Selasa, 13 Maret 2012

ceceran perjalanan kemarin


Secara tidak sengaja karena kemacetan yang parah di Probolinggo, mengharuskan mencari jalan alternatif yang sebelumnya tidak saya kenali. Hanya merunut jalan dengan harapan menemukan jalan arah ke Situbondo, menyebabkan saya kesasar di sebuah tempat, senang sekaligus sedih karena ada petunjuk begini : Ke Bromo. Senang karena tidak menduga tempat itu hanya kurang beberapa kelok lagi menuju tempat dimana saya pernah berjanji akan datang dengan orang yang saya sayangi. Sedih karena tujuan awal saya memang bukan kesana, ditambah waktu yang sempit karena tugas mengejar didepan, sehingga saya hanya bisa menepis asa kalau kelak pasti akan kesana lagi.

Satu hal yang tak berubah adalah aroma kabut yang datang seperti menyambut saya laksana kerinduan setelah sekian lama tak kembali. Aroma kabut yang membuat dulu berjanji untuk kembali dengan mengajak orang tersayang. Aroma kabut itulah yang mungkin telah menyublim-kan nama saya ketika saya tulis di lautan pasirnya seperti janji yang hari ini hampir saya tepati.

Apapun janji yang pernah terucap saya selalu berusaha untuk melunasinya termasuk untuk hal satu ini. Bromo seperti bagian kepingan yang membentuk saya hari ini. Ada eksotika yang membentuk jiwa ini menjadi lebih gampang sentimentil. Saya pernah berdiri di puncaknya dengan angin mendesir dan dingin, tidak banyak orang disana, yang ada hanya saya sendiri dan sunyi. Jadi saat saya mampir di berandanya, semua benak berisi kenangan dan janji untuk kembali, karena jujur saya jatuh cinta dengan keelokannya. Entah kenapa, keindahan yang saya pahami tentang bromo tidak semata karena alamnya yang memang eksotis, namun karena saya pernah kesana dan memahami keindahan sepi itu seperti apa. Dan kemarin saya mampir di berandanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar