Dengarkah kita sapaan lembut itu atau jangan jangan kita budeg karena pikiran kita riuh dengan keinginan yang tiada habisnya.
Atau ego ini sibuk dengan validasi sehingga sapaan itu lamat lamat terdengar menjauh.
Mendengarnya tak perlu alat bantu macam speaker aktif atau toa, cukup dengan "meniada" dari ego, validasi, seolah dirimu ada. Cukup menyadari pakai ilmunya semar yaitu meski kamu khalifah di muka bumi dan ente ahsani taqwim, tapi kamu hanya sekedar fayakun Nya. Semar itu adalah panglimanya dewa, tapi di dunia ia hanya rakyat jelata.
Begitu juga ente di hadapanNya hanya kata sifat bernama nothing . Begitu ente bukan siapa siapa, ente masuk fase kefanaan absolut , suwung, hening. Saat itulah batin mendengar dengan jelas betapa rindunya Tuhan terhadap mahluk ahsani taqwim Nya hingga menyapa : hai jiwa yang tenang...
Mengapa tenang? karena kamu tak perlu apapun selain perasaan damai dan tenang tatkala masuk dalam spektrum cahayaNya.
Untuk bisa kesana mulai berlatih "meniada"merendahkan ego senyampang waktu menghampirimu. Itu melatih kepekaanmu.
Tanpa latihan mustahil sapaan itu kau dengar, padahal ia menyapamu di setiap pagi bangun tidurmu. Perjalananmu masih panjang, dunia tempat melatih kepekaan dan mentalmu. Kalau malas, yaa amsiong bro... 😁😁😁

Tidak ada komentar:
Posting Komentar