Selasa, 18 September 2012

memberimu lupa


laut begitu tenang sore itu, riak ombak hanya seperti alun yang memilin harap
mirip jejak kaki yang menapak dalam di pasir putih membentuk silhuete
saat dipandang dari jauh seperti mengular mengikuti garis pantai dan perlahan,,,
sebagian jejaknya hilang lembut tersapu air laut seolah hendak berpesan:
saat kau hanya menafikan kemarin dan menyembunyikan ketakutan
aku akan memberimu lupa,,,
semuanya?
semuanya,,,apapun itu,,seperti genggaman telapak kaki yang menyentuh pasir
kemudian meluruh sesaat alun yang lembut menggelitik kakimu
menghilangkan jejaknya

jadi ini perkara apa?
ahh,,bukankah engkau telah lupa, kenapa harus bertanya pula
mirip dengan hujan yang membasuh wajah tangismu bukan,,,
kau tak bisa bedakan mana air mata dan titik hujan 
maksudnya?
ahhh,,,tangisan bukan kecengengan juga bukan pertanda lemah
ia hanya moment untuk menatap resah dengan cara tak biasa
biarkan saja bila masa lalu bercerita tentang sejarah
toh telah lupa (demikian kata yang terucap)
lantas,,,akan kemana setelahnya?
hmmm,,,kamu lihat kemana sang ufuk pergi saat bintang segera menyambangi?
tak tahu,,
dia hanya singgah sebentar sebelum pergi menuju gerbang sunyi
(apakah ia akan kembali?)
engkau bertanya padaku?
yaaa,,pada siapa lagi
tidak,,,ia hanya masuk pada syak wasangka yang gembira
dimana itu?
tempat ia menemukan Tuhannya
jawabanmu membingungkanku
tempat semua kedamaian hanya dipahami dengan meletakkan dirimu
dalam ikhlas yang sebenarnya

jadi,,,engkau telah memberinya lupa?
yaa,,dia bukan yang kemarin
terus apa katanya?
 itu hal yang teramat bijaksana
dimana dan siapa dia sekarang ?
diatidak kemana-mana dan bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, entitas tak bernama
dia hanya dia




Tidak ada komentar:

Posting Komentar