Minggu, 14 Juni 2026

pak Gede talks

Puncak semua kemenangan...

Di zaman dulu karena tidak ada perangkat baca tulis, tetua mewariskan ajaran suci melalui simbol-simbol. Itu terjadi di seluruh dunia.

Di pulau cinta kasih Bali, hari ini hari penampahan Galungan. Simbolnya memotong babi ketidaktahuan (avidya). Jika berhasil, besok di Galungan bisa menjadi seorang pemenang.

Sebagaimana belajar fisika, ketidaktahuan juga ada banyak tingkatannya. Tapi diantara semua ketidaktahuan, yg paling berbahaya adalah menganggap dualitas itu ada dan nyata.

Sebagaimana diteliti di dunia neuro-science (otak), dualitas seperti salah-benar, sedih senang, itu cara otak mengerti realita. Bukan realita.

Otak manusia hanya bisa mengerti Cahaya jika ada kegelapan, baru mengerti warna putih jika ada warna bukan putih. Tanpa dualitas, otak akan gagal mengerti.

Cerita sedihnya, sejak dulu banyak manusia yg tidak bisa membedakan ini: "Mana realita, mana cara otak mengerti realita". Ujungnya adalah penderitaan yg tidak berujung. 

Perhatikan mata manusia sejak dulu sampai kini, nyaris semuanya penuh penderitaan: "Menangis saat kehidupan tidak sesuai harapan, tertawa tatkala kehidupan sesuai dg harapan".

Padahal, kehidupan selalu bergerak melampaui semua harapan. Sekali lagi, melampaui semua harapan. Penderitaan terjadi, karena memaksa kehidupan harus sama dg harapan.

Benih kesembuhan dan kedamaian mulai tumbuh indah di dalam, begitu seseorang meletakkan harapan di tempat semula sebagai pelayan.

Harapan hanya pelayan sementara. Yg membuat bangun pagi lebih indah, yg membuat hidup berisi banyak energi, yg membuat langkah ke depan jadi bertenaga.

Tapi jangan lupa, begitu harapan tidak terpenuhi, kembalilah ke sifat alami kehidupan yg selalu mengalir. Apa saja yg terlahir, pasti mati suatu hari.

Semenjengkelkan dan semenyenangkan apa pun seseorang, ia pasti berpisah. Ingat, secantik apa pun bunga indah, ia akan jadi sampah.

Makanya, keluarga spiritual Compassion sejak awal telah dibimbing dg pesan ringkas tapi apik: "Terima, mengalir, senyum". Semua adalah tarian kesempurnaan.

Begitu menyatu dg tarian suci di alam, di sana seseorang baru mengerti pesan GA Buddha berupa anatta. Tidak ada diri yg tetap, ada diri yg mengalir.

Tidak ada diri yg terpisah, ada diri yg serba terhubung. Dalam bahasa fisika, semuanya hanya energi yg serba terhubung. Fisikawan bernas Dr. David Bohm menulis: "Health comes from whole".

Kesembuhan dan kedamaian hanya bisa dicapai oleh ia yg tinggal di rumah indah ke-u-Tuhan. Di tingkatan ini, kematian tidak disertai tangisan, ia terbukanya pintu kebebasan. 

Sehingga bisa dimaklumi, tetua suku Indian di Amerika pernah berpesan: "Back home as a hero". Tatkala wafat, ingat utk pulang sebagai pememang.

Dan diantara semua kemenangan, yg paling menyelamatkan perjalanan jiwa adalah kebebasan. Krisnamurti menyebutnya Freedom from the known.

Tetua di China memberinya nama Tao. Di atap bumi Tibet disebut Rigpa. Tetua Bali menyebutnya Embang (the ultimate silence). Semoga semua mahluk berbahagia.


Sabtu, 13 Juni 2026

kunci bahagia

Gus, apa kuncinya bahagia?
"Jangan memikirkan apa yang
kamu tidak tahu."

Kalau yang diketahui, Gus? 
"Lha, kalau sudah tahu buat apa dipikir?"
- Gus Dur

😁😁😁 wes tak kandani ojo mikir...

Jumat, 12 Juni 2026

renungan hari ini

' Di dunia material manusia menjadi kaya karena mengumpulkan.... 
Di dunia spiritual jiwa jiwa jadi kaya karena mengikhlaskan "
#pak Gede 

Rabu, 10 Juni 2026

mungkin

Mungkin kita perlu secangkir teh
untuk lebih mengenal kopi 

renungan hari ini

Hidup sepertinya keterlanjuran,  terlanjur  punya nafas , terlanjur punya impian. Terlanjur jadi manusia yg punya tanggung jawab,  terlanjur janji membahagiakan anak mertua. Jadilah  hidup kita saling berkejaran. 

Nafas hanya sebentar,  apanya yang mau dikejar...... 😁😁😁

apa yang kau cari Adinda

Apa yang sebenarnya kau cari adinda..... ?
Sejenak terhenyak saat mengira pencapaian mu adalah sebentuk puncak,  sedangkan perjalanan mu meniti mulai Alif,,, tak beranjak sedikitpun menemui Ba' tapi mengira  sudah mencapai Hamzah dan Ya'
Teganya menafikan diri sejati mu dan menafikan Nya
Bukankah sepanjang hari dirimu tertidur dalam pikiran, ambisi dan keinginan2 mu.  Dan teganya engkau berkata Dia dimana? dimana?...Bukankah Ia ada selalu di samping mu sayang,,,,, memelukmu saat kau limbung tapi kau merasa Ia tak ada.... 
Sebenarnya apa yang sedang kau cari Adinda.... 

Bukankah hidup hanya merenda waktu sebelum peluit berbunyi,  pertanda  kereta tiba,  membawa kita menuju keabadian.  Seolah di akhir waktu dirimu  merasa karib dengan Nya.... 
Walau pernah bilang dalam keluh kesah mu kau merasa di abaikan Nya

Sebenarnya apa yang sedang kau cari adinda..... 
Pencarian mu,  pencapaian mu,  di titik akhir hanya sia sia belaka.
Kemana waktu terbuang,,,, kemana asa terbilang,  kalau bukan kembali ke haribaan Nya.... dan menangis dirimu menyesalinya,,,,

pengalaman yang mendaging

Saat  bayi kita masih murni,  tahunya hanya makan,  netek,  pipis dan beol.  Perlahan lingkungan (ortu) membentuk persepsi diri kita. 
Awalnya fisik,  si cantik,  si ganteng,  pesek,  gendut,  keriting dsb. 

Makin banyak pengalaman sampai dewasa,  makin beragam persepsi tentang diri. Dokter, pilot, presiden, pengemis, sopir dsb, peran tersebut kita mempersepsikan diri,  identitas yg terbentuk dari pengalaman laku .  Ada yg gelinding,  ada yg di arahkan,  apapun itu. 
Jadi.... diri ini , tubuh ini, pikiran ini sebagai manusia adalah kumpulan dari banyak pengalaman.
Kita rupanya adalah sekumpulan pengalaman yg mendaging