Intinya pulang kudu membawa damai, peace, gak perduli punya uang apa gak. Dan damai meski konon bisa dibeli dengan uang tapi itu damai yang instan. Damai itu bukan obyek kayak barang etalase. Ia ditumbuhkan, ia disadari mirip menanam pohon. Ia dipupuk, dipangkas, disiangi, agar akarnya kuat ke dalam, batangnya tinggi menjulang. Jadi butuh waktu lama tubuh ini merasai dan meresapi damai. Mirip atlit sprinter yang berlatih tahunan.
Jika tidak dilatih, otot atlit itu bisa artropi saat pertandingan. Demikian juga otot damai dalam tubuhmu. Menerima kekalahan, kekecewaan, kepedihan, senyum pagi hari saat nyeruput kopi, bersyukur ente masih bisa bernafas sementara sudah banyak temen yang hilang dari peredaran dunia ini. Itu adalah cara melatih otot damai dalam ubuhmu.
Sebab kita tidak tahu kapan waktu boarding pass tiba, ente hanya bisa menunggu sembari menguatkan otot kedamaian tubuhmu. Kalau tidak, saat getol2nya nyari R. P sama malaikat di typo hurufnya jadi
R. I. P. Gak apa2 kalau rest in peace kalau Ribet In Pulang kan amsiong... 😰😰😰.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar