Jumat, 27 Februari 2026

arti hidup

Sebagian dari kita sepanjang umur, dihabiskan utk mencari makna hidup itu apa, sedari kecil kita diajarkan bila sukses hidup adalah pencapaian tertentu dari sisi materi dan pangkat sehingga sejak kecil hidup kita telah diatur untuk sekolah dimana, bergaul dengan siapa. Institusi bernama sekolah tak pelak dipahami satu2nya jalan buat mencapai kesuksesan. 

Namun sebagaimana hidup juga bertutur, ketika akhirnya  pencapaian itu diperoleh, kita malah capai sendiri, dan mulai mencari apa sebenarnya makna hidup ini. Kembali kita menengok ke belakang ketika ketulusan masih ada di sekolah bersama teman begitu nikmat, sehingga yang namanya reuni menjadi hal yang dinantikan karena menemukan jejak akar rumput kita .

Sepanjang hidup ini kita mencari pecapaian yang bermakna ke luar, outer journey bukan inner journey, selama itu pula kita menghabiskan waktu dengan pertanyaan yang sama, apa makna hidup ini. 

Saat tubuh mulai merenta, fisik tidak sekuat dulu lagi, diakhir perjalanan di dunia, ketika genta bernama kematian tiba, akhirnya sadar apa yang dilakukan sepanjang hidup mengejar ini itu hanya berakhir sia2, dan Tuhan menghukum kita bukan dengan apa2 namun dengn sebuah kata : "terlambat".

Rabu, 25 Februari 2026

suami sabar

Ada suami yg tdk pernah marah/membentak istrinya.
Ketika orang bertanya, diapun bercerita:
"Dulu aku pernah melihat istriku dicakar oleh kucingnya. Dia tersenyum & berkata "SATU".

Keesokan kucing itu mencakar istriku tp dia tetap tersenyum & berkata "DUA".
Ternyata esoknya kucing itu mencakar istriku lagi.
Dengan tersenyum dia berkata "TIGA".

Kemudian dia mengambil bungkusan & menaburkan diatas ikan yg dihidangkan ke si kucing, yg segera melahapnya& badannya pun kejet2 & mati.
Aku yang terkejut langsung berteriak marah, "Hei kau sudah gila ya. kau racun kucing itu hanya krn mencakarmu..!!"

Istriku tersenyum sambil berkata, "SATU".
Sejak saat itu aku tak pernah lagi memarahi istriku

hujan di kota ini

Hujan ini begitu elok menurunkan rinainya,  hawa yang dingin,  langit kelabu dan pasi,  mendung yang melarutkan bulirnya hingga menembus tanah dan hilang entah kemana. 

Hujan ini begitu eksotika hingga cahaya langit  memudar seperti kehilangan gairah,  tapi tetap terasa syahdu seolah membawa pesan : perjalanan hidup,  mirip kumpulan rindu yang membentang membentuk pelangi.
Bukankah itu sebentuk Cinta Nya?

Selasa, 24 Februari 2026

king bejo dan kang bejo

Sebutannya King Bejo,  seorang juragan tanah merangkap pengusaha properti yang sukses di kotanya.  Nama bejo dalam bahasa Jawa berarti beruntung, sebutan king karena propertinya ada dimana mana. 
Rumah mewahnya berlantai dua di sebuah perumahan elit,  salah satu properti miliknya . Ada di posisi strategis di pojok menghadap lapangan golf, pohon hijau merindang dan didekatnya ada danau buatan. 

Pagi tiap bangun tidur akan terlihat pemandangan itu dari kamarnya. King bejo menikmati view itu sambil menyeruput segelas kopi luwak dan sepotong cruisan dari balkon kamarnya sambil memeriksa portofolionya. King Bejo merasa bahagia, hatinya damai, definisi sukses yang dicapai berkat kerja keras. 

Puluhan kilometer dari tempat itu,  di sebuah desa terpencil,  kang bejo juga tengah menyeruput kopi nasgithel buatan sang istri yang merangkap barkochet (barista kopi sachet) beserta sepiring pisang goreng hasil kebun. 
 Didepannya terbentang jalan desa, sawah menghijau dengan latar belakang air terjun dari bukit. Hatinya penuh syukur dan damai,  kebahagiaannya muncul dengan melihat anugerah itu. 

Keduanya bahagia, yang satu dibangun dengan kerja keras dan biaya mahal,  satunya gratis pemberian tuhan. Ternyata kebahagiaan bisa diperoleh dua jalan,  dengan meraih sukses dan memperoleh materi.  Satunya dengan mensyukuri apa adanya.  Keduanya sah sah saja,  sebab saat keduanya "kembali" nanti,  masing2 akan melaporkan tugasnya di dunia dengan membawa SPJ - nya sendiri2 bukan. 

sore menengok langit

Kita pernah berjalan suatu ketika berdua menyusuri hujan dengan sebuah penggal lagu yang lupa dari ingatan, namun tetesnya begitu mengena dan tersirat untuk janji bersama membesarkan anak kita dengan kidung dan puisi.

Bahkan tergelak saat tahu "senyuman Tuhan" membuat kita ketagihan dengan kenaifan2 kecil membaca langit sore seperti melihat gumpalan eskrim dan saat malam tiba melihat bintang, kita menatapnya tanpa henti seolah bertanya kenapa kedipannya begitu mempesona. 

Dan kita tanpa sadar menangis saat daun luruh karena angin, begitu eksotikanya. Lantas tertawa kenapa begitu naif menangisinya toh kelak dia kembali menjadi tunas. Dan saking asiknya jadi tak perduli dengan apa yang kita peroleh, acuh dengan pencapaian yang terasa nisbi dibanding dengan sejuknya angin berbisik seolah bilang : " kalau dari awal sebenarnya kita tak punya apa-apa, kenapa harus menyesali kehilangan kecil di dunia yang memang kita tak pernah memilikinya "
#soremenengoklangit

sore menengok langit 2

" kalau dari awal sebenarnya kita tak punya apa-apa, kenapa harus menyesali kehilangan kecil di dunia yang memang kita tak pernah memilikinya "
#soremenengoklangit

Sabtu, 21 Februari 2026

satu hari

Dalam Qur'an surat al-hajj :47 ditulis bahwa satu hari di sisi Tuhanmu sama dengan seribu tahun di dunia.  Artinya satu jam di akhirat setara 41,6 tahun di dunia.  Jika harapan hidup manusia adalah usia 60 - 70 tahun setara di akhirat 1,44 - 1,68 jam atau 86-100 menit. Cukup singkat buat menyadari kalau diri ini hanya serpihan debu semesta. 

Jadi yang hari ini lagi menangis lara karena hidup belum berpihak atau lagi tertawa bahagia , percayalah semua momen itu akan berlalu. Tidak ada yang abadi di dunia dikotomi ini.  Pak Gede Prama pernah bilang : setiap kebahagiaan yang datang dari  pintu depan , kesedihan telah menunggu di pintu belakang. 

Karena hidup di dunia ini bukanlah apa yang didapat tapi apa yang diperbuat . Kesedihan dan kebahagiaan mirip awan dan mendung yang datang silih berganti. Kita  adalah langit birunya. Kita hanya pengamat momen itu.

Mirip televisi yang menyiarkan drama kesedihan dan drama kebahagiaan . Drama itu bukan kita,  kita hanya alat proyeksi belaka,  kita adalah televisinya. Semua akan kembali ke asalnya,  semua kegaduhan hidup ini... 
ke ibu keheningan.