Bukankah manusia juga demikian?
Ia mirip layar proyektor yang bergerak. Semua rona kehidupan dari yang sedang dan akan dijalani semua sudah tertulis skenarionya. Tinggal menjalankan saja hingga waktunya tiba mengakhiri semuanya.
Sebuah screen seperti layar videotron di perempatan jalan berisi ribuan lampu led yang akan menyala sesuai warna yang diprogram. Terkadang ada spot hitam saat video menyala. Itu tandanya lampu led di titik tersebut mati. Teknisi tinggal mengganti lampu led yang mati.
Jadi kalau ada orang dipuncak kesuksesan dan ngaku kalau itu berkat kerja keras upaya sendiri itu mirip layar videotron ada spot hitam ditengah karena lampu lednya mati.
Karen semua kesuksesan, kebahagiaan hingga kesedihan dan nelangsa sesungguhnya bukan kita, itu ilusi. Kita hanya sedang memproyeksikan peran/video itu. Kita tak punya kuasa apapun juga semua tergantung sang sutradara Kita hanyalah proyektor kosong, putih bersih.
Kalau ada jelaga hitam berarti kita berupaya mengakui ada andil diri di setiap kesuksesan dan menyalahkan eksternal jika ada kegagalan. Itu sombong namanya. Manusia yang Indah adalah manusia sebagai proyektor, screen nya bersih tak ada jelaga hitam karena punya kesadaran kalau ia hanya sekedar melakoni hidup. Mirip kesadaran yang dimiliki bulan yang cahaya pantulan nya Indah, meski tahu permukaan bulan tak rata ada bopengnya juga... ππ