Kamis, 13 September 2012

of the body into the soul


sebuah cadik
tak akan sempurna mengayuh di ombak senyap
ia hanya butuh berkawan angin
lantas mengajak menari ombak yang  pendiam
meliuk tinggi rendah disela kelembutan awan
yang memandangi dengan nada heran
sejak kapan ombak menari penuh penghayatan
sebab bukankah terkadang ia tak bisa melihat diri sendiri
tak pernah bisa berkaca dengan kedalaman
melihat hidup dengan mata terbuka, bukan dengan mata hati

sebuah cadik
menjadi bermakna bukan karena tempat dimana ia berlabuh
namun seberapa tahan melihat alun tiba-tiba dipenuhi kemarahan
kemana coba,,,
bukankah itu selalu yang ditanya
yaa,,,selalu saja ombak menerka kemana perginya
pernah suatu saat sang ombak bertanya:
kenapa tak diam saja saat musim barat hampir tiba
berlabuh di teluk dimana airnya bening dipenuhi pasir yang makin hari,,,
menawan seperti mata gadis kecil yang meminta sepotong permen kesukaannya

kamu tahu,,,
demikian ombak suatu hari bercerita
ia pernah mendengar, kemanapun cadik pergi
melewati gunung ombak yang tinggi
melewati angin yang tiba-tiba menghampiri buritan
ketakutannya bukan hempasan yang membuatnya tenggelam
namun bila tiba-tiba ombak menjadi senyap, buatnya itu kematian
sebab tenggelam baginya tempat rumah berpulang
berpulang di kedalaman dimana sang jiwa menemukan hidupnya
(awan termangu heran mendengar ombak bercerita, baginya apapun yang tampak dari atas sana, semuanya penuh eksotika)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar