bertahun tahun kuketuk pintu Mu lama tak terbuka setelah terbuka baru sadar ternyata aku mengetuknya dari dalam #rumi
Minggu, 02 Desember 2012
tepi sunyi
deru nafas
seperti hilang di angin lekang
memahami cinta seperti menari-nari memeluk matahari yang tenggelam sebelum waktunya
bulirnya seperti angin hangat tertiup sunyi
dimana setiap jiwa yang hilang ingin kembali
bertemu ditepi padang abadi
tenpat damai hanya dimengerti dengan rendah hati
sirna
detik yang melayang
tertangkap oleh genggaman
sesaat hembusan nafas
serupa takdir tersisih di ujung jaman
aku tahu kemana harus kembali
menuju tiada
tempat awal dan akhir sirna
Rabu, 28 November 2012
kesedihan berwajah indah*
suatu hari,,,
mungkin engkau akan menemukan waktu dengan wajah murung
ia hanya bisa mendekap dan menekuk kaki dalam genggaman pedih
bukankah tak seharusnya hari indah dirayakan dengan muram
atau lain kali kemuraman tak cukup disesali dengan air mata
dengan nada terisak waktu berkata terbata-bata,,,,
ketika hidup hanya mengulang kesalahan yang sama
dimana kedamaian berjanji menemuinya
ahh,,,selalu saja kedamaian dicari saat perih mengiris hati
berapa lama batin meminta untuk dimengerti
kalau untuk mencuci semua kotoran tak perlu kesenangan di luar sana
telah berulang kali batin meminta kesedihan mampir menemuinya
hanya agar bisa menemukan wajah kedamaian di dalamnya
(kelak ketika waktu menanyakan hal yang sama,,,batin membisikkan sebuah rahasia)
saat kesedihan menghampiri,,,biarkan menyingkap sisi gelapmu
biarkan membersihkan semua daki hidup
niscaya akan kau lihat kesedihan tak selalu muram
wajah aslinya adalah keindahan
(*)kesedihan, kesakitan, musibah, apapun bentuknya, sebenarnya datang untuk mencuci kotoran batin kita , saat akhirnya kita tahu, kesedihan dan musibah berubah wajah menjadi indah; Gede Prama
Jumat, 23 November 2012
rumah musim panas
Hujan,, memang belum tuntas menunuaikan tugas
namun tanah basah seperti memberi aroma masa lalu
saat akhir waktu menyambangi rumah musim panas
bukankah itu yang sering dikhayalkan
tempat menyimpan semua angan di laci impian
masih sukakah hari ini kesana?
Hujan memang belum segera berlalu
namun betapa selalu merinduinya
tempat debu berterbangan dijalan setapak yang gersang
lain kali menyusuri padang hanya buat melihat seekor kupu bercumbu
atau malam yang panas berbaring untuk melihat bintang
untuk itukah semua rindu ini tertahan?
Berdoa saja kelak jadi tempat peristirahatan panjang
agar semua harapan, kehilangan, kebahagiaan menyatu
hingga keheningan berpelukan dengan kesempurnaan
niscaya jejakNya bisa kau temukan dalam diam
Jumat, 09 November 2012
mengukir
dan,,kamu mengukir senja, aku mengukir matahari
esoknya kamu membuat kanvas matahari terbit
aku coba menyaputnya dengan jingga sisa kemarin
lantas siapa yang jadi diri, siapa yang jadi bayangnya
bukankah sebuah janji akan ada tenggatnya
ufuk berkata dan mulai bertutur tentang kehidupan sebenarnya
katanya sejauh berjalan hanya akan kembali ke peraduan panjang
dan,,kamu mengukir pagi aku meletakkan tetesan embun
pada daun yang berharap awal hari akan memberi bahagia
saat ditanya itu,,,yang tersisa hanya sunyi,,,tak ada jawaban pasti bukan
karena hidup sebenarnya hanya perlu keanggunan dan rendah hati
bukan perkara meng-ada atau menjadi
kalau tak ingin terjebak dalam labirin keinginan tanpa henti
coba tanya pada mentari atau pagi dimana letak hidup sejati
niscaya jawabannya hanya diam
(tak diperlukan sebuah jawaban bukan,,,saat engkau berjanji untuk menjadi pendarNya)
esoknya kamu membuat kanvas matahari terbit
aku coba menyaputnya dengan jingga sisa kemarin
lantas siapa yang jadi diri, siapa yang jadi bayangnya
bukankah sebuah janji akan ada tenggatnya
ufuk berkata dan mulai bertutur tentang kehidupan sebenarnya
katanya sejauh berjalan hanya akan kembali ke peraduan panjang
dan,,kamu mengukir pagi aku meletakkan tetesan embun
pada daun yang berharap awal hari akan memberi bahagia
saat ditanya itu,,,yang tersisa hanya sunyi,,,tak ada jawaban pasti bukan
karena hidup sebenarnya hanya perlu keanggunan dan rendah hati
bukan perkara meng-ada atau menjadi
kalau tak ingin terjebak dalam labirin keinginan tanpa henti
coba tanya pada mentari atau pagi dimana letak hidup sejati
niscaya jawabannya hanya diam
(tak diperlukan sebuah jawaban bukan,,,saat engkau berjanji untuk menjadi pendarNya)
Rabu, 07 November 2012
akoe dan kamoe
kita telah berjalan untuk waktu yang tak ditentukan bukan
pernah mengalami kelokan dan liku yang tak saja menguras air mata
terlampau sering bercanda dengan kebahagiaan dan ternyata berlalu begitu saja
pernah kita tenggelam didalamnya dengan menggapai mimpi tersisa
bukannya engkau meratap, malah terbahak seraya berkata:
kamu terlampau lelah jalani hidup yang teramat indah
saya terhenyak lantas bertanya dengan kata kenapa?
kemarin di puncak tawa, hari ini nadir yang menyapa
bukankah itu indah,
kamu tau saya terdiam tak mengerti
bukankah pernah berkata, kita terlampau cepat berjalan melintasi jaman
sehingga tak sempat melihat ke dalam
ahh,,bukankah engkau berucap karena selalu saja tertinggal di padang
tempat kita pernah berjanji ditengah hari bersama sembahyang
selalu saja engkau tercecer di belakang lantas saat matahari mulai turun
engkau tersungut menghitam dan pelan menjadi gelap dan,,,hilang
saat bintang datang dirimu bertanya: kemana engkau tadi
mulai saya harus merunut satu-satu dengan rinci agar dirimu diam
jadi,,,
siapa dirimu tadi (saya terkaget-kaget)
mestinya saya bertanya siapa engkau
dan mulailah berdebat tentang siapa saya dan kamu
ketika lelah,,,tiba-tiba kita tertawa
bukankah tak penting siapa saya siapa kamu
kita hanyalah setitik debu dalam kosmos pengembaraan waktu
menanti untuk kembali
menuju sang maha sunyi
Selasa, 30 Oktober 2012
memberi, memberi dan memberi
Sore berjalan begitu lambat, jam 5 matahari masih begitu terik seolah enggan untuk kembali ke peraduan. Setelah seharian bertemu dengan banyak orang, saya seperti orang yang sedang dipanah dewi amor, bukan satu panah bahkan banyak, beribu-ribu panah cinta begitu lembut menghujam hati. Bisa dibayangkan seperti mengalami trance. Apa pasalnya? saya tidak tahu apakah tadi hari yang salah, karena sedari pagi hingga sore bertemu beberapa sahabat yang mengungkapkan perasaan cinta mereka. Ada sahabat yang merasa terhormat karena celotehan putri mereka yang kelas nol besar terpasang pada status sosial media saya. Buat sahabat itu sebuah kejutan yang menyenangkan. Padahal celotehan itu saya pasang karena memang menyukai putri mereka yang lucu dan spontan.
Sahabat lain menemukan gairah dalam pekerjaan setelah sempat patah arang menemukan cara terbaik dengan menggabungkan kondisi yang ada dan berhasil. Buat sahabat, itu kelegaan dan membahagiakan. Untuk merayakannya dilakukan dengan,,,cukup makan mie instant., sederhana tapi penuh cinta.
Sorenya tiba-tiba seorang teman SMP telpon menanyakan kabar , dia bilang lama mencari saya dan menemukannya dari buku alumni, mengharukan karena harus mengingat-ingat wajahnya setelah sekian tahun. Baru ingat setelahnya karena saat SMP dia anak yang paling rapi dan dandy. Potongan rambutnya meniru gaya Fariz RM dibelah tengah, buat ukuran anak smp jaman itu.sudah jadi idola gadis-gadis. Yang lucu saya berusaha mati-matian menirukan gaya rambutnya dan,,,tidak mungkin berhasil dengan rambut keriting linggis alias runcing ke atas . Rasanya aneh ketika ditarik ke masa lalu, membahagiakan, dan ada warna cinta saat mengingatnya.
Banyak cara orang mengekspresikan kebahagiaan dan cintanya, namun apa yang baru saya alami hari ini dengan beberapa sahabat, seperti setitik embun ditengah kemarau panjang. Makin menguatkan keyakinan: kalau Tuhan mengisyaratkan tidak diperlukan jalan berliku untuk menemukan kebahagiaan dan cinta sejati, yang harus dilakukan cukup dengan memberi, memberi dan memberi
Langganan:
Postingan (Atom)






