Terkadang tukang bakso😁
Jari Pena
bertahun tahun kuketuk pintu Mu lama tak terbuka setelah terbuka baru sadar ternyata aku mengetuknya dari dalam #rumi
Kamis, 08 Oktober 2026
Rabu, 07 Oktober 2026
Pengen pulang
Ane ngalamin ketemu orang yang demensia selalu minta pulang saat egonya gak nyaman padahal ada dirumahnya sendiri.
Saat ane coba tafakuri menemukan hal begini :
- masih ada luka batin di masa lalu yang belum sembuh dan belum termaafkan.
- pulang adalah cara kembali ke sebuah tempat nyaman dimana yang bersangkutan bisa diterima dengan hangat.
- bisa jadi pulang adalah kembali ke rumah sejati dimana ego menunduk pada ruhani dan itu perlu kesadaran/ awakening yang dibangun bertahun tahun dari laku diri/ tempaan hidup.
pernah denger : "hai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhan mu dengan ridha dan diridhai..."
ini adalah kunci pintu dari rumah sejati, jiwa yang tenang, jiwa yang damai...
Bagaimana menerapkannya dalam keseharian? mungkin kita harus belajar kata cukup... dari semua hal.
Memang sebuah kisah hidup mengaruskan ada akhir, namun ditengahnya ada interlude bernama jeda, tempat kita menarik nafas dari pengejaran semu.
Dan saat jeda biar nafas kita menghirup dalam dalam dan menyerahkannya pada sunyi...
Menyusuri...
Menyusuri bagian terdalam dari dirimu seperti terlempar ke masa lalu saat hidup hanya berkutat dari sana ke sini untuk sebuah kenyataan jikalau menemui Mu hal tersulit.
Saat itu hidup hanya coba merangkai kalimat doa dan harapan dalam waktu yang sama, belum pahami benar makna ikhlasnya ldi titik mana, karena sering menguap menjadi titik kulminasi yang tiba2 bisa di nadir dalam sekejap.
Dan air mata kehabisan cara untuk membendungnya hingga sampai mengeringpun hanya bekas memori yang tak ingin diingat lagi. Kami bertiga* pernah jalani kehidupan yang hari ini dipahami teramat eksotika, tapi dulu tak mengerti kemana arahnya, karena yang tertumpah hanya tetes air mata.
Jadi kembali menyusurimu, tak ada yang berubah, hanya langkah yang makin merenta dan dirimu perlahan menjadi pesolek, mirip gadis yang terlambat tahu, kalau kecantikan bukan dari gincu semata ( geli saya melihatnya).
Kadang tak menyangka, kami bertiga* dididik untuk memahami setiap lubang jalan kehidupan yang dilalui hanya kolase yang tak harus dirasakan sakitnya, ia mirip sebuah jeda. Dan hafal tatkala setelahnya melihat pagi, embun, cicit burung dengan cara yang berbeda. Itulah makna ikhlas, di titik tawa dan tangis kami menariknya dalam garis linier yang sama dan kami menamakannya Cinta.
*ayah, mama dan adinda
Langganan:
Postingan (Atom)




