso ngomong opo tadi yang ada nis2 nya.  " hedonis mas bro". Sejenis lopis yo Dien kui?. "Lopis ndasmu mas bro,,, iki sudah darurat,  peyan jek guyon ae". Lahhhh,,,, saya nyerggah. " gini mas bro,  anak muda sekarang menjemput masa depan dengan harapan jadi ini itu,  pengen cepet sukses dari sisi materi,  duit, fulus dsb dengan penekanan,  bahwa urip ya harus begini,  opo gak nelangsa,  wong itu sudah settingan penjajah ratusan tahun yang lalu,  dan mereka tahu dengan kekayaan alam negeri bernama indonesia yang melimpah gak ingin anak cucunya kelak kuat,  hingga racuni dengan gaya hidup hedonis,  beri mereka gula sampai mereka letoy kena diabetes,  saat itu terjadi,  mereka mulai bergerak pasti dan kuasai , inilah hasil yang kita dapat dari sekolah feodal,  opo ga njanjuki mas bro" berapi2 broedin seperti lagi kampanye sambil mulutnya berbusa.

Terus opo yang harus kita lakukan dien? "Nahhh ini pertanyaan Bagus,  makanya mas bro,  ente jangan keenakan bertapa di jalan sunyi,  mudun gunung,  lihat anak2 muda yang gelagapan dibanjiri arus modernitas, lihat anak muda yang merasa madesu alias masa depan suram karena tidak bisa ikut arus gaya hedonis". Loh ko aku,, hubungane opo sama saya. " lah ente kan sebagai abdullah,  punya kewajiban,  terangkan sama nak kanak children,  kalau hidup tidak diukur dari waktu esok,  tapi kini,  mosok ga tau mas bro,  di bukune Eckhart Tolle,  the power of now sudah di sebutkan". Saya jingkat kurang ajar arek iki,  buku psikologi seberat itu dia lalap koyo moco komik,  minder saya dihadapannya. Terus aku kudu ngopo dien,  lah ente sudah tau kenapa bukan ente?.

"Arek muda sekarang ini mas bro, lebih menyukai hal yang instan,  pengen sugih instan, iso entuk bojo Ayu instan,  nek iso budal nang mekkah bolak balik,  mbok pikir donya iki duweke mbahe opo,  mereka tidak menyukai proses,  hal yang diselipkan oleh produk penjajahan,  terus kita harus lapo?  Mbuh mas bro aku yo ngelu ndelok arek sakiki"
Saya tertegun lihat sahabat saya masygul,  anak2 muda yang menyambut kematiannya sendiri,  mengukur waktu dengan hal yang tak berkualitas, hanya berkutat dari keinginan yang tiada habisnya,  lantas ini salah siapa?.

Jumat, 16 Desember 2016

Sudah kuduga

Saya lagi demen nyimak quotes yang sering di bagikan oleh temen saya yang bernama Broedin van Klompen,sahabat saya yang menjabat jukir di bilangan kembang jepun,  jangan tanya,  meskipun jukir isi share wa nya sufistis.  Tutur katanya lembut dengan logat MA( madura asli,  atau GM- genuin of madura)  nya yang medok.

Misal,  pagi sekali sudah terpampang di beranda wa saya : urip mung mampir ngombe,  ojo dumeh, ojo adigang adigung,,, dsb,,, dsb.  Atau lain kali pake bahasa madura : kenca-kenca,  palotan-palotan,  dimin kanca,  satiya dedi taretan( dulu temen sekarang jadi saudara).  Saya biasanya langsung Kasih jempol empat. Dan kadang bikin status yang sedikit nyerempet undang2 TEI,  dia bilang,  kalau madura bisa jadi propinsi,  Surabaya akan kehilangan potensi ekonominya,  dan akan sangat tergantung dengan propinsi baru tsb.

Saat saya tanya kebenarannya dengan terkekeh dia bilang : pean masak ga tau mas bro ( niru gurpan kalau manggil nama saya pasti pake bro(Ken wing)  entah dari mana tau itu) kalau jukir yang kebanyakan dari madura hijrah pulang kampung,  sampeyan mau nanggung rumitnya ngatur parkir setelah saya tinggal? Saya manggut2 ga ngerti,  opo hubungannya dengan kehilangan potensi ekonomi.  Tapi bukan broedin van klompen kalau ga bisa menjelaskan.

Dia bicara mikro ekonomi, dan non formal ekonomi yang di garis grass root ( pening pala awak,  istilah gitu tau dari mana dia) kebanyakan di kerjakan saudara sekampung,  kolega, istri yang di bko ( bawah kendali operasi) untuk bantu suaminya,  mulai jualan makanan kaki lima yang menyediakan makan siang pegawai kantor toko hingga jualan pulsa.  Sepele tapi penting,  saya sudah merasakan bagaimana saat hari Raya madura aluas idhul adha,  alias toron,  Surabaya sunyi senyap,  kelabakan cari makan siang.

" dien ente bisa analisa,  bisa share gitu copas dari mana? "Saya coba pancing. Mas bro ki menghina,  neh bacaan saya,  saya lihat dari majalah bekas,  kadang ada kutipan tentang hidup seperti yang sering di bagikan di wa,  malah dia lagi suka baca jurnal review ekonomi jatim dari majalah entah tahun berapa wong sudah bekas,  namun analisanya tajam. Saya kadang menduga,  dia sebenarnya malaikat yang lagi nyamar,  atau setidaknya intel lagi tugas,,,, (yaaa gak dien heee,,,,) . Namanya juga nanya din,  kan aku juga sering dikirimin sama temen kamu,  kang jarkoni hal yang sama.

Jangan percaya sama temen itu mas bro." loh memang kenapa dien? ". Setengah menggerutu dia bilang,  orang itu yaa mas broken wing,  yang dipercaya bukan lisannya saja,  tapi perbuatannya,  logikanya,  perbuatan berimbas ke lisan.  "Lahhh kan itu saudaramu sendiri dien? ". Iyaa,,, tapi sudah dingetin bolak balik ga mempan yaa sudah biarkan. " masalahnya opo to,,,? ". Gini mas bro,  broedin mulai serius,  status wa nya yang di share memang Bagus2, seperti dia sering Kasih status manfaat shalat malam,  bahkan subuh berjamaah,  saya tau maksudnya nyindir aku itu mas,  wong gara2 saya nonton final bola indo-thailand, sampe karipan, ehh dia kirim status di wa.

" terus kamu marah? ". Ya iyya lah wong dia kirim status gitu juga ga pernah subuhan apalagi yang lain,  jangan percaya sama dia,  namanya juga jarkoni,  iso ujar ga bisa ngelakoni.  Ohhhh,,,, saya menahan geli,,,dan satu lagi mas bro,,, dinegri ini banyak yang semacam itu,  jarkoni2 yang lain.  Husshh omonganmu mulai nyerempet dien."indonesia ini negara kaya,  gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerta Raharjo". Lah yang ngomong indonesia kui sopi mas brooooo,,,,.  " lah kamu barusan". Saya bilang "negeri ini",  bukan indonesia. Apa bedane dien,, saya mulai kuatir dia kumat. Indonesia mah "negeri itu", jelasss kan,,,, tiba2 jadi logat kekinian. Ahhh dien pikiranmu itu loh saya ga nyandhak alias ga nyampe,,, mbuh dien karepmu. Klunting,,,, tiba2 ada status masuk berbarengan,  setelah kami lihat,  ternyata dari jarkoni : ngerasani aku yo mas,,,,, hahaha,,,, kami tertawa dan misuh bareng,,,, jancuuuuk. 😁😁😂😂

Rabu, 14 Desember 2016

Corner time with gurpan

Gurpan tiba2 tanpa babibu muncul dari belakang terus nabokin saya,,, plak plak,, sambil menangis. Saya tergagap hanya bengong karena baru kali ini saya melihatnya menangis. "Broken wing,  ente egois banget seh,  kamu tutup jendela dengan korden tebal,  kamu biarkan Wangi bunga,  udara pagi masuk paru-parumu,  kamu biarkan rumah dan ventilasimu tertutup,  karena kamu asyik masyuk"

Saya bingung juga maksudnya apa, sebingung kenapa menangis histeris. Namun seketika diam dan terkekeh setelah datang secangkir teh hangat dan kacang rebus kesukaannya. Enak juga ya pagi gini ada teh sama kacang, katanya sambil nyeruput teh nasgithel. "Lah ente ngapain juga nangis barusan,  sekarang malah ketawa ketiwi". Ohhh itu kan akting doang broken wing,  hidupku kan harus berwarna, pengen ngerasain gimana seh menghayati kesusahan.  "Semprul,  gurpan nyindir neh? ". Dia hanya terkekeh terus nyahut : kamu lihat pagi begini dari dalam rumahmu pemandangan di luar begitu Indah,  diantara embun dan kabut yang menyatu,  ada goresan warna dari bunga depan rumah,  masa kamu masih tidak percaya ini realita. Saya terkejut,  karena memang Indah dan baru kali ini melihatnya mirip gambar yang ada di mbah google.

"Broken wing, inilah hidup,  lihat di balik keindahan lanskap kecil,  ada sebuah kesadaran yang menciptakannya, ada banyak hal yang bisa kamu jelajahi selain jalan sunyi,  sekali kali terbanglah dengan sayap patahmu,  meskipun grathul2 awalnya susah,  tapi saat kamu naik,  ada pemandangan yang luar biasa". Saya hanya manggut2 tanda tak mengerti. " dulu kamu pernah tanya kan,  dimana ujung jalan sunyi". Yup gurpan ente bilang di wc,  hanya sampai sekarang masih belum ngerti kenapa harus wc?. 

Gurpan tertawa tetbahak kemudian batuk,,, haaahaaa,,,, uhuk,,, uhghh.  " broken wing,  bukankah wc lambang dari semua pelepasan kotoran, setelah lewat mulut Wangi,  enak,  kenapa disana jadi bau dan kotor? Saya menggeleng tak mengerti . "Jangan sepelekan,  selepas BAB,  pipis,  kamu ngerasa enteng kan,  begitulah saat tiba di ujung jalan sunyi,  dirimu harus melepas beban supaya hidupmu enteng,  saat kamu merasa enteng,  kamu masuk sebuah situasi dimana dirimu merasa kecil dan terus mengecil,  hingga hilang entitasmu,  saat dirimu terus mengecil hingga sebesar atom,,,, maka cliiiing,,,, kamu menghilang,, dan kamu jadi bagian makrokosmos yang tetamat besar".

Saya hanya bisa bengong dengan omongan gurpan yang nyerocos sambil sekali kali kulit kacang ikut di kunyah.  Terus kesimpulannya opo gur?. " yeaaahhhh,,, ente gebleg amat,  rugi aku tadi ngomong ngalor ngidul,  ternyata kamu ga gal paham,  yaudah nikmati aja pemandangan,  buka jendela kamarmu lebar-lebar,  disana inti hidup bisa kamu pahami secara sederhana". Hmmm,,,,

Selasa, 13 Desember 2016

kesadaran tentang diri


Pulang kerja saya langsung di berondong pertanyaan sulit sama anak mertua  yaah,,apa yang dimaksud kesadaran diri. Bingung dengan maksud tersebut saya tanya bagaimana bisa dapat pertanyaan begitu. Ujung-ujungnya adalah lihat pengajiannya emha tentang kesadaran yang dipinjamkan untuk menyadari keberadaan manusia dan asal usulnya bagaimana kesadaran ini mengakibatkan perubahan tentang bagaimana entitas bernama manusia dan akan kemana. Ah,,,ini mirip nostalgia saat saya menelusuri jalan sunyi beberapa tahun yang lalu setelah keputus asaan tentang pencarian makna hidup. persis dengan sahabat saya setelah ditinggal pergi oleh kekasihnya bagaimana menahan rindu terhadapnya sampai hingga suatu malam di atas keperihan dia bertanya pada diri sendiri : begini rasanya merindukan manusia, bagaimana pedihnya saat saya merindukan penciptanya.

Dan,,,cliiing,,,sahabat saya ini seperti memperoleh pencerahan dan mulailah perjalanan spiritualitasnya hingga bertemu dengan saya. Bedanya sahabat saya benar-benar menempuh jalan sunyi, menjauh dari materi, sedang saya menjauh dari persepsi tentang materi itu sendiri, dan ketemunya juga kebetulah sama-sama rehat dari pekerjaan yang sama. Nahhh,,,kembali dari pertanyaan dasri anak mertua, saya ditunjukkan orasinya cak Nun,,,dan saya tersenyum sendiri, bagaiamana beliau menjelaskan materi, manusia dari sisi fisika kuantum, yang berujung materi adalah gelombang, dan semesta seisinya adalah resinansi (fayakun) dari sebab utama (kun). Jadi,,,bintang, matahari tercipta atas resonansi kun jadi fayakun, artinya kita tercipta dari zat yang sama dan berujung dari zat yang paling awal. Belum lagi  peneliti fisika mengatakan bahwa seluruh penciptaan semesta ini diawalai oleh sebuah kesadaran, bukan dengan sebuah kebetulan. Sehingga jika manusia sebagai entitas memiliki kesadaran tentang dirinya, pertanyaannya darimana kesadaran itu berasal.

Maka mengalirlsah cerita tentang proses kesadaran ini yang menurut cak Nun adalah resonansi dari kesadaran yang paling Utama dan saya meterjemahkannya adalah proses dari : tiada - mengada - meniada. Jadi untuk mengetahui sumber kesadaran itu sendiri, yang harus di maknai adalah manusia harus merasa kecilo di tengah makro kosmos ciptaan Tuhan, kesadaran manusia kecil dan akan makin mengecil sampai sebesar atom dan pada saat itu maka entitas bernama broken wing, manusia akan lenyap mengalir dan berputar bersama makro kosmos lainnya. Pada saast itu kesadaran manusia tentang ruang dan waktu lenyap semua bertasbih mengelilingi dan tawaf mirip perputaran semesta.

Tumben2 nya nyonya ngasih pertanyaan seberat itu membuat mata ini berkaca-kaca karena senyumnya mirip Adinda, anak semata wayang saya, dan saya bilang sejak lama pengen ketemu nabi Khidir yang konon tidak wafat sampai kiamat mau nanya aja gimana kabar Adinda disana, kalau boleh nanti pas kita bertamu ke rumahNya, tolong ajak dia, bukankah beliau bisa menafikan ruang dan waktu,,,,ahhhh tiba-tiba kami berkaca membayangkan andai keajaiban itu bisa terjadi, entah ini sebuah kesadaran atau lamunan yang jelas sama-sama indahnya.

Jumat, 11 November 2016

Kesuksesan

Ini saya copas dari "jendela" yang saya kagumi karena kejernihannya melihat kehidupan,  Gede Prama

Ini bahan renungan tentang kesuksesan

Tatkala muda, sukses berarti mendapatkan sesuatu sehingga terlihat lebih dibandingkan orang lain. Maklum, masih muda. Utk diwaspadai sejak awal, sukses spt ini berumur pendek, bisa membuat seseorang terasing dlm tubuh sendiri, sebagian bahkan roboh. Begitu bertumbuh dewasa, sukses adl menemukan kebahagiaan melihat orang2 yg dicintai bahagia. Anak2 sekolah di tempat yg indah, pasangan hidup bahagia bertumbuh bersama kita, bisa merawat orang tua di umur tua. Dan begitu dekat dg rumah jiwa, sukses adl serangkaian rasa berkecukupan yg sangat mendalam. Jika di awal sukses dicari krn ada rasa lapar mendalam di dalam, di tingkatan ini sukses adl menemukan kembali rasa berkecukupan yg sdh ada sejak awal di dalam. Sesampai di sini, doanya cuma satu: "terimakasih".. bellofpeace.org

Senin, 07 November 2016

Intermesosmed

Ditengah2 mendung yang makin pekat, Broedin van Klompen, sahabat saya tiba-tibs dateng ngamuk sambil ngancam saya mau di adukan sama nabi khidir agar hidung saya dimampetin dua- duanya biar ga bisa nafas dan nafasnya lewat mulut megap2 koyo iwak teri.

" wing ente tu sudah mulai kurang ajar ya,mentang2 sekarang sudah jadi orang"
" opomaneh diiin,klo ga orang opo aku iki urang?"
"Ente ngomong opo sama malaikat jibril,sama nabi khidir sampe saya disuruh negur ente wing"
" haahh kapan aku ketemu beliau diinn,kubam (mabuk) ente din"
" tadi malem dalam mimpi beliau berdua dateng terus bilang diin ingetin sohib ente broken wing,  ko ga bosen jadi orang?jadi mentang2 sudh jadi orang ente gitu ya sekarang?"

"Oalahhhh iku to diin,sek saya nanya: kamu itu orang bukan?"
"Sebelum lahir aku tak bernama,entitas yang berupa ruh,setelah lahir ke dunia,entitasku berubah jadi manusia,orang"
"Terus tugasmu sebagai orang didunia iki opo?" broedin celingukan
"Jare kyaiku wing,,liya'budun" hahahaaa,,,gantian aku tertawa,broedinn gantian bengong.

" kemelipen diinnn wong kamu baru tingkatan orang, arep naik pangkat jadi abdullah ae grewelannnn"
"Lahhh maksud sampeyan opo?"
"Ente bisa jadi abdullah alias hamba Tuhan jika seluruh hidup,matimu ditujukan padaNya,wong ente parkir sepi ae sek misuh-misuh jancuk2, sing mbok pisuhi iku sopo tuhan diinn"

" husss ojo banter2 wing aku sebagai muslim kadang khilaf gapapa"
" hahaha,,,ente abdulah durung lulus ae ko meng-klaim diri muslim, nek wes muslim iku din jare kyaimu,jangankan hidup matimu buat Tuhan,seluruh sel,rambut atas bawah,keringetmu bahkan nasib saudaramu yang terpapar penderitaan kamu ga bs diem, koen sanggup tah ndelok dulurmu koyo suku anak dalam terusir dari tanahnya, koen iso opo?"

tiba2 broedin terdiam dan menangis
" kesanggupanku sek dadi orang wing, bener ente,ndelok semua itu isoku hanya mengadu marang gusti ingkang maringi gesang,aku mungkin malah ga pantas jadi entitas bernama manusia,jadi orang, pantesku cuma jadi kotoran,debu" makin keras tangis brodin
" broken wing,andai ada yang bisa aku lakukan kecuali menangis apapun akan aku lakukan"

"Sejak kapan kamu seenaknya ganti jenengku din,kono wadulo nang nabi khidir?"
"Sudah broken wing, aku cuma dikongkon belajar dadi wong,orang yang bener bener orang,piye carane ?"
" mbuhh din aku yo sek bingung opo aku iki wong opo gak"broedin pun mengangguk2 sesenggukan, tiba2 dhuarrr petir menyambar menggelegar
" jancuukkk" kami pun misuh bareng2 trs saling menoleh,dan tertawa " awake dewe pancen durung lulus dadi orang wing"

Sabtu, 22 Oktober 2016

Anak kita adalah cahaya

Anak kita dilahirkan sebagai cahaya, tugasnya menuntun kita kembali di jalan-jalan cahaya, anak kita bukan milik kita,  kita sebenarnya milik mereka

Anak kita sebenarnya cahaya, kita dikenalkannya dengan ketulusan namun kita mengabaikannya dengan mengenalkannya keserakahan

Anak kita adalah cahaya, dikenalkannya kita berbagai keindahan, kenaifan dan spontanitas,  namun kita mengenalkannya berbagai prasangka

Anak kita sejujurnya adalah cahaya, dikenalkannya kita spiritualitas, namun kita mengenalkannya berbagai macam benda, hingga hilang keasliannya

Anak kita adalah cahaya, dan kita menjadikannya berbagai macam cara seolah ini mainan milik kita dan tiba2 kita merasa memilikinya

Saat Tuhan mengambilnya kembali, kita tersadar kehilangan adalah sebuah cara untuk memahami keabadian itu ada, kefanaan adalah sementara

Selasa, 18 Oktober 2016

Lekang

lekang
seperti menguntai mimpi dengan sekali tiupan
ia mencari kemana sebenarnya hidup berkehendak
dijemari yang rindu akan kebaikan ia berwujud doa
dikaki penari ia menjelma menjadi ritme spiritual
ditangan pendosa ia menjelma jadi air mata sesal
ditengah sunyi ia menjadi raja keabadian
jadi,,,
ketika senyum tak lagi bisa menyejukkan
hanya ada satu yang akan men-sirna nya
Ia

Sabtu, 15 Oktober 2016

Nine to eleven

Larut ketika malam bersiap dengan sepenggal pengalaman yang menyita tenaga setelah siangnya bergelut dengan semua makalah dan resume, bicara tentang strategi, berakhir dengan seberapa dalam seseorang diukur kesungguhannya kalau bukan dengan kejujuran.

Banyak yang telah lama menghadapi medan pertempuran kehidupan kehilangan pegangan dan keyakinan untuk apa pertempuran ini? prajurit yang terseok kehilangan motivasi, kehilangan gairah untuk menyongsong esok dengan gelegar pertempuran yang lebih besar karena mereka sibuk bertempur dengan diri sendiri.

Prajurit muda yang semestinya masih punya idealisme namun tanggal di tengah laju jaman yang menafikan kejujuran dan ketangguhan, mereka lah yang kalah sebelum berperang akan teronggok di sudut hidup jadi sampah peradaban sembari bertanya apa yang salah

Dunia adakah milik mereka yang sabar, bukan serakah,  dunia adalah milik orang yang ikhlas bukan yang loba. Dunia mirip dengan pohon, bergerak dalam diam, mirip dengan air mewakili kelenturan dan mengalir. Dunia juga lebih menyukai kelembutan evolusi, bukan kecepatan revolusi. Dunia memilih keseimbangan dikotomi bukan bandul yang berat sebelah.

Andai mereka ada, dimanakah tempatnya sekarang. Mereka sedang bergerak dalam diam, berkarya tanpa pengakuan, berjibaku untuk kebaikan dan keindahan.  Menyusuri ikhlas demi sebuah tugas mulia yaitu penghambaan padaNya, pendar cahayaNya hingga kelak mereka meniada

Minggu, 09 Oktober 2016

Cinta pada segenggam doa

Kita mungkin berjarak dalam dimensi ruang waktu

Kita mungkin pernah meyakini ada tali imaginer yang senantiasa mengikat

Kita mungkin pernah menangisi dan menertawai hal yang sama

Dan tiap detik yang kita lewati bahkan ribuan yang akan kita lewati tak berarti apa-apa jika tiap jejaknya menuliskan kalimat rindu belaka

Tiap tangis yang selalu saja mengalir hanya fragmen kegembiraan, bukan kesedihan sebab saat itu kita sedang bicara dalam bahasa diam

Bukankah di aliran ritmis yang selalu menguntai di setiap genggaman tasbih bermakna doa untukmu dan pada saat yang sama tanganmu menengadah meminta Cinta hanya satu kekuatan yang harus senantiasa terjaga

Adinda sayangku,,, kehidupan dunia teramat singkat untuk diabaikan dengan meratapi kepedihan dan dibuat berlalu tanpa menanam jejak kebaikan

Tak ada alasan bukan, jika tempatmu adalah yang terbaik di surga, untuk mencapainya dari sini juga berada di jalan-jalan kebaikan (dirimu berbisik: jalan itu sunyi ayah, tak semua mau dan sanggup melaluinya)

Yaa,, yaaa,, namun andai melalui kebaikan tak bermakna kenyamanan dan kehidupan tak selinier logika bahkan kadang menyisakan sesak di dada,ayah tetap disana

Apapun itu jika bermakna Cinta, uhmmm,,, ayah dan mama tetap akan menggenggamnya dalam doa mirip rinai hujan sayang,,,biarkan itu membasahi langit,,,
(ahh..kenapa dirimu tersenyum begitu)

#sore di sudut kota saat hujan basahi tanahMu dalam eksotika cinta

Minggu, 25 September 2016

Another time

Kudekap waktu hanya buat menuliskan kisah perjalanan,tentang daun jatuh,embun yang memudar, hujan yang berdenting,semua terhirup dalam nafas dan lena

Bukankah semua kisah pasti ada akhir,seperti perjalanan harus ada henti?namun hidup mengharuskan cerita hanya punya jeda,sisanya : cinta

Jadi,bila diujung jalan langkah berhenti,biar kelokan waktu membawamu merunut kemana akan pergi,mungkin ketika matahari tertambat di ufuk

Seraya pandangi langit yg memerah dengan menghitung satu persatu burung yang pulang, mirip aku,katamu,tiba-tiba teringat perjalanan awalnya,di titik nadir

Apapun itu ,semua punya rasa bahagia
meskipun agak tersembunyi dibalik tangis
kelak kita baru tahu sebuah perjalanan
mirip denting seruling, indah dan indah


Sabtu, 24 September 2016

Love will keep us a life

Hidup bukanlah rutinitas pagi menemui pagi dan kita meneruskan hari dengan cara yang sama

Bukan pula menghitungi bintang dengan cara bandingkannya cahaya mana yang paling terang sembari berpelukan seolah hanya dengan begitu dingin menjadi romantisme,,,, diam

Bahkan lain kali kita berdebat ditengah panas kemacetan siapa yang merasa kentut duluan untuk tidak ada yang saling mengakui

Atau kamu pernah saling marah hanya karena kecerewetanku dirimu lupa kunci rumah dengan kran masih menyala

Lain kali dirimu mengeluh romantisku hilang, hanya karena kejutan kecil yang selama ini membuatmu terperangah sambil menangis bombai (jujur menyesal juga kenapa hal kecil ini namun teramat berarti, aku sering lupakan)

Apapun itu, kita masih terus melangkah bukan,  dengan senyum yang berkembang,  entahlah usia mature-ku rasanya terlambat mengerti, betapa sayangmu melebihi asa dan rindu yang kadang kau bisikkan saat tidur lelapku

Aku hanya ingin bilang : love will keep us a life,,,,,
"Cinta akan membuat kita tetap hidup"
#piping's HBD

Kamis, 22 September 2016

Titik itu

Bagi saya, setiap fragment hidup mirip titik-titik yang berjajar banyak dan berwarna warni,  bukan tugas kita untuk menariknya jadi garis panjang.  berwarna warni karena begitulah hidup, ada tutik hitam, putih, abu-abu, merah, hijau biru. Semua punya nuansanya sendiri dan telah lama saya belajar untuk tidak menghakimi setiap warna,  sebab ia mewakili jejak yang membentuk diri ini sekarang.

Mirip seperti kompos yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tertentu jadi pupuk.  Begitulah saya belajar memahami hidup.  Banyak hal dimasa lalu terjebak jadi sampah hidup, namun waktu memberi kesempatan belajar untuk mengolah semuanya jadi kompos meskipun harus tertatih. Inilah indahnya, bukan terletak pada hasil akhir namun proses.

Saya juga telah lama belajar mengelola rasa sakit menjadi imunitas yang berguna buat sesama.  Mirip dengan sistem "biofloc" dimana semua rasa sakit harus di dispersikan ke atas kemudian di kelola untuk jadi "enzim" yang berguna buat "ekosistem".

Dengan begitulah saya belajar tentang hidup,  teramat beruntung lingkup pekerjaan yang dilakukan banyak berhubungan dengan alam,  karena dari sana alam mengajari saya kemana arah hidup harus dituju.  Dalam bahasa lain,  ia berkata : belajarlah meniada, karena tingkatan tertinggi maqom manusia ada disana

Rabu, 21 September 2016

Re-intro(ketika daun itu bersedih)

Sore ketika maghrib tiba saya sedang dalam perjalanan ketika sebuah pesan pendek masuk dari nomor yang tak dikenal ,isinya secara ringkas dia keberatan dengan tulisan, status yang terpampang di sosmed yang saya miliki, utamanya di twitter, facebook. Alasannya dua hal 1. Sahabat saya( saya menyebut begitu untuk orang yang saya kenal maupun tidak) merasa dirugikan dengan tulisan itu baik secara fisik dan mental karena akan membangun opini yang menyudutkan dia akhirnya,  2. Sahabat saya ini merasa apapun tulisan yang dibuat merupakan pencitraan diri yang sebenarnya tidak bersih-bersih amat alias secara tak langsung menggolongkan diri saya sebagai munafikun.

Apakah saya marah? bukan marah hanya geli, karena apapun tulisan itu tidak menyudutkan orang tertentu, menyindir satire iya, tapi dimaksudkan kepada diri sendiri atau yang merasa kesindir.  Setelah sekian tahun menjadi blogger (istilah yang disematkan sahabat lain)  baru kali ini ada sahabat yang merasa setiap aksara dan kalimat yang saya tulis meruntuhkan integritasnya.  Saya tidak terkejut karena tetap akan saya hargai opini demikian sebagai pemberi warna di kanvas ini.

Sejujurnya, menulis sudah saya lakukan saat masih sekolah dasar, tulisan pendek di buku harian berupa puisi yang kemudian di SMP sedikit berkembang esai pendek,  berlanjut di SMA yang kemudian menemukan wadah waktu kuliah.  Tidak ada hal yang mengasyikkan kecuali jurnalistik sehingga merasa ini panggilan hidup. Meskipun akhirnya tidak jadi kesana malah kesasar di tempat yang memang saya sukai juga,  kegiatan menulis masih tetap saya lakukan hingga kini. Jadi ketika ada sahabat keberatan dengan status dan tulisan saya di sosmed sedih rasanya.

Akhirnya meskipun berat saya ingin agar sahabat saya melupakan kepedihan akibat efek dari tulisan itu maka mulai esok untuk sementara waktu saya vakum dari status di twitter, facebok, WA (akan saya batasi)  kecuali lingkup pekerjaan.  Anggap saja ini sebuah re- intro untuk sebuah kedalaman,  mungkin ini yang terbaik.  Saya sisakan satu,  blog ini karena mirip rumah kedua. Entahlah dalam perspektif lebih vulgar, jika teman saya menemukan kebahagiaan atas kesakitan yang saya alami, saya bersedia melakukannya.  Jika merasa ini adalah sebuah bentuk kepasrahan alias menyerah, saya menyebutnya : waktunya jadi kepompong setelah lama jadi ulat 😀😀

Senin, 19 September 2016

TamuKu

Tamu Allah
Selamat datang dirumahKu, engkau bersedia jauh jauh mendatangi undanganKu kalau bukan karena rahman rahim terus apa lagi? seyakinnya engkau tiba di rumah sejati bukan karena sebuah panggilan status atau gengsi yang hanya merupakan remah kecil bagian kehidupan.

Sungguh kedatanganmu ke rumahKu membuat Aku dan khadamKu tergopoh gopoh untuk memuliakanmu sehingga karena takut tidak bisa menghormatimu, ada pernak pernik kecil kekurangan, sedikit percikan api, sesuatu jatuh sehingga melukaimu, sampaikan permohonan maafKu, karena sungguh Aku teramat menghargai pengorbananmu hanya untuk menjadi tamuKu, sebuah penghormatan bagiKu, bukti cinta darimu.

Tak dapat dipungkiri, tak semua niat, tendensi dan kecenderungan bisa istiqamah, Aku pahami itu seperti tak semua mata batin terjaga seperti mata wadag, sehingga ada sebagian yang lain begitu memuja, mencoba memahami bagian dari rumahKu dengan mata lahir, dengan melihat kemegahan, dan mengabadikannya. Semoga itu tidak mengurangi secuilpun niat mu bertemu Aku.

Selamat datang dirumahKu, selamat datang dirumah sejatimu, sebaik baik kembali adalah berserah diri dengan niat yang suci dan fitri

Senin, 12 September 2016

Episode cinta piping's

Sejauh waktu kita memandang bukankah ada jejak yang terkadang kita harus menitikkan air mata,dan menyakitkan bukan, saat satu persatu daun meluruh, orang bilang musim gugur tiba dan kita menyebutnya episode cinta yang luruh.

Dan hari ini kita tersenyum betapa dulu kita salah tingkah dengan air mata yang mirip embun namun keluar dari kelopak mata. Seolah hidup memberi pelajaran, kerasnya hati hanya bisa dilembutkan dengan air mata. Kita menyebutnya episode cinta penuh kelembutan.

Lantas setelah mendaki terjalnya problema, dan meluncur dari lembah bernama bahagia, naik lagi, turun lagi, kita mendapati diri ini kesasar di sebuah tempat yang tak tahu dimana.  Kita menyeringai menahan tawa. Bukan karena lucu, tapi sejauh berjalan selalu kembali di tempat yang sama: sunyi.  Dan dengan gagah kita menyebutnya episode Cinta tak bernama.

Jadi, langkah yang meninggalkan tapak dulu memerihkan kaki,  hari ini hanya senyum belaka, dan kita memeluknya,  merangkainya, menjadi kolase berbagai warna. Kita pajang itu dilangit sore saat senja memerah tersaput mendung mirip jelaga, dan bagai kanvas raksasa kita memandang sambil menggenggam tangan ini dengan penuh takjub. Kita menyebutnya episode Cinta picisan.

Yaa,,ya,, cinta picisan karena dibalik senja yang hampir gelap, mirip cerita film romantis korea, aku bisikkan: i love u, dengan lembut dirimu bisikkan juga: bau pete,,
(bau pete kenapa juga doyan saat cium bibirmu)

#met ultah piping tersayang, hidup bukankah lebih merona jika ada sedikit kepaitan disana, mirip kesukaanmu capuchino tanpa gula; 😘😘

Sabtu, 03 September 2016

Rinai(air mata yang hilang)

Saya hanya menatap nanar saat malaikat maut menjemput satu satu cinta yg kupunya,seolah mengambilnya dengan sekali tegukan,dan ini jejak apa?

Mirip kenangan dalam pelarian,kita menggapainya dgn sebutan yg tak akan makin dimengerti,karena apapun bernama jarak,waktu membiusnya

Dan makna rindu pun hanya remah pasir yg akan luruh namun jejaknya terpatri di kedalaman hati,saya menyebutnya lena

Namun mirip cerita yang ada happy ending,itu semua harus ada ujung bukan,dan aneh kepedihan menurutmu happy ending,bagian terbaiknya adalah:

"tertawa namun tak bisa pungkiri air mata akhirnya luluh jg bersama2",seolah saat diam ada bisikkan:love can't be understood by mere laughter

Its about,,,

Kutemui dirimu dalam derit waktu,sengaja alurnya mirip kelok yg kita punya, kebetulan?inilah hidup,skenario hanya bagian tersisa,selebihnya anomali bicara

Kita membuncah mimpi dan membiarkannya terbawa angin dengan
harapan suatu saat menemui damainya sendiri

Dan pada tengah malam kita bertanya,kebodohan apalagi yg telah kita buat?jawabannya hanya tertawa terbahak hingga bintang beringsut terganggu

Hingga tatkala subuh hampir tiba,pertanyaan yg tak pernah terjawab adalah siapa kita sebenarnya?kadang kita merasa mirip awan,hujan,bahkan kupu2

Tatkala pagi menyambar,teganya kita merasa seperti embun yang terbuang di daun kering dan kita menyesali rasa nasib ini dengan menyeringai

Senin, 29 Agustus 2016

Angan ingin angin

Angan Ingin dan Angin
Doa bukanlah harus sebentuk pinta ia juga bisa wujud rasa syukur atau kesakitan terhadap ketidak adilan di sekeliling kita

Doa juga bukan tempat tawar menawar dgn Tuhan, namun bisa jadi tempat kita mengeluhkan menangiskan semua perlakuan atau keruwetan yg kita hadapi sehari2

Doa bisa jadi tempat  meletakkan keinginan yang telah lama ada dalam angan dan biarkan ia menjadi angin siapa tau akan sampai ke langit dan malaikat menjadi sejuk karenanya dan dgn sukarela menyampaikan harapan kita padaNya

Doa bisa jadi spt rinai hujan ketika terus menerus dilakukan ia akan membasahi langit, mudah2an karena itu Tuhan berkenan mengabulkan keinginan kita

Tuhan(bukan spt yang kamu pikirkan)

Kamu merasa Tuhan meninggalkanmu, jangan2 kamu menjauhiNya

Kamu merasa Tuhan memberi musibah tanpa henti jangan2  kamu salah mengerti makna musibah dan ujian

kamu merasa tiap doa Tuhan jarang mengabulkannya, jangan2  Dia memberi tenggat sampai kamu siap menerimanya

Kamu merasa sulit mendapat kemudahan rizki dariNya jangan2 telah lama ucap syukur hilang darimu

Kamu merasakan kesepian luar biasa, jangan2 kamu telah lama tak mengetuk pintuNya
(Tuhan itu bukan  spt apa yg kamu pikirkan)

Minggu, 28 Agustus 2016

"Selamat jalan prof"

Pagi tadi saya terima kabar duka, profesor pembimbing skripsi saya di Brawijaya berpulang. Beliau seorang ahli genetika yang mumpuni di bidangnya. Beruntung sempat dibawah bimbingannya dulu,yang mengotak-atik proses pembuahan untuk memperoleh galur murni. Banyak kenangan saya saat di bimbing almarhum,diantaranya tentang filsafat hidup dari pemahaman ilmu genetika. Sejujurnya saya agak kedodoran waktu itu hingga penelitian yang memakan waktu lebih setahun berujung pada lambatnya kelulusan sehingga harus masuk 10 besar dari belakang dari satu angkatan, namun ini sepadan.

Kehidupan memang terus berlanjut,usia makin merenta,namun manusia selalu mencari cara untuk hidup abadi. Penemuan tentang cara sel membelah pada proses mitosis,menjadi dasar pencarian itu dimana sel memiliki alarm alami yang bergerak mundur perlahan untuk bisa memastikan sel itu mati.

Keinginan manusia hidup abadi sesungguhnya berangkat dari pemahaman tentang kematian itu sendiri yang akhirnya berpacu dengan waktu berlomba mencari cara memperlambat sel menua. Namun apapun itu,ilmu yang dipahami mungkin belum mencapai kesana. Ini juga yang akhirnya harus disadari hingga profesor Rustija wafat dengan batasan ilmu yang dipelajarinya.

Selamat jalan prof,semoga semua ilmu,amalan Anda diterima olehnya,hidup memang harus bisa memberi arti,jika tidak,kematian tidak hanya sebuah pertanda kehidupan apa yang telah dijalani,namun juga terminal waktu untuk perjalanan kehidupan abadi hal yang sangat di cari di dunia ini.

Kamis, 25 Agustus 2016

Late me

Sang waktu hanya bisa memberimu kesempatan.
ambilah dengan bijak,tatkala senyumnya mengangguk.
jangan tanya hingga seberapa takdir memelukku karena kehilangannya mirip seperti menanti mentari ada kembali di pagi hari.

Jangan malu bertanya padanya,jika semua ini akan tiba saatnya,bukankah kegembiraan menyaksikan wajah tersenyum di balik bibir mungil yang entah ini rasa apa.
langkah yang terpatri di setiap hari bukan sebuah umpama untuk mengerti tapi untuk dipelajari hikmahnya.
di tiap kelokan waktu kita pernah kesasar menjumpai jalan-jalan yang tak pernah kita inginkan,namun anehnya makin terasa takjub dengan apa yang di dengar.

Perjalanan mungkin harus kita sapa dengan kerendahan harian,sebab disana kita menemui banyak kejadian seperti hidup memberi pelajaran yang tak akan dijumpai hanya dengan menangisi keadaan.
entahlah,ini memberi rasa adiksi yang berkepanjangan.

Jadi,bila sang waktu memberimu kesempatan,titip bilang padanya,sebaik-baik kehidupan adalah kenangan yang tertinggal disini,di dalam hati(tiba2 wajahmu terbayang dengan ompong dan lesung Pipit yang menggenang)

Rabu, 24 Agustus 2016

Belajarlah

Belajarlah membenciku
niscaya ada kesejukan disana

Belajarlah memarahiku
niscaya akan kuubah jadi bunga

Belajarlah mencaciku
niscaya akan ku ubah jadi doa

Belajarlah mencemburuiku
niscaya akan ku ubah jadi rindu

Belajarlah jadi embun
akan ku tunjukkan makna damai dimana

Belajarlah jadi matahari
akan ku tunjukkan makna ikhlas seperti apa

Belajarlah jadi awan
akan ku tunjukkan makna kewajiban itu bagaimana

Belajarlah jadi pohon
akan ku tunjukkan konsistensi itu apa

Belajarlah jadi bumi
akan aku tunjukkan
tempat semua makna hidup berada

Minggu, 21 Agustus 2016

Inner and deep*

Berlarilah dengan damai sayang
Sambil meniti diujung jalan
Biarkan tergerai rambutmu menahan angin
Ujungnya melembutkan mencium aroma hujan
Berlarilah menuju surga,tempat sang damai menanti disana
Jangan uraikan itu dengan kata cukup cinta

Jika sang waktu kelak menemui kita
Jangan ada tangis apapun jua
Cukup senyum dengan lesung Pipit
Sebagai pertanda kita bertabur bahagia
Selangkah demi selangkah,rasa demi rasa
Bertautan dengan untaian mesra tangan yang berpelukan,mirip untaian hujan di penghujung senja

Berlarilah dengan damai sayang
Hingga kelokan waktu tiba
Rehatlah sebentar jika lelah menyapa
Tersenyumlah semanis2nya tanpa jeda
Niscaya pesonamu akan kuingat
Sepanjang mimpi menghampiriku dan lena
Saat itu menapaki jejak kita
Kau tahu,rindu hanya kisah mimpi yang terjaga

*(Love and miss u sayang; my Adinda)

Sabtu, 20 Agustus 2016

In out

Beberapa Minggu ini saya bertemu dengan banyak ke ajaiban,dimulai dengan menemani tamu dari Jakarta di Banyuwangi dan road show dimulai dari sana berlanjut selama seminggu hingga berakhir di Tuban. Banyak hal yang bisa ditemui misal ketemu teman yang usianya jauh dari saya namun masih sehat,lantas saya tanya apa rahasianya? Dengan tertawa-tawa beliau bilang hidup ini harus dibawa senang, caranya? Ini yang agak sedikit kontroversi, teman baru saya ini tidak bisa lepas dari alkonita. Apa itu bang?ga mudeng istilah itu akhirnya berbisik, Wing itu singkatan alkohol dan wanita. Saya bukan terkejut malah tertawa karena di usia itu memang masih kuat,lagian dia berbisik karena di sebelahnya ada putranya sebagai penerus usahanya.

Keajaiban lain saya temukan saat bertemu dengan teman namun sama sehatnya dengan yang satunya,tentu dengan pertanyaan yang sama saya ingin tahu kenapa. Jawabannya sama,hidup harus gembira,semula saya kuatir jawabannya sama alkonita, namun saya terkejut karena yang dilakukannya bertolak belakang,teman saya ini menjalani hidup mirip gurpan,hidup buat hari ini, seperti makan jika lapar, minum kalau haus, tidur kalau ngantuk. Nahhh,,kalau ada masalah? dia bilang hidup harus ada masalah, yaa,,hadapi aja nanti juga selesai, ga stress, pasti stress tapi bukankah itu menyehatkan.

Tentu saja saya pusing dengan jawaban yang terkesan sekenanya. Namun dari teman teman baru saya ini dapat pelajaran,apapun masalah di kehidupan tidak boleh menghilangkan kegembiraan dalam hidup, selalu temukan sisi kegembiraannya. Kedua teman saya ini pandai melempar joke yang bikin ketawa dari masalah yang dihadapi. Ini cerdas jarang bisa menertawakan diri sendiri. Dilain waktu,saya juga menemukan anak muda masih belia yang saya pandangan lugu namun punya talent,suaranya bagus cocok kalau tampil di ajang berbakat, bahkan sudah bisa mengarang lagunya yang dia rekam di hapenya sendiri.

Ada banyak kejutan di setiap jejak waktu yang saya jalani,dan itu membuat sadar,hidup apapun ronanya, mau sedih,senang tetap sama menyehatkan,dan yang penting menemukan kegembiraan di balik permasalahan.

Kamis, 11 Agustus 2016

Soul traveler

Soul Traveler
Pernah luangkan waktu barang kali 5 menit saja,untuk memperhatikan orang disekitar kita yang selama ini mungkin luput dari pandangan mata. Ada beberapa orang yang mungkin dari pekerjaan, maqom sosial, dipandangan diri ini ada di posisi bawah, amati seksama siapa tahu atau jangan-jangan kita akan menemukan sesuatu. Boleh jadi orang ini selalu adem ayem,tentrem damai dan bahagia diatas " kekurangan" materi dibanding kita. Siapa dia? hati-hati buat menghakimi mereka, karena jangan-jangan salah satu dari mereka adalah malaikat yang menyamar untuk menguji kita.

Orang-orang itu, ditampakkan disekitar kita dan ada, saya menyebutnya soul traveler, pejalan jiwa. Orang yang seperti ini telah berhenti "mencari". Kehidupan mereka mirip probiotik, mengolah sampah kehidupan menjadi hal yang mengagumkan. Sampah kehidupan yang dimaksud bisa jadi adalah kemiskinan, kemarahan, putus asa,dendam, pengkhianatan dan hal negatif lainnya. Ditangan mereka kemarahan dirubah menjadi semangat, kemiskinan dirubah menjadi kesabaran, ditangan mereka pengkhianatan dirubah jadi maaf, dan dendam menjadi ketulusan.

Hidup buat mereka bukan sekedar aplikasi kata bijak, namun menjalani tanpa bicara, mirip pohon yang terus tumbuh ke atas dalam diam. Mereka menjaga dunia, bumi dengan caranya sendiri, menjadi matahari kecil buat lingkungannya tanpa kentara. Seorang soul traveler mendedikasikan seluruh hidupnya semata mata untuk kehidupan, untuk kebaikan tanpa pamrih apapun. Satu-satunya yang menjadi gantungan hidupnya adalah Dia, semata mata karena berharap cintaNya.

Jadi saat ketemu mereka jangan sungkan sungkem, belajar ilmu hikmat padanya, karena siapa tahu merekalah yang selama ini menjaga kita, coba tanya satu pertanyaan saja: gimana caranya menjadi kaya harta, kalau dia kesulitan menjawabnya, dia seorang soul traveler, malaikat yang menyamar, karena apapun bentuk materi, harta yang ada, dimata mereka hanya permainan belaka.

Sabtu, 30 Juli 2016

Trip to the soul


Status sabtu
Saya selalu belajar sesuatu di tiap pengalam dengan bertemu orang. Hari ini saya belajar sesuatu jika anda memilih karir apapun juga,passion teramat penting,karena ia yang memberi energi,gairah yang tak ada habisnya. Banyak kolega,sahabat,teman saya sukses dalam pengertian finansial,keluarga dan kehidupan sosial karena memiliki passion yang tidak ada padamnya.

Saat saya tanya kuncinya kenapa bisa begitu cepat melambung, dengan terkekeh dia menjawab:" broken wing, saya lakukan semua ini karena saya suka, saya tidak pernah memikirkan hasilnya, terutama uang. Memang uang diperlukan, namun itu mengalahkan kecintaan saya sengan apa yang saya kerjakan apalagi saat itu menyentuh banyak orang. Ada hak yang tak bisa diuangkan,banyak kejutan bersifat spiritual dan itu tak bisa dinilai dengan apapun".

Saya hanya melongo, ditengah hiruk pikuk berlomba menumpuk materi,kekayaan tanpa batas, sahabat saya sedikit beda,menyimpang dari jalur mainstream umumnya, dan saya tak percaya sengan ungkapannya. Sedikit mensesak saya cecar dan giring sengan peryanyaan yang agak memojokkan. Akhirnya bobol juga :" sahabatku broken wing, dulu saya berangkat dari keluarga yang tak punya,sehingga kemiskinan adalah nafas keseharian sehingga saya berfikir satu2nya keluar dari masalah ini adalah punya uang banyak, dan saya bekerja keras siang malam sehingga dalam kurun waktu tertentu apa yang saya bayangkan didapat sekaligus kehilangan".

Maksudnya?
"Dengan uang berlimpah saya bisa lakukan apapun namun saya kehilangan sahabat bahkan keluarga terdekat meninggalkan saya karena melihat saya berubah. Ditengah kekeringan itu saya merenung, dengan segala hal yang mungkin saya punya bisa melakukan apa saja, namun buat apa jika orang yang saya sayangi pergi".
" saya sadar kepintaran dan uang bukanlah jalan menuju sukses lahir batin jika digunakan untuk egoisme semata ia harus berdampak pada orang lain, jika tidak, uang mirip gula makin banyak dimasukkan ke tubuh justru akan menggerogoti kesehatan kita, makanya saat saya bergerak dari titik nadir finansial ke titik nadir spiritual, banyak kehilangan waktu berharga. Hari ini saya menebusnya dengan melakukan aktifitas utama saya tanpa memikirkan uang. Hidup memang naik turun,godaan banyak dialami, namun saya tidak mau terjebak kedua kalinya pada hal yang sama. Hari ini, hidup saya bahagia, hati saya damai, dan berdampak pada keluarga merasakan hal yang sama".
"broken wing,saat kamu melakukan sesuatu secara total,masuklah kerumahNya, masuklah dengan total atas namaNya, hanya untuk Allah semata, niscaya banyak keajaiban yang akan ditemui dan itu indah".

Sekali lagi melongo dengan penuturan sahabat saya seperti peluru meleaat dari AK47 tak banyak yang bisa saya cerna.

Sabtu, 23 Juli 2016

Drip


Renungan sagu(sabtu malam minggu)
Ada yang salah menurut saya tentang anak,adek,kakak yang masuk dunia kerja, tidak menyalahkan memang karena ada juga kaitannya dengan sistem oendidikan di negeri ini,,,loh,,ko bisa? Entahlah, saya menganggap diri ini  katakanlah "korban" kurikulum se uah rezim dimana ganti rezim akan ganti pula kebijakan sistem pendidikannya. Tapi saya beruntung bisa mengalaminya, mirip dengan pengalaman minum ibat yang pahit jadi bisa membandingkan.

Begini, ada gab dan jarak teramat lebar antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Disekolah anda dinilai pintar jika anda bisa mereduksi kemungkinan kecenderungan setiap kesalahan sehingga anda punya nilai/IP sempurna. Anda dinilai cumlaude bila jejalan SKS  bisa anda selesaikan sengan nilai A semua. Sehingga basdan anda disematkan kategori pintar untuk menyelesaikan seju lah kurikulum. Pembebanan hanya pada kemampuan otak memang tidak salah, namuan akan jadi masalah jika tidak diimbangi dengan budi pekerti, seperti empati, kejujuran,  tanggung jawab.

Sebaliknya, di dunia kerja, kepintaran hanya prasyarat masuk biar anda tidak kelihatan o'on saat menerima tanggung jawab. Penekanannya adalah anda harus mengakomodasi setiap kesalahan bahkan memeluknya biar anda belajar dari kesalahan itu sehingga saat anda diberi beban kerjaan seberat apapun, ada gairah untuk menerima tantangan sehingga anda secara mental akan terus naik kelas. Setiap kenaikan kelas mental anda, berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak, karyawan, bawahan dsb sehingga anda "diganjar" dengan income yang seimbang, menurut saya ini rumusnya. Nah kesuksesan bukanlah ganjaran yang anda terima, itu efek, kesuksesan adalah seberapa besar anda. Erpe ngaruh terhadap kelayakan hidup/hajat banyak orang. Sebwrapa besaranda berguna bagi orang lain.

Susahnya paradigma sukses identik dengan kepintaran di sekolah, masih banyak terjadi dengan mengabaikan empati, kejujuran, tanggung jawab. Kadang saya suka geleng kepala dan miris saat negoisasi salary dikaitkan dengan kepintaran
Tapi begitu diberi beban yang seimbang, lari dari tanggung jawab sengan alasan bahwa kepintaran saya tidak cocok dengan beban ini. Kalau sudah begini saya hanya ngeluh pakai bahasa khas jogja :piye ngene iki jal,,,,(bukqn singkatan dajal hehee). Say i'm sorry,,,kepintaran hanya pondasi anda berfikir runtut dan logis, kepintaran di sekolah akan memudahkan anda untuk pendekatan pekerjaan yang jadi tanggung jawab anda, tapi itu semua tidak cukup, anda tidak mungkin sukses sendiri tanpa bantuan orang lain, anda harus mendukung yang lain juga untuk sukses. Sehingga anda butuh kepintaran emosional, bahkan kepintaran spiritual, hal yang sekarang banyak dikaji di negara yang mengandalkan logika dan otak seperti di barat.

Sekarang  banyak perusahaan mulai mendulang SDM nya dengan menitik beratkan pada EQ bukan IQ dengan alasan yang teramat logis yaitu efisiensi,,,loh,,kok? yup kepintaran otak bisa dinaikkan dengan pelatihan yang benar dan tidak butuh waktu lama, namun kepintaran emosional malah sebaliknya, butuh waktu lama dan itu investasi yang mahal. Bahkan organisasi apapun di masa depan yang akan bertahan akan diisi oleh orang yang secara emosional/EQ/SQ nya tinggi. Jadi masih mau mengandalkan kemampuan anda untuk meraih sukses ?yang perlu anda tahu, definisi sukses bukan terletak pada seberapa tinggi jabatan dan pendapatan anda, namun seberapa besar dampak yang anda berikan untuk kebaikan bersama. Ohh yaa satu lagi, jika anda bekerja demi mendapat uang, akan anda memperolehnya bahkan lebih, namun sukses belum tentu didapat kecuali memiliki uang banyak. Namun jika anda bekerja demi orang banyak, anda tidak saja didukung oleh teman, kolega, namun juga semesta, alam, air, angin, batu, embun, bahkan matahari bintang akan mendukung anda. Apa yang akan diperoleh?saat disana uang adalah hal paling anda abaikan karena bukan masalah utama, yang dirasakan adalah bertemu kata yang sebelumnya diabaikan yaitu : CINTA,,,,percaya?harus hehehee,,,,

Sabtu, 16 Juli 2016

Pagi di bwi

Kita mendekap ketulusan, kebahagiaan, kesabaran, toleran, hanya untuk kita sendiri, jarang membaginya untuk orang lain, bahkan untukNya. Kita terlalu sering kepo tatkala orang lain memperoleh lebih sedang kita tidak. Kita terlalu sering baper tatkala doa2 kita padaNya mirip angin belaka. Jarang  banget tahu bahwa yang diperlukan bukan saja siap menerima senyum, tawa namun juga menangis dan sedih. Saat  Tuhan mengabulkan doa kita, bahagia bukan kepalang, saat doa  tak terkabulkan segera, mengeluh sepanjang waktu. Perniagaan apa yang sedang kita lakukan padaNya? Kita juga terlalu sering GR merasa dekat denganNya namun abai jika dibelakang rumah, samping, ada tertangga begitu kesulitan untuk menafkahi keluarga, sulit membeli kebutuhan sekolah anaknya. Kita senang telunjuk kita meruncing ke depan tanpa sadar empat jari yang lain menunjuk ke diri sendiri. Transaksi yang seimbangkah di perniagaan kehidupan ini denganNya.
#selfintro

Minggu, 10 Juli 2016

Fenomena baju baru

Fenomena baju baru
Semula saya mengira kalau lebaran pake baju baru saat silaturahmi, saat reuni dengan temen sekolah, pasti mereka akan memperhatikan baju yang kita pake, model yang sedang trend. Ternyata anggapan saya salah, kemarin saat lebaran, sanak saudara terutama orang yang kita anggap tua, tidak memperhatikan apakah baju yang dipakai baru atau tidak ( mungkin ga tahu ini baru apa tidak), malah melihat "hati baru" kita, yang menghantar diri ini kesana untuk mengucap maaf. Demikian juga saat reuni, tak satupun yang memperhatikan apakah kita pake baju baru atau tidak, karena yang dilihat adalah wajah sambil mengernyit mengingat nama.

Lantas, kalau memang itu, kemana baju baru yang dibeli dengan berdesakkan di mall, dengan suara keras meng atas namakan tehaer, kalau ketika hari "H" tak sedikitpun meliriknya. Malah yang paling genuine adalah anak-anak, mereka melihat kita dari angpau nya bukan bajunya. Fenomena baju baru agaknya jangan-jangan adalah trik marketing buat menaikkan penjualan :-D dengan menumpang momen lebaran, seperti halnya iklan sirup begitu gencar saat akan menghadapi hari raya, dan setelahnya meng-hibernasi :-) .

Tapi fenomena baju baru malah bikin asik, banyak cerita disana, banyak kenangan yang akan ditularkan ke anak, anak ke cucu dan seterusnya. Baju baru lebaran memang bukan subyek cerita, ia hanya trigger, pengungkit narasi yang begitu banyak kata yang tak teryampung bila diceritakan. Ironisnya, swmua itu dilakukan hanya berujung pada kata "maaf" yang tiap hari mungkin jarang dilakukan namun efeknya begitu membekas dalam diri. Saya hanya ingin bilang : mungkin ini indahnya lebaran, baju baru mirip lampu setting di panggung, ia hanya menghantar dari drama yang ceritanya akan berlanjut sepanjang jaman.

Rabu, 06 Juli 2016

Terlarut aku

Saya terbangun jam 3 pagi, tubuh masih mengikuti ritme sahur puasa, takbir masih terdengar sayup sayup, syahdu. Takbir buat saya lebih senang di dengarkan dengan suara lirih, rasanya betapa diri ini keciiil,,,bingit dihadapanNya. Lantas dilanjutkan dengan tahlil, kemudian tahmid,,,dilantunkan dengan rasa diri ini teramat rendah, ampun maaakkk,,,,rasanya. Kalau sudah begini, diri ini tak pantas pakai baju baru, tak pantas mengaku sudah puasa sebulan penuh, tak pantas merayakan lebaran,,,malu,,,bahkan wagu saat menghadapNya. Jadi aneh saja setiap lebaran saya mindernya luar biasa bahkan pengen banget ngumpet. Namun kalau inget setelah shalat ied terbayang makan opor ayam,,,hilang sudah rasa itu,,,,mirip lagunya samson,,,:
" Terlarut aku
Dalam kesendirian
Saat aku menyadari
Tiada lagi diriMu kini"

Hadeuh,,,,,

Puasa, lebaran dan rest area


Puasa dan lebaran rest area kita
Kalau diibaratkan hidup adalah perjalanan, saya lebih mengibaratkan hidup mirp berjalan di jalan tol, karena begitu berjalan ia tak akan pernah kembali sebelum keluar gate, hidup juga demikian, tak akan oernah lagi kembali. Jika jalan tol banyak memiliki lajur, minimal 3, lajur kanan, tengah dan kiri, dimana lajur kanan untuk mendahului dan lajur cepat, lajur kiri untuk jalur lambat dan kendaraan besar. Hidup juga demikian, kalau anda ingun cepat sampai anda harus masuk lajur kanan (dikonotasikan kebaikan). Jalannya,,,kita tahu sebenarnya lempeng-lempeng saja, namun kita kadang selalu bergerak ke kiri ke kanan pengen cepet sampai (sukses dalam hidup, apapun persepsi dan definisi anda tentang sukses di kehidupan ini), mungkin ini yang namanya iman naik turun hehee,,,bahkan ada yang masuk bahu jalan segala (hobi saya kalau ke kantor kelihatan mau telat,,,hehehe).

Kehidupan yang selalu bergerak maju, dikejar keinginan, apalagi kalau "mobil" disamping kita jalannya cepet, bisa panas hati pengen balapan hahaa,,kalau kita mampu tak masalah, kalau tidak bisa runyam dengan berujung kecelakaan. Nahh pangkal kecelakaan biasanya tubuh terlalu penat, capek sehingga kita butuh rehat dengan berhenti di rest area. Puasa, adalah rest area kehidupan kita, disana seluruh panca indera diistirahatkan, seluruh batin kita yang lelah di recovery. Sebulan dalam setahun kita masuk rest area agar setelahnya tubuh dan ruhani kita menjadi fresh. Puasa tidak saja membuat badan berjarak dengan egoisme, batin juga diasah menjadi lebih waskita. Puasa adalah rest area paling baik yang harus kita temui. Puasa alah rest area yang Tuhan sediakan sebelum kembali berpacu pulang menemuiNya.

Jadi kalau di dua per tiga puasa, semua sudah sibuk dengan lebaran, mirip anda tidur baru terlelap di rest area, tiba-tiba dibangunkan satpam, dongkol gak? hehehe,,,. Bukan saja tidak fresh namun juga mwmbawa beban lelah yang tak hilang. Hari raya lebaran, buat saya mirip dengan gate keluar dari rest area, dari pintu itu kita tahu, kemana akan masuk jalan tol kembali, mau melipir ke kiri dulu sambil nyalakan sein untuk kasih kode kita masuk lajur kanan, atau lihat situasi. Puasa yang dilanjutkan dengan lebaran yang gegap gempita mirip mau masuk jalan tol mobil sudah digeber dulu gasnya seolah ga sabar pengen cepet sampai,,,yakin pengen cepet sampai?

Lebaran buat saya adalah transisi, ibarat di rest area sebelum jalan, mungkin kita cuci muka dulu, kalau perlu pipis :-D, siapkan bekal minuman atau makanan ringan. Dalam hidup, siapkan hati yang lapang, basuh dengan keikhlasan dan syukur, lihat tanda-tanda alias rambu dengan kerendahan hati (dengan takbir, tahmid dan tahlil ) sebingga saat kita kembali ke lajur kehidupan, menjadi lebih sabar, santun, elegan, tidak saling merendahkan yang lain, tidak saling menafikan yang lain gara-gara mobil kebidupan kita butut. Karena yang dinilai sebenarnya bukan seberapa cepat kita sampai, namun anda di jalan tol ugal-ugalan gak, suka memaki yang lain gak. Jadi kalau hari ini lebaran kita lakukan dengan gegap gempita menyambut kemenangan (kapan kita bertanding dan dengan siapa), jangan-jangan sebenarnya kita tidak mampir ke rest area, kalau toh a disana, tidak benar-benar kita manfaatkan untuk recovery ruhani kita, entahlah itu kembali ke pribadi masing-masing. Selamat hari raya idul fitri, gate sebelum kita berpacu dengan waktu, dan ssebelum sampai dirumah keabadian kita.

Kamis, 30 Juni 2016

So,,sosmed,,


Konten sosmed di indonesia memang hebat, mengikuti suasana. Misal, banyak status dan foto yang bernafaskan agama , saat bulan puasa. Its no problem kalau itu dilakukan semata mata karena syiar. Tapi ojo nemen2 to reekk,,,biasane selfie ga pake kerudung sekarang kerudungan (coba kerudungan sarung, malah joss). Terus ngasih sedekah dengan fakir miskin difoto banjur di unggah sambil tangannya ngasih tapi wajahnya menghadap kamera, senyum lagi (yaa,,,mosok arep nangis kan ga pantes). Dan tiba2 kita menjadi agamis, mengutip kata2 yang menyejukkan dari tokoh agama, mengutip sebagian dari ayat suci,,,,pokoknya semua itu bikin saya terharu dan pengen nangis,,,loh,,,? piye ga pengen nangis, tiba2 konten sosmed menjadi adem dan menyejukkan, perkara setelahnya gak gitu lagi ini lain perkara, bukankah telah lama kita ini inkonsisten isuk dele sore tempe (tapi kalau inkonsisten jangka panjang, bukankah namanya konsisten?)

Kita jadi tahu bagaimana perilaku dan kultur sebuah bangsa (kemuluken gak?) terlihat dari perilaku masyarakatnya. Misal,,,,awal ramadhan, banyak ucapan dan status otw masjid, taraweh disik,,,(malaikat tersenyum kecut lihat sing ngene iki) . Pertengahan ramadhan status berubah, topiknya seputar THR,,,nah minggu terakhir ramadhan, sambil tetap bikin status yang bernuansa spiritual topiknya bergeser,,,berburu baju lebaran beserta pernak perniknya. Nanti di awal syawal ganti lagi dengan topik mudik dan unjung2, sambil unggah foto nyium ortu sambil nangis2 (beneran nangis opo gak karena wajahnya menghadap kamera). Setelah lebaran back to nature,,maaf maksudnya sing pas puasa klambine lengkap, tiba2 jadi setengahnya mirip jagoan saya Hulk habis marah.

 Kalau saya bisa survey malaikat tentang perilaku manusia, pasti pening kepala, hal yang tidak bisa malaikat mengerti kok iso yo broken wing (aku ngarang dewe malaikat manggil gitu hehehe,,). Lantas kalau saya sodorkan tingkat kepuasan malaikat tentang manusia, jawabannya sungguh mengejutkan : wes,,,wes broken wing, ojo mbok terusno, perilaku manusia ini aku ga ngerti, gak thuk ilmune, sebagai kekasih Tuhan dan mahluk kesayangan paling sempurna, perilaku mereka adalah tingkat dewa,,(mosok ono malaikat kenal dewa hahaa,,,),,,saya pun manggut-manggut setengah paham,,,tiba2 saya terbangun,,,imsyak kurang 5 menit,,,,glodakan takut sahur terlambat saya ga inget ngimpi apa tadi,,,:-)

Rabu, 29 Juni 2016

Pojok waktu


Marah#
Yang namanya marah sudah jarang saya lakukan, paling memarahi diri sendiri, memarahi kegoblokan saya yang ga peka terhadap situasi. Namun kalu energi marah hari ini keluar lagi untuk orang lain, ada sebabnya: 1. Kenaifan yang berkepanjangan sehingga berpotensi menafikan orang lain. 2. Egoisme yang akut sehingga orang lain berpotensi dipandang rendah. 3. Wawasan yang teramat sempit sehingga dunia dipandang dari kacamata yang kecil bahkan limit.

Menghadapi hal demikian saya bisa marah karena kasihan saja mengapa dunia yang indah seperti: nasi pecel pinggir jalan yg enak, penjual dawet yang selalu tersenyum semanis dawetnya, atau tukang parkir kembang jepun yang bisa diajak bercanda dengan me-mlesetkan sedikit bahasa madura saya yang kagok, akan jadi tak terlihat dan mengancam ego. Saya marah ketika talenta di hilangkan karena pendapat yang tak sama. Ujung-ujungnya jadi nyesel juga energi marah saya keluar, karena mungkin mereka masih bertumbuh sebatas kemampuan, namun kalau itu sudah menghambat,,,,saya seh membenarkan diri,,,pasti akan marah,,,

Makanya saya tanya dengan sohib saya broedin van klompen : dien,,,bulan puasa marah membatalkan puasa ga? jawabnya : enggaklah broken wing,,,kecuali ente marah sambil nyruput es degan,,,saya pun mengangguk lega,,,(nyaman bener sohib saya yang satu ini )

Minggu, 26 Juni 2016

Edisi jelang lebaran



Edisi jelang lebaran
Di satu sisi mungkin saya orang paling introvert kalau menhadapi lebaran ini, bagaimana tidak, sejak awal puasa, niat sungguh-sungguh berpuasa seutuhnya, agak belepotan karena rintangan mentalnya banyak. Mulai taraweh yang jarang dilakukan karena tiap adzan maghrib pasti selalu di jalan tol yang makin lama macetnya tambah parah. Hingga sahur pun kadang saya lakukan tengah malam agar waktu tidur cukup untuk recovery. Sehingga menghadapi lebaran saya tidak cukup percaya diri karena merasa lebaran adalah puncak spiritual dari puasa. Setelah asik masyuk dengan kubangan bernama ramadhan, lebaran menjadi seperti mandi besar spiritual, dan saya tidak merasa yakin bisa memperolehnya.

Kadang saya iri dengan kegembiraan itu, seperti saya lihat di sepanjang jalan dimana pusat perbelanjaan ramai dengan hiruk pikuk dan pernak pernik menhadapi hari raya.  Buat saya keramaian itu adalah cermin dari "mandi besar spiritual" yang mereka peroleh setelah puasa, saya senang melihat wajah-wajah sumringah setelah sebulan menahan godaan panca indera. Memang kalau akhirnya makna lebaran agak sedikit kabur dengan balutan nuansa kapitalis yang dibungkus komoditas ekonomis, ini hanya ekses kegembiraan mengjadapi lebaran. Misal, entah sejak kapan lebaran identik dengan baju baru bahkan ada sekeluarga mengharuskan dress code tertentu (saya pernah menemukan saat sekeluarga pakai baju atasan dan bawahan warna putih saya menangis sekaligus takut, karena jadi mirip pameran hidup kain kafan)

Jadi, menghadapi lebaran malah saya jadi o'on alias pilon, karena tidak seperti lainnya, lebaran adalah puncak kesedihan tanpa tahu kenapa sebabnya, hanya ada sesuatu yang hilang, dan saat puncak takbir biasanya menangis, bukan karena kehilangan ramadhan, tapi menangisi kegoblokan saya yang menyiakan banyak kesempatan, dan ujungnya tersenyum lebar saat membayangkan habis shalat ied ada ketupat dan opor ayam. Soal baju baru? agak aneh kalo lebaran suka bergaya pakai baju takwa dan buru-buru ganti kaos hitam begitu sampai rumah. Kenpa hitam? biar keliatan lain sendiri awal syawal bukan kegembiraan tapi sebentuk kesedihan mendalam,,,(istri suka ketawa kalau saya bilang itu sambil berkata: gayamu wang wing wung,,,,)

Sabtu, 25 Juni 2016

Gurit sepi



Sing mbiyen ora tau tak lalek ke
wengi tansah nyopo aku ning pepadhangan ati
banjur isuk ngandhani : ora usah dienteni
aku mung iso ndingkluk, nguatake ojo nganti mbrebes mili
mung kowe sing iso nguatake,,,mung kowe sing isih di arep
embun kang wigati,,,,
liyane,,,,uhmm,,,sirno sakdurunge rembulan teko

Banjur,,opo wengi iki, aku mung tansah ngenteni
janji sing ora tau ngutamakke padhanging ati
janji sing tansah nggawa pedut lungo nandi
ninggalake tresno namung kanti daksiyo
opo iki urip sing dikarepake kowe

kanti subuh iki aku tetep ngenteni
warta sing nggowo sepi iku tak enteni
embun kang ngelingake: wes to,,iki mung sedela
ati iki kadung sirno kreno mbok gowo lungo
lathi sing ora bosen mlipir donga
mugi kowe nemokake seneng neng kana
(Edisi bahasa jawa)




Minggu, 19 Juni 2016

Runaway


Malam yang mulai merambat mengharuskan saya untuk menemui kota ini dengan hawa sejuknya setelah seharian di "hujani" dan memang terlalu manjur untuk recovery. Hujan yang hadir bulan ini memang agak memberikan kejutan mengingat mestinya memasuki bulan juni hawa dingin mulai merebak. Hujan bulan juni memang sedikit memberi sentakan spiritual, serelah penat dihajar tugas dan menyerahkannya pada ibu alam. " dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu - Sapardi djoko damono/hujan bulan juni", saya membayangkan mirip puisi itu. Ada kewajiban tersendiri, ada kepasrahan yang menyertai. Jadi semestinya ke depan tak memberikan janji apa-apa, sebab bukankah saya berdiri disini juga tak meminta apa-apa. Entahlah sejak mengalami naik turun kehidupan sejak lama, hidup memberikan pelajaran bahwa sejauh-jauh berjalan hanya kembali menuju sunyi. Jika memang itu, ada satu hal yang harus saya cermati, ketika masa lalu, masa kini dan masa depan berkolaborasi dan tersinkronisasi, kehidupan akan bergerak pada satu arah. Orang bilang itu kematian, ada yang bilang keabadian, saya hanya bilang : meniada menuju cahaya cinta. Buat saya ini indah
#javadancercoffe

Malang di bulan juni


Malang di bulan juni
masih menyisakan mendung untuk sepotong asa
diantara rintik yang mulai jatuh disepanjang jalan
dedaunan yang tanggal tertiup angin dan melemah
berbisik kepada angin: hujan bulan ini begitu indah
yaa,,debu yang sebelumnya selalu menganggu
tiba-tiba terkesiap menemui rinai yang selama ini membatu

Malang di bulan juni
hujan yang menghantar pagi hari
membasahi pohon trembesi di sepanjang jalan yang terlewati
menelisik pikiran ke masa dimana bahagia cinta dan lena
hanya penggal fragment masa lalu menjadi kini yang haru
tiap langkah, tiap waktu seperti potongan puzzle dejavu
melompati masa depan lantas terlempar di masa lalu

Malang di bulan juni
hujan yang menyisakan basah, dingin dan angan
hanya menempatkan badan yang mulai rapuh ini
memasuki rahasia yang tersimpan di kotak pandora
membiarkannya meluruh diantara tetes yang hilang
menuju sunyi,,,



Sabtu, 18 Juni 2016

Jelang subuh


Saya teramat paham jika hidup seseorang akan membawa bebannya sendiri, ada yang membawa beban itu sepanjang hidupnya dengan menggendongnya. Ada yang melepaskannya dengan berusaha memahami bahwa hidup hanyalah sekedar perjalanan pulang sehingga oleh-oleh yang dibawa hanya cerita indah. Ada juga yang berusaha membawa harta pangkat dan kehidupan dunia untuk dibawa pulang. Apapun yang dibawa tetap boleh saja selama jiwa dan pikiran tetap bahagia.

Mirip lagu anak-anak, disini senang disana senang dimana-mana hatiku senang. Hidup buat mereka selalu sama, tetap happy, kuncinya anak-anak tidak pernah merencanakan hidupnya, dibiarkan mengalir sehingga unsur kejutan menjadi hal yang dinanti karena membuat mereka terperangah lantas berteriak senang. Jadi kembali ketika kita terbebani oleh kehidupan, ada yang berusaha menghindar, ada yang pasrah bahkan ada yang bersembunyi. Namun sebagaimana kita tahu, hidup pasti akan memberi beban, pertanyaannya untuk apa?.

Mungkin ilustrasi ini bisa menjawabnya : syahdan dua pendekar shaolin turun gunung, satu masih muda yang satunya lebih tua. Ketika di sebuah lembah bertemu sungai, tidak ada perahu dan tidak ada jalan lain kecuali menyeberanginya. Saat hendak siap-siap tiba-tiba seorang wanita muda minta tolong untuk diseberangkan juga, tanpa banyak cakap, pendekar yang lebih tua menggendongnya sampai di sebrang kemudian berpisah. Selang beberapa jam yang muda berkata: kakak bukankah ajaran kita melarang bersentuhan dengan wanita. Yang lebih tua pun menjawab: wanita itu sudah berlalu dari tadi, namun kamu masih saja menggendongnya dalam pikiranmu,,,
#jelangsubuh

Jumat, 17 Juni 2016

Waktu


Saya ini penyuka misteri tentang waktu, banyak teori yang muncul berkaitan waktu seperti relatifitas waktu einstein dimana waktu bersifat relatif dan bisa dibelokkan tergantung besar massa. Ada juga teori yang mengatakan waktu kemarin kini dan esok sebenarnya paralel bukan linier sehingga kita kenal istilah dejavu. Namun apapun teori itu yang ingin saya katakan adalah waktu adalah pendar cinta, didalamnya mengandung kebahagiaan sekaligus kepedihan. Ada saatnya di sebuah momen kita tertawa dengan kehadiran orang tersayang, ada kalanya malah sebaliknya kita menangis meratapi kehilangan orang yang disayangi.

Ini menegaskan suatu hal, saat kita berhenti dengan tenggat waktu yang diberikan Tuhan, kemana perginya cinta apa hilang begitu saja? Itulah sebabnya keyakinan adanya kehidupan abadi setelah kematian menjadi hal yang diyakini dan niscaya. Waktu yang relatif cepat, tiba-tiba kita beranjak merenta, sebagian orang tersayang pergi dengan meninggalkan cintanya, ada sebuah asa kalau kelak kita akan kembali bersama mereka. Caranya?mumpung masih ada kesempatan tanamlah benih-benih kebaikan sebanyak mungkin, karena kelak akan menjadi pohon keindahan dan buahnya adalah cinta, kasih sayang.

Hari ini saat puasa kuta masih berjalan, ada kesempatan menanam benih itu, puasa adalah  "sawah" yang subur untuk itu. Tak satupun yang disemai akan mati, malah sebaliknya akan jadi pohon keindahan yang rindang, akan jadi buah cinta yang lebat, saat itu kita lakukan terus menerus, mungkin anda bukan saja manusia tapi telah menyublim menjadi "cahaya".

Selasa, 14 Juni 2016

Ramadhan mubarak


Pekerjaan saya mengharuskan bertemu dengan berbagai kalangan, baik yang seiman atau tidak. Di bulan ramadhan ini akan kentara saat masuk jam makan siang, banyak dari kolega saya yang non muslim minta ijin untuk makan siang dan ini yang bikin saya terharu sehingga saya juga minta ijin untuk menemani mereka makan. Pertanyaan lanjutan dari mereka adalah apa saya terganggu melihat mereka makan dan minum didepan saya yang lagi berpuasa, saya menggeleng tidak.

Yang bisa saya dapat adalah mereka menghormati saya yang lagi puasa dengan minta ijin makan siang dan saya menghorrmatinya dengan menemaninya makan. Ada rasa damai melihat kondisi yang tak perlu dibesar-besarkan apalagi sampai diliput media. Hal kecil yang sudah ada sejak dulu. Entahlah buat saya hal beginian mirip cahaya lilin, memang tidak terang benderang namun indah,,,,
#ramadhanmubarak

Minggu, 12 Juni 2016

Berlari di jalan sunyi


Mungkin benar adanya tatkala ada orang bilang hidup adalah keterlanjuran. Setiap setik, waktu yang disediakan kehidupan pada kita, adalah bentuk hutang cinta yang harus dibayar lunas. Keterlanjuran karena waktu tak bisa kembali, hutang cinta karena hidup juga menyediakan kebutuhan kita disini. Ini berlaku juga dengan saya, awal ramadhan jika orang lain asik dengan gairah spiritual dan ritual dan menikmati benar bagaimana buka, sahur taraweh dengan orang tersayang, saya malah marathon dengan aktifitas yang menurut Gurpan : berlari di jalan sunyi. Bagaimana tidak, awal ramadhan saya  harus meeting kadang hingga larut malam, membuat konsep, evaluasi, lantas mengimplementasikan plan dengan irama yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan, tiba-tiba tanpa terasa saya sudah jauh dari rumah. Kangen dengan situasi berbuka puasa di rumah, sms balasan dari anak mertua hanys singkat: katanya udah janji lillahita'ala. Balasan sms ini cukup menyengat, dan saya di ajak berlari lebih jauh namun enjoy.

Setiap ucapan yang pernah saya katakan pada Gurpan kemarin, ternyata kehidupan menagihnya, dan perjalanan di jalan sunyi malah makin cepat kalau tidak dikatakan berlari. Tidak tahu akan kemana ujungnya, berlari di jalan sunyi tanpa peta, tanpa jalan dan tanpa tahu berakhir dimana, menuntut keikhlasan total. Setelah berhari hari merasa kurang tidur, tiba-tiba saya terdampar di penginapan untuk recovery melunasi tidur. Sendiri dan sunyi, hanya endapan jejak yang kemarin bisa saya tengok. Entah kenapa merenung jadi hal yang intens dilakukan, dan saya merasa kehidupan memberikan sekaligus menagih janji. Jalan sunyi memang hal yang mengasikkan, banyak "jebakan" spiritual yang ditemui dan saya meng-ikhlas-kan masuk dalam kubangan itu. Entahlah saya menemukan kedamaian disana, ada energi cinta yang hangat disana. Samar-samar dari kejauhan tarhim terdengar dengan bacaan surat arrahman: maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan
duuhh,,,,






Minggu, 05 Juni 2016

Selamat datang ramadhan

Besok puasa, dan kita akan melakukan rutinitas yang luar biasa, bangun jam 3 untuk persiapan sahur, dan habis subuh mata kantuk harus ditahan agar tetap terjaga untuk tidak datang terlambat di kantor. Waktu juga akan berjalan seperti melambat hingga berapa kali kita menengok jam hanya untuk memastikan jarum bergerak menuju angka tertentu. Ketika beduk maghrib terdengar, kita seperti melepas beban seharian, kelaparan seolah sebulan tidak makan, semua minuman harus wajib ada di meja makan. Setelahnya, kita terhuyung berjalan karena kekenyangan dan kantuk yang menyerang membuat kita alpa atau lalai kalau tarawih menanti setelahnya. Sebulan rutinitas ini kita lakukan, seolah ini adalah keterpaksaan yang berat dijalani. Kita hanya berharap ini cepat berlalu dan memanti lebaran, bukan saja kita disibukkan dengan pernak pernik lebaran, pulkam atau silaturahmi, namun bayangan THR sudah ada dipelupuk mata dan pikuran kita makin disibukkan dengan urutan akan belanja apa, padahal puasa baru saja akan dilakukan.

Berapa tahun menjalani rutinitas ini? Apa efek spiritual yang di dapat?tak ada? jadi seumur hidup kita tak pernah sekalipun "naik kelas" dari ramadhan ke ramadhan kecuali dengan bayangan kebutuhan yang makin banyak, tanggungan yang makin besar, harapan yang makin jauh dari kenyataan. Kita pun makin egois dengan dalih masih harus banyak belajar memahaminya, masih sibuk dengan aktifitas utama kita, mencari nafkah. Dan tiba-tiba tanpa terasa kita makin menua, anak-anak makin besar dengan aktifitasnya sendiri hingga waktu bersama adalah hal yang jarang dan mahal. Tiba-tiba kita merasa hanya tinggal berdua dengan istri, suami, berdua tapi dengan tubuh yang merenta. Inikah kita? yang sebentar lagi anak kita pun pergi me,bangin keluarganya sendiri dan kita hanya termangu sembari masygul karena ke sepan kesepian menjadi teman seperjalanan hingga menunggu malaikat izroil menyapa walau dengan bahasa terhalus pun kita terkaget bahkan meloncat dibuatnya.

Besok sudah mulai puasa, dan kita kembali ke rutinitas seperti tahun sebelumnya, hidup inikah yang kita inginkan?jika tidak, kita tahu apa yang harus dirubah dan apa yang harus dilakukan :-)  marhaban yaaa,,ramadhan.

Ada apa dengan cinta


Ada apa dengan cinta
Dalam tataran cinta, puasa merupakan tingkatan tertinggi, karena S.O.P puasa yang menahan lapar dahaga dari terbit fajar hingga maghrib adalah implementasi bagaimana kita memelihara seluruh nikmat dari Tuhan yang melekat pada diri ini tanpa kecuali. Puasa juga memperbarui janji cinta kita padaNya yang terhubung secara rahasia. Hakikat puasa sebenarnya adalah mengikrarkan secara personal janji kita denganNya dalam ikatan cinta yang paling agung dan rahasia. Siapa yang bisa tahu jika kita mengaku puasa aslinya enggak, kecuali Allah dan kita.

Lantas apa hubungannya dengan perjanjian cinta rahasia kita denganNya? Sesungguhnya dalam tataran spiritual kita akan selalu hidup dengan spirit cintaNya. Implementasinya ialah dengan menyayangi keluarga, istri, anak orang tua yang utama, sesama, dan mahluk lainnya. Seiring kesibukan kita mencari nafkah, aktifitas yang berhubungan dengan duniawi, kualitas cinta itu naik turun bahkan memudar seiring dengan ketertarikan kita secara berlebihan dengan pernak pernik duniawi. Prioritas hidup yang salah, tujuan yang bias, membuat keterhubungan cinta kita dengan orang tersayang, dengan sang Maha cinta perlahan merapuh.

Dengan puasa, secara harfiah kita menjaga jarak dengan kenikmatan ragawi dan menguatkan kembali cinta secara ruhani, ini penting karena kehidupan yang berkutat dengan raga harus di landasi dengan cinta dan ini dibangun dari keterhubungan secara ruhani denganNya. Kalau tidak, sebagai mahluk spiritual akan kehilangan jati diri,  ini akan menyebabkan kita mengalami mati suri ruhani. Bukankah ketamakan, keserakahan, hilangnya empati, wujud kita mati suri secara ruhani. Dengan puasa kita di ingatkan lagi betapa keterhubungan cinta kita denganNya begitu penting untuk kelanjutan hidup kita di keabadian, saat ini dan kelak. Itulah sebabnya kenapa di akhir puasa kita dinamakan kembali ke fitrah, kembali pada jalur cinta yang sebenarnya bukan yang lain. Jika tidak, kita akan pertanyakan diri kita : Ada apa dengan cinta?

Jumat, 03 Juni 2016

Suwun yoo nduk,,


Setelah sekian waktu berjalan, tiba-tiba tanpa terasa sebentar lagi menyambut puasa. Layaknya tamu besar yang akan datang saya berusaha menyiapkan mental sebaik mungkin karena tamu yang akan membawa hadiah besar saya harus siap dengan berbagai macam kejutan. Biasanya sebelum puasa tiba Adinda selalu menemui saya dalam mimpi dengan senyum yang menandai lesung pipinya. Sudah terlalu cukup buat saya kalau itu sebagai penanda rasa kangen darinya.

Tahun ini memang saya diberi banyak kebahagiaan, salah satunya adalah di kantor menemui kolega yang usia, face dan perilakunya mirip anak saya. Namanya sebut saja nadiva, seorang psikolog muda lulusan S2 yang sedang menyerap semua hiruk pikuk kehidupan dengan semangatnya, mirip sepon kering yang menyerap air, anak cerdas ini begitu membuat mata saya terbelalak bukan saja pintar tapi cara menganalisa sesuatu cukup mengena. Sayang kalau talenta sebagus ini akhirnya sia sia. Saya tidak ingin mengulas tentang dirinya, namun cara dia memandang hidup terasa begitu  jelas, tanpa tedeng aling aling, tanpa menyisakan warna abu-abu, misal pendapatnya tentang sosial media yang menurutnya tidak penting. Mestinya untuk anak seusia dia, medsos bukan lagi sekedar life style sudah keseharian, bahasa jawanya sego jangan. Tapi ada pengecualian, dia tak memiliki medsos, kalau toh ada hanya sekedar etalase belaka. Alasannya yang akhirnya saya berniat menutup medsos sepert FB, instagram,dsb karena menurutnya lebih banyak mudharat daripada maslahatnya. Tentu saja saya kaget dengar opini yang keluar darinya. Namun akhirnya setelah direnungi, mungkin ada benarnya.

Dalam perspektif saya, hari ini dengan kemajuan teknologi malah makin terkotak kotak kalau tidak dikatakan makin teralienasi, kita lebih menyenangi hubungan via sosial media ketimbang dunia nyata. Sebagus apapun media informasi memiliki efek yang menakutkan. Susahnya kata si nadiv, tidak semua informasi yang muncul kebenarannya bisa dipastikan, bahkan menurutnya malah banyak informasi sampah. Jujur saya banyak belajar darinya, sehingga mungkin dalam waktu dekat perlahan saya akan mengikuti jejaknya, mulai pensiunkan sosial media yang telah melarut dalam diri. Bahkan akan saya tutup total dengan menyisakan beberapa seperti blog dan wa yang memang masih harus diperlukan untuk urusan kantor.

Beruntung saya diingatkan si nduuk (panggilan saya sama nadiva) anak pintar ini telah mengingatkan saya bahwa hidup lebih baik dijalani dengan pure lebih murni, tidak tenggelam dalam dunia pseudo sempit yang makin menyesakkan. Dan puasa ini kesempatan bagus untuk mulai berjarak dan melakukan detox terhadap file sampah dalam pikiran sehingga mata batin bisa lebih bening. Saya memang beruntung dalam fragment hidup bisa menemui guru yang mengagumkan, saya tidak sungkan belajar darinya termasuk si nduuk ini. Tak ada yang bisa saya katakan kecuali hanya bilang : suwun yoo,,nduuk,,