Senin, 25 Desember 2017

Broedin talk

Entahlah apa saya ini puritan,saya termasuk penganut pria yang bangga melihat wanita "open mind" bukan " open wear". Perkembangan kultur antropologi manusia (ngemeng epe iki)  sejak jaman 
Pithecanthropus erectus hingga manusia modern turunan homo sapiens,  yang namanya wear yang tadinya untuk menutupi tubuh akibat cuaca dingin sekarang malah berkembang wear yang kewer2 alias robek sana sini sampe kalau bisa terlihat yang namanya under wear.

Jadi kalau awal dari telanjang dan kebudayaan makin menutup terhadap tubuh, sekarang malah balik jadi terlihat telanjang (meski sebagian) lagi,  ini sebuah kemajuan peradaban atau kemunduran?. Sohib saya Broedin van Klompen,  selalu punya jawaban akan hal itu ( bukan van klompen kalau ga bisa berargumen) . Katanya : "kesadaran peradaban yang bergerak dari no wear ke under wear lantas partial wear sampai nude,  adalah produk pemikiran yang canggih,  malah kelak teknologi manusia akan bisa menciptakan pakaian seolah pemakainya ga merasa sedang berpakaian". Terus kelihatan telanjang donk,  kemajuan opo kui dien,, ." tergantung asumsimu bro,  kalau pikiranmu porno yaa ketok mudo,  nek pikiranmu positif itu sebuah hasil teknologi.

Sek sek dien,  nek anakmu wedok budal nang mall terus gawe klambi kekecilan sampe udel mbek pupune ketok,  ente tego tah."nahh itu lain perkara,  sama wanita seperti itu kita harus kasihan",,loh piye maksutmu? " siapa tahu bro,  dia ga punya duit untuk beli baju yang pantas sehingga terpaksa pake baju adiknya" jawabnya terkekeh. Lahh itu kan mengundang bir,,,, " lom tentu itu kan asumsimu bro,  tergantung niat kita melihatnya sebagai komoditas seksual atau bukan", lah faktanya itu sudah jadi trend setter dimanapun dien sya nyanggah.

" tergantung dari sisi mana kamu melihat itu bro,  kalau dari sisi komoditas,  itu kemajuan ekonomi,  kalau dari sisi etika, di barat sudah hal biasa,  kalau dipandang dari sudut antropologi yang kamu bilang itu kemunduran,  apalagi kalau dilihat dari disi keyakinanmu dan aku,  itu bertentangan,  bukankah hanya dari sisi asumsimu saja broken wing"anjrit iso ae arek iki ngemeng,  kuliah nang sopo iso berargumen gitu. Lah nurut kamu sing bener sing endi dien?

"Yoo tergantung apakah asumsi dia, mereka, kita,  aku,  kamu, bener opo ga berdasar etika makrokosmos kebudayaan,  kalau dilihat frame yang pendek,  bisa saja benar,  tapi kalau dilihat frame yang panjang, bisa saja asumsi kamu yang benar". Tiba2 di depan kami berdua, lewat gadis dengan rok mini,  broedin melotot tak lepas kemana gadis itu berjalan.  Opo asumsimu dien nek ngono?. " ojo main asumsi bro nek ngono,  iki rejeki,,, haahaaa". Rejeki ndasmu dien,  tak keplak kepalanya,,,,

Buat anak2 perempuanku,  berpakaian agak nutup ya, ga ada jaminan kalau kalian ketemu broedin van klompen,  matanya melotot seperti lihat duit seratus ribuan,  kalian pasti jijik dilihatin begitu,  jangan salahkan dia,  karena dia lagi berasumsi tentang pakaianmu bukan bagian tubuhmu,,,, 😀😀😀😀

Minggu, 17 Desember 2017

So i'm gonna live you

So i'm gonna live you
Minggu ini menyisakan waktu tiba tiba senja telah menjemput hingga beranjak malam dengan segala keindahan sedari pagi, mendung dengan mentari sesekali mengintip kemudian hanya kelabu yang ada namun ndah. Entahlah semua kepenatan menghilang dengan menghirup oksigen kota ini.
Kita bertingkah seperti burung, meringkuk dalam selimut seyum seiring rinai yang tak begitu deras. Minggu ini seperti minggu kemarin, merangkai memori menjadikannya hidup teramat cukup, enaugh is enaugh.

Dalam kehidupan yang teramat singkat bukankah unsur bahagia ada damai disana, hari  yang tenang, secangkir kopi di penghujung senja begitu nikmat karena dibuatkan anak mertuah. Berhenti mencari adalah kuncinya, sebab semuanya telah sempurna. Lantas apa lagi? Samar samar terdengar lagu megan trainor : "So I'm gonna love you
Like I'm gonna lose you
I'm gonna hold you
Like I'm saying goodbye"

Yaaaa,,,penutup senja tak sempurna tanpa Sebuah lagu mengiringi,,,so i'm gonna love you,,,hmmm,,,


Sabtu, 16 Desember 2017

Broedin quote

Saya lagi demen nyimak quotes yang sering di bagikan oleh temen saya yang bernama Broedin van Klompen,sahabat saya yang menjabat jukir di bilangan kembang jepun,  jangan tanya,  meskipun jukir isi share wa nya sufistis.  Tutur katanya lembut dengan logat MA( madura asli,  atau GM- genuin of madura)  nya yang medok.

Misal,  pagi sekali sudah terpampang di beranda wa saya : urip mung mampir ngombe,  ojo dumeh, ojo adigang adigung,,, dsb,,, dsb.  Atau lain kali pake bahasa madura : kenca-kenca,  palotan-palotan,  dimin kanca,  satiya dedi taretan( dulu temen sekarang jadi saudara).  Saya biasanya langsung Kasih jempol empat. Dan kadang bikin status yang sedikit nyerempet undang2 TEI,  dia bilang,  kalau madura bisa jadi propinsi,  Surabaya akan kehilangan potensi ekonominya,  dan akan sangat tergantung dengan propinsi baru tsb.

Saat saya tanya kebenarannya dengan terkekeh dia bilang : pean masak ga tau mas bro ( niru gurpan kalau manggil nama saya pasti pake bro(Ken wing)  entah dari mana tau itu) kalau jukir yang kebanyakan dari madura hijrah pulang kampung,  sampeyan mau nanggung rumitnya ngatur parkir setelah saya tinggal? Saya manggut2 ga ngerti,  opo hubungannya dengan kehilangan potensi ekonomi.  Tapi bukan broedin van klompen kalau ga bisa menjelaskan.

Dia bicara mikro ekonomi, dan non formal ekonomi yang di garis grass root ( pening pala awak,  istilah gitu tau dari mana dia) kebanyakan di kerjakan saudara sekampung,  kolega, istri yang di bko ( bawah kendali operasi) untuk bantu suaminya,  mulai jualan makanan kaki lima yang menyediakan makan siang pegawai kantor toko hingga jualan pulsa.  Sepele tapi penting,  saya sudah merasakan bagaimana saat hari Raya madura aluas idhul adha,  alias toron,  Surabaya sunyi senyap,  kelabakan cari makan siang.

" dien ente bisa analisa,  bisa share gitu copas dari mana? "Saya coba pancing. Mas bro ki menghina,  neh bacaan saya,  saya lihat dari majalah bekas,  kadang ada kutipan tentang hidup seperti yang sering di bagikan di wa,  malah dia lagi suka baca jurnal review ekonomi jatim dari majalah entah tahun berapa wong sudah bekas,  namun analisanya tajam. Saya kadang menduga,  dia sebenarnya malaikat yang lagi nyamar,  atau setidaknya intel lagi tugas,,,, (yaaa gak dien heee,,,,) . Namanya juga nanya din,  kan aku juga sering dikirimin sama temen kamu,  kang jarkoni hal yang sama.

Jangan percaya sama temen itu mas bro." loh memang kenapa dien? ". Setengah menggerutu dia bilang,  orang itu yaa mas broken wing,  yang dipercaya bukan lisannya saja,  tapi perbuatannya,  logikanya,  perbuatan berimbas ke lisan.  "Lahhh kan itu saudaramu sendiri dien? ". Iyaa,,, tapi sudah dingetin bolak balik ga mempan yaa sudah biarkan. " masalahnya opo to,,,? ". Gini mas bro,  broedin mulai serius,  status wa nya yang di share memang Bagus2, seperti dia sering Kasih status manfaat shalat malam,  bahkan subuh berjamaah,  saya tau maksudnya nyindir aku itu mas,  wong gara2 saya nonton final bola indo-thailand, sampe karipan, ehh dia kirim status di wa.

" terus kamu marah? ". Ya iyya lah wong dia kirim status gitu juga ga pernah subuhan apalagi yang lain,  jangan percaya sama dia,  namanya juga jarkoni,  iso ujar ga bisa ngelakoni.  Ohhhh,,,, saya menahan geli,,,dan satu lagi mas bro,,, dinegri ini banyak yang semacam itu,  jarkoni2 yang lain.  Husshh omonganmu mulai nyerempet dien."indonesia ini negara kaya,  gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerta Raharjo". Lah yang ngomong indonesia kui sopi mas brooooo,,,,.  " lah kamu barusan". Saya bilang "negeri ini",  bukan indonesia. Apa bedane dien,, saya mulai kuatir dia kumat. Indonesia mah "negeri itu", jelasss kan,,,, tiba2 jadi logat kekinian. Ahhh dien pikiranmu itu loh saya ga nyandhak alias ga nyampe,,, mbuh dien karepmu. Klunting,,,, tiba2 ada status masuk berbarengan,  setelah kami lihat,  ternyata dari jarkoni : ngerasani aku yo mas,,,,, hahaha,,,, kami tertawa dan misuh bareng,,,, jancuuuuk. 😁😁😂😂

Kamis, 14 Desember 2017

Republik angin

Nduukk,,,leeee,,,yg hari ini dilapangkan kehidupannya,,dibanyakkan rizkinya,,ditinggikan derajat dan pangkatnyaaa,,,simbah hanya ngingetkan kalau itu hanya "beban kehidupan" yang harus kalian kelola dengan rendah hati agar kelak bisa jadi tumbuhan merindang dengan buah yang bermanfaat, jadi bunga wangi yang bisa mengindahkan .
Pangkat,kekayaan, kepintaran bukanlah parameter kesuksesan yang harus kau genggam seperti mengepal pasir, karena makin erat kau genggam, pasirnya akan meluruh

Jadi janganlah takabur dan sombong, berendah hatilah dalam kelapangan, bersabarlah dalam kesulitan, semua itu hanya musim yang silih berganti seperti kemarau dan hujan, kalau ada sedikitpun niat hatimu berbangga dengan kepintaranmu, dengan kekayaanmu dengan kekuasaanmu bukan untukNya, simbah hanya bisa bilang: kaciannn deh loe,,,

Selasa, 05 Desember 2017

Melukis pelangi, menunggangi ombak

Melukis pelangi, menunggangi ombak

Kadang kehidupan memang menyisakan dikotomi yang datang dan pergi. Ada tawa hari ini, esoknya tangis, bahagia pergi, duka menghampiri. Ini mirip melihat hujan gelap dan disana ada pelangi. Pelangi yang indah selalu berbarengan datang dengan deras hujan. Demikian juga, ombak tinggi yang bisa menghempaskan perahu malah jadi berkah untuk peselancar. Artinya hidup selalu berhubungan dengan hal diatas. Bagi jiwa yang telah berhenti mencari, kehidupan yang naik turun awalnya begitu menyesakkan, namun semakin berlalunya waktu, itu adalah sebuah cara untuk mendidik diri ini memahami tidak ada yang buruk, semua baik.

Tinggal, apakah kita menjadi hujan gelap atau pelangi, menjadi perahu atau peselancar. Semua tergantung dari cara berfikir kita. Mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan, perlu belajar lama untuk sampai kesana, perlu keikhlasan dan rendah hati. Jadi jika saya merasa sedih, akan saya bayangkan menunggangi ombak mirip peselancar, butuh keseimbangan awalnya, namun begitu terbiasa, kesedihan adalah cara untuk membuat jiwa sekuat baja, seolah kesedihan adalah vitamin jiwa.

Kadang saat kesedihan datang, suka bayangkan melukis pelangi di kanvas hujan gelap, dengan warna mencolok seperti memberi kedamaian. Karena seyakinnya hidup adalah keseimbangan, yang baik pasti baik, yang buruk juga baik.

Saat sampai disana, tak ada yang bisa diucapkan selain terima kasih karena semua sudah sempurna,,,😊