Sabtu, 30 Mei 2020

Lebaran

Lebaran
Lebaran itu dua bentuknya, 
Lebaran fisik dan lebaran ruhani
Lebaran fisik, wajah berseri karena atribut diri serba baru dan wangi
Lebaran ruhani,  hanya wajah spiritual yang berseri

Lebaran fisik bergembira karena bertemu keluarga, saling bermaaf2an seolah semua dosa hilang hari itu juga,  bahkan hutang minta dimaafkan dan dimaklumi

Lebaran ruhani,  menangis sedih tak terperi, perpisahan begitu terasa setelah mendekap sebulan penuh mesra dengan sang Khaliq.  Lebaran ruhani hanya meminta ampunan Nya,  menapak jalan akhirat penuh sahaja

Lebaran fisik,  begitu ramai dan berlimpah makanan dan kue,  berkunjung pada sanak saudara meminta maaf untuk menjadi fitri

Lebaran ruhani,  berlimpah cahaya ampunan dari Nya,  sepi di jalan sunyi menguak rahasia ilahi,  wajah2 spiritual bercahaya berseri meminta maghfirah Nya. 

Lebaran fisik begitu sibuk,  mudik menjadi wajib,  kembali ke kampung halaman,  membawa sedikit pamer kesuksesan di kota,  dan saat kembali,  berjuang untuk hidup demi setahun lagi

Lebaran ruhani hanya perlu kerendahan hati,  kembali pada diri sejati,  mudik ke kampung akhirat dengan berjanji,  taubatan nasuha membawa catatan amal dan dosa


Rabu, 27 Mei 2020

Normal

Jika nama anda adalah normal,  mending segera di ganti kalau tidak ingin dituduh provokasi.  Kalau di depan nama anda ditambah up, jadi upnormal,  anda akan dituduh gila.  Kalau di depan nama anda di tambah para jadi paranormal,  anda akan dituduh ndukun. 

Nama normal saja sudah mengandung pemahaman yang bias apalagi di tambah di depan atau di belakang.  Misal normalisasi dengan normalitas jauh maknanya.  Saat nama anda merasa jadi bulan bulanan anda merasa dunia makin menua,  dan anda nelongso di panggil old normal,  sehingga saat bangun tidur anda akan kaget ketika semua berubah.  New normal,  demikian kata istri anda bernama norma. 

Dimana mana yang old gak mungkin bisa menyatu dengan new, karena old identik bekas,  new identik dengan fresh. Jadi perkara normal memang bisa bikin ribet.  Sesuatu yang normal2 saja bisa di bikin diksi panjang menjadi frasa yang tak ketahuan akhirnya.  Jadi ya sudah cukup berhenti disini saja.


Sabtu, 23 Mei 2020

Lebaran

Sudah lebaran kah kita? 
Lebaran selalu identik dengan hari Raya idul fitri, setelah sebulan penuh menahan lapar dahaga di siang hari, kadang emosi jiwa memuncak, mata telinga hidung menjadi sensitif dikala itu. Hari ini semua telah berakhir,  besok kita merayakannya
. Sebagaimana perayaan,  tentu semarak,  utamanya di negri kita,  tidak afdol meninggalkan oernak perniknya walau di situasi pandemi covid. 

Saat kecil dulu,  ortu selalu bilang lebaran hanya untuk yang berpuasa,  tidak boleh makan ketupat plus opor,  tidak dapat baju baru,  tidak dapat "uang" unjung2 (dari kata anjang sana,  mungkin).  Jadi cara mendidik bahwa kalau kita berlapar lapar dahulu nikmatnya belakangan,  seperti itu yang dirasakan . Bahagianya sebagai anak kecil terasa luar biasa. 

Pertanyaannya,  sudah luluskah puasa kita sehingga esok kita berhak di wisuda menjadi manusia yang fitrah.  Jangan2 puasa kita mirip bedug,  awal dan akhir puasa,  tengah kosong plong.  Jangan2  kita bisa menahan lapar (perut)  dan dahaga (kerongkongan)  tapi kosong diantaranya (hati,  nurani). Atau aktifitas bawah perut makan intens. Jika demikian,  berhak di wisuda kah kita menjadi manusia yang fitri.  

Atau jangan2 puasa adalah cara kita sembunyi,  mirip bilik sunyi namun di dalamya riuh rendah memuaskan dahaga  syahwat tanpa henti sehingga bulan2 setelahnya,  menjadi terampil bahkan lebih ahli.  Jika sejatinya wisuda lebaran ijazah nya kita pakai 11 bulan berikutnya mengamalkan ilmu di madrasah Ramadhan,  maka yang ini malah sebaliknya .

Lebaran dalam bahasa Jawa berasal dari kata lebar,  selesai atau habis.  Jadi makna lebaran selesai  habis2an,  Ramadhan kita menenun kain kebaikan,  besok kita habiskan tak tersisa.  Sudah lebaran kah kita?


Sabtu, 16 Mei 2020

Absurd

Menjelang hari Raya,  mall marak orang dan mulai ramai, pakaian dan kue2 berjajar lengkap dengan potongan diskon besar2an.  Seluruh baju,  celana,  sepatu,  tas yang ada di gudang di keluarkan dan di percantik beserta asesorisnya.  Sarung,  kopyah,  mukena baju gamis terlihat mengkilat disinari lampu.  Kerumunan ibu2, anak perempuan begitu semangat memilih dan memilah disela rengekan anak kecil kepanasan minta es krim. Bapak2nya sedikit menjauhi kerumunan dengan tatapan kosong karena THR dalam hitungan sekedipan mata sekejap berpindah tangan. 

Hari2 terakhir puasa  memang menjadi pemandangan lazim,  jika mall diserbu terutama tempat baju dan aneka kue yang sepertinya lezat. Saya saja yang kebetulan kejebak disana minder dengan pemandangan itu.  Niatnya hanya "reportase" apakah puasa masih cukup disegani di sisa terakhir,  nyatanya lewat,  tanpa sungkan tempat jajanan dan makan (food court) di siang itu penuh dengan orang berbuka dengan tentengan belanja menggelepar di lantainya,  pertanda pemuasan ego terpenuhi tanpa malu. 

Inilah salah satu pernik menjelang lebaran,  keramaian nya mengalahkan hening nya puasa.  Jadi saking ramainya jika ada yang menulis status merasa sedih ditinggal Ramadhan (nulisnya di pojokan mall sambil ngemil kentang goreng) seperti rayuan maut manusia pada Tuhan nya,  dan malaikat hanya tersenyum masygul.  Jangan2 malaikat kalau bisa misuh seperti broedin, gunung langsung keder melihat absurditas manusia.  Tapi bukankah keramaian mall menjelang hari Raya adalah bukti cinta pada Nya? 
(Kenangan Ramadhan tahun lalu)