Setelah usia menua, baru sadar tak semua keinginan harus tercapai. Kadang pencapaian itu malah membilkin capai, memberatkan. Hidup ke dunia mirip traveling suatu saat akan kembali pulang. Saat berangkat kita begitu gembira membayangkan petualangan, dan saat waktunya pulang merindukan hangatnya rumah. Keduanya bersifat sama, ada kedamaian disana.
Tapi sayang, sebagian orang tak mengalaminya. Saat berangkat kedunia dimulai dengan tangisan, saat pulang diwarnai tangisan pula. Semua orang berangkat ke dunia dengan membawa tiket yang sama tiket pulang pergi. Saat pulang kebingungan dan menangis karena tiket pulang hilang, tercecer dikehidupan yang melenakan.
Tiba tiba di gerbang keberangkatan pulang ada suara pengumuman :
"hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan Ridho dan diridhoi Nya dan masuklah kedalam surgaku".
Ternyata itu tiketnya dan kita tak memilikinya. Karena seumur hidup terpaku dengan oleh oleh berupa harta, kuasa dan amalan2 berharap surga, yang disangka itu tiketnya.
Hidup ternyata bukanlah menumpuk harta namun menimbun koin2 kesadaran yang ditukar dengan tiket pulang saat boarding pass . Saat kesadaran itu terlambat kita hanya bisa termangu masygul. Ternyata pulang hanya perlu jiwa yang tenang, jiwa yang damai tak lebih dari itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar