Rabu, 28 Januari 2026

titik sunyi

Saya punya tempat imajiner di benak dimana tempat itu merupakan pelarian saat dunia nyata jenuh. Tempat itu adalah sebuah bukit kecil yang menghadap laut, puncaknya datar bisa buat camping ground. 

Bayangan imajiner diatasnya ada gubuk kecil untuk berteduh dan melamun sembari melihat laut lepas. Atsu malam malam gelar tikar disana dengan api unggun kecil disamping seraya menatap bulan Purnama. 

Kadang memandangi ribuan Bintang sambil menyeduh kopi dengan hamparan kerlip cahaya lampu nelayan di kejauhan. 

Tiap malam saya sempatkan selalu kesana hanya untuk menemukan oase keheningan dan kedamaian sambil merenung,  telah banyak langkah di kehidupan ini tapi makin jauh dari Nya, makin tak terjangkau IA. Apanya yang salah? 

Materi, karir puncak , kepintaran ternyata tak mampu mengisi kekosongan batin.  Bahkan menjadi hijab dan jarak antara sang aku dan Dia. Ternyata semua pencapaian tak mampu mendekatkan pada Nya. Bahkan terasa asing dan sia sia. 

Ditempat yang sederhana itu batin menemukan kesadaran bahwa raga hanya tools Nya,  aslinya diri ini tiada, kosong dan hanya IA yang ada. Tempat ini sederhana namun disana sang aku menemukan kesadaran bahwa kesejatian menemukan dirinya di kesunyian. 

Dan dalam kesederhanaannya saya menamai tempat itu titik sunyi. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar