Senin, 22 Juni 2026

pulang ke kotamu...

Saya ini orang yg berfikiran realistis banget,  misal,  ada yg bikin, status sedih karena habis ini ditinggal Ramadhan, maaf2 nih ye,  kata orang betawi, ada sedikit kecongkakan atau show of force spiritualism disana,  bagaimana mungkin sedih ditinggalkan Ramadhan,  namun hati dan pikirannya sibuk mempersiapkan lebaran,  persiapan mudik.

Bahkan kalau gak mudik,  mungkin sedang membuat alibi dengan bilang sedih karena belum tentu tahun depan ketemu Ramadhan. Saya ini agak udik dengan urusan demikian,  kenapa?,  jujur dengan berakhirnya puasa,  seneng banget rasanya. 

Puasa buat saya adalah penghematan yg luar biasa,  kebiasaan ngopi hilang,  kebiasaan asupan gula berlebihan yg membebani metabolisme saya berkurang.  Seneng,  karena di tingkatan puasa saya yg masih mirip anak TK,  bangun sahur, adalah perjuangan yg luar biasa,  dan setelah ini tidak lagi. Perkara tahun depan ketemu atau ga, dengan ramadhan,  bukankah kita tinggal menjalaninya. 

Memang benar,  Bulan puasa,  kata khatib jumat siang tadi  adalah bulan dimana kucuran berkah begitu luar biasa, bulan pengampunan yg tdk bisa diperoleh di bulan lainnya. Namun, bukankah "pertandingan yang sebenarnya" ada di 11bulan berikutnya?

Ramadhan hanya training center sebelum kita kembali disibukkan dengan pemenuhan ego yang tiada habisnya.
Puasa, dalam pandangan "nakal" saya, adalah melatih "kematian" dengan berjarak pada materi.

Puasa adalah cara belajar meniada, melepas beban tubuh dengan memberi kesempatan jiwa kembali pada habitat sebenarnya.
Puasa jadi semacam " kubangan kecil" tempat kita mengais jejak DNA kita, dari mana asal diri ini sebenarnya dan akan bergerak kemana.

Melatih kepekaan ini penting karena jika tidak, diri akan ditarik kemanapun, terombang ambing dengan berbagai penampakan akhir tujuan kehidupan.

Terus apakah saya merancang untuk mudik? Mudik saya mungkin agak berbeda, bukan pulkam, namun ke kota dimana saya mengawali karir dan ketemu anak mertua. Rasanya seperti dilempar ke masa lalu, dan kok ya pas puasa, sehingga menimbulkan kembali frame2 hidup masa lalu yang tak ingin diingat(disini saya merasa sedih). 

Biarlah puasa saya masih di tingkatan alif belum ba,ta apalagi tsa, yang penting tahun ini saya bisa membuat anak mertua bahagia bisa pulang ke kota kelahirannya,,,,😀. 

Jadi sepanjang perjalanan tadi lagu wajibnya :,,,,pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu, masih seperti dulu,tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna,,,, 😭😭😭😥😥(nyanyi2 sampe seret gulu iki kekurangan asupan cairan,,, 😀😀😀)

java vs jawa

Java(jawa) adalah bahasa pemrograman yang aplikasinya sdh banyak dipakai, jadi apa salahnya hal yang berbau english kita terjemahkan ke bahasa jawa misal:
1. Facebook jd raibuku 
2. email jd warta setrum 
3. sms jadi wc(warta cekak)
4. HP jd TG(Telpon Gegem),
5. WA (whatsap) dadi WA(warta angin) 
6. WWW(world wide web)  dadi JJJ( jejaring jagat jembar) 
7. Googling dadi nguthik
8. Status dadi nyopo/sopo
9. GPS(global positioning system) dadi CGP(coro golek panggonan) 
10. CCTV (close circuit television) dadi DDSA(didelok soko adoh) 
11. Download dadi unduh upload dadi unggah
12. ATM(auto teller machine)  dadi DMD(duit metu dewe) 
13. Debt (hutang)  dadi lali
Gimana,,,,, kerreeen khan meskipun agak maksa singkatannya....😁😁

gak ada judul

Dalam dunia berbasis kapital,  fungsi itu tidak penting,  brand yang terpenting.
Dalam dunia berbasis spiritual,  brand itu tidak penting,  fungsi itu yang terpenting
(“Khairunnas anfa'uhum linnas”).

#gambar hanya pemanis belaka

ngemeng2

Udara bergerak dari tempat bertekanan tinggi ke takanan rendah,  terciptalah angin.
Air bergerak dari tempat tinggi ke tempat rendah,  terciptalah aliran. 
Energi Nya bergerak dari tinggi ke rendah,  makanya orang yang tinggi hati, sombong, di sadari apa tidak,  sulit sekali mencapai "aliran kesadaran keilahian".

Orang2 seperti ini terjebak dalam keakuan palsu dan absurd, semisal firaun. Masalahnya firaun sekarang tidak seperti dulu yang mengaku2 tuhan,  firaun sekarang cukup menyuruh Tuhan yang sebenarnya seperti pelayan. Gak percaya? terlihat dalam berdoa  mintanya banyak dan maunya segera dikabulkan.....😁😁
#ngemeng2

belajar pada angin

"Angin apapun adanya ia,,,tugasnya hanya satu, menghapus semua realita yang menyedihkan dengan kelembutan, oleh karenanya ia selalu bergerak bukan untuk menunjukkan ketidak pastian dan anti kemapanan, bukankah kehidupan memang demikian, selalu bergerak dan berubah" (belajar pada angin)