Rabu, 28 November 2012

kesedihan berwajah indah*


suatu hari,,,
mungkin engkau akan  menemukan waktu dengan wajah murung
ia hanya bisa mendekap dan menekuk kaki dalam genggaman pedih
bukankah tak seharusnya hari indah dirayakan dengan muram
atau lain kali kemuraman tak cukup disesali dengan air mata
dengan nada terisak waktu berkata terbata-bata,,,,
ketika hidup hanya mengulang kesalahan yang sama
dimana kedamaian berjanji menemuinya

ahh,,,selalu saja kedamaian dicari saat perih mengiris hati
berapa lama batin meminta untuk dimengerti
kalau untuk mencuci semua kotoran tak perlu kesenangan di luar sana
telah berulang kali batin meminta kesedihan mampir menemuinya
hanya agar bisa menemukan wajah kedamaian di dalamnya
(kelak ketika waktu menanyakan hal yang sama,,,batin membisikkan sebuah rahasia)
saat kesedihan menghampiri,,,biarkan menyingkap sisi gelapmu
biarkan membersihkan semua daki hidup
niscaya akan kau lihat kesedihan tak selalu muram
wajah aslinya adalah keindahan

(*)kesedihan, kesakitan, musibah, apapun bentuknya, sebenarnya datang untuk mencuci kotoran batin kita , saat akhirnya kita tahu, kesedihan dan musibah berubah wajah menjadi indah; Gede Prama



Jumat, 23 November 2012

rumah musim panas


Hujan,, memang belum tuntas menunuaikan tugas
namun tanah basah seperti memberi aroma masa lalu
saat akhir waktu menyambangi rumah musim panas
bukankah itu yang sering dikhayalkan
tempat menyimpan semua angan di laci impian
masih sukakah hari ini kesana?

Hujan memang belum segera berlalu
namun betapa selalu merinduinya
tempat  debu berterbangan dijalan setapak yang gersang
lain kali menyusuri padang hanya buat melihat seekor kupu bercumbu
atau malam yang panas berbaring untuk melihat bintang
untuk itukah semua rindu ini tertahan?

Berdoa saja kelak  jadi tempat peristirahatan panjang
agar semua harapan, kehilangan, kebahagiaan menyatu 
hingga keheningan berpelukan dengan kesempurnaan
niscaya jejakNya bisa kau temukan dalam diam

Jumat, 09 November 2012

mengukir

 dan,,kamu mengukir senja, aku mengukir matahari
esoknya kamu membuat kanvas matahari terbit
aku coba menyaputnya dengan jingga sisa kemarin
lantas siapa yang jadi diri, siapa yang jadi bayangnya
bukankah sebuah janji akan ada tenggatnya
ufuk berkata dan mulai bertutur tentang kehidupan sebenarnya
katanya sejauh berjalan hanya akan kembali ke peraduan panjang

dan,,kamu mengukir pagi aku meletakkan tetesan  embun
pada daun yang berharap awal hari akan memberi bahagia
saat ditanya itu,,,yang tersisa hanya sunyi,,,tak ada jawaban pasti bukan
karena hidup sebenarnya hanya perlu keanggunan dan rendah hati
bukan perkara meng-ada atau menjadi
kalau tak ingin terjebak dalam labirin keinginan tanpa henti
coba tanya pada mentari atau pagi dimana letak hidup sejati
niscaya jawabannya hanya diam
(tak diperlukan sebuah jawaban bukan,,,saat engkau berjanji untuk menjadi pendarNya)



Rabu, 07 November 2012

akoe dan kamoe


kita telah berjalan untuk waktu yang tak ditentukan bukan
pernah mengalami kelokan dan liku yang tak saja menguras air mata
terlampau sering bercanda dengan kebahagiaan dan ternyata berlalu begitu saja
pernah kita tenggelam didalamnya dengan menggapai mimpi tersisa
bukannya engkau meratap, malah terbahak seraya berkata:
kamu terlampau lelah jalani hidup yang teramat indah
saya terhenyak lantas bertanya dengan kata kenapa?
kemarin di puncak tawa, hari ini nadir yang menyapa
bukankah itu indah,
kamu tau saya terdiam tak mengerti

bukankah pernah berkata, kita terlampau cepat berjalan melintasi jaman
sehingga tak sempat melihat ke dalam
ahh,,bukankah engkau berucap karena selalu saja tertinggal di padang
tempat kita pernah berjanji ditengah hari bersama sembahyang
selalu saja engkau tercecer di belakang lantas saat matahari mulai turun
engkau tersungut menghitam dan pelan menjadi gelap dan,,,hilang
saat bintang datang dirimu bertanya: kemana engkau tadi
mulai saya harus merunut satu-satu dengan rinci agar dirimu diam

jadi,,,
siapa dirimu tadi (saya terkaget-kaget)
mestinya saya bertanya siapa engkau
dan mulailah berdebat tentang siapa saya dan kamu
ketika lelah,,,tiba-tiba kita tertawa
bukankah tak penting siapa saya siapa kamu
kita hanyalah setitik debu dalam kosmos pengembaraan waktu
menanti untuk kembali
menuju sang maha sunyi