Adakah hubungan trend genre musik dangdut sebagai perlawanan budaya rakyat bawah terhadap negara?
Dijaman orba kita kenal musik dangdut dengan musik mendayu2. Apa mungkin mencerminkan kondisi saat itu ketika kebebasan bicara dikekang termasuk lirik lagu.
Setelah reformasi, kebebasan bicara dibuka, namun kemakmuran tak kunjung tiba, rakyat marah di ekspresikan dalam musik dangdut beraliran koplo yang menghentak.
Sekarang yang lagi trend adalah musik beraliran "ambyar" yang dipopulerkan alm. Lord Didi Kempot sebagai godfather of brokenheart lagu yang mendayu2 alias melow, menggambarkan bagaimana seseorang yang patah hati di tinggal kekasihnya, harapan yang sirna alias ambyar, dan begitu antusias diterima oleh masyarakat kita.
Apakah ini menggambarkan keputus- asaan rakyat kebanyakan saat harapan kemakmuran hanya janji belaka? Entahlah,,,, lagu2 seperti stasiun balapan, sewu kuto sampai yang terbaru seperti cidro dan pamer bojo begitu populer bahkan dikalangan anak muda.
Melasss pol lagune,,,, jangan2 ini adalah refleksi rakyat kebanyakan,,,, melas. Buktinya lagu ini diterima oleh masyarakat yang merasa ambyar dengan sebuah harapan,,,, πππ
Mudah2an trends dangdut ke depan lebih menghentak, lebih dari koplo tapi punya semangat dan rasa syukur. Namanya musik dangdut pepo alias karepe sopo,,,, *
*(pengamat dangdut abal2)
ππππ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar