Jumat, 23 Oktober 2026

Kami dulu

Dulu... pagi hari di rumah adalah keributan kecil. Bangun terlambat sehingga keburu bergegas berangkat ke kantor, minum kopi pun hanya separuh, meninggalkan rumah yang berantakan. Istri? sama pekerjanya berangkat agak pagi sekalian bawa anak berangkat sekolah. Untuk apa? ya untuk mengejar kebutuhan raga yang tiada habisnya termasuk cicilan rumah yang hanya ditempati tak lebih dari 12 jam seharinya.

Dulu... sukses adalah rasa aman finansial, kebutuhan dasar terpenuhi, anak sekolah di tempat bagus, bisa liburan minimal setahun sekali, dan bisa membeli pernah pernik ini iitu dan punya rumah beserta isinya. 

Tiga dekade berlalu, pensiun tiba, waktu di rumah lebih lama. Tinggal kami berdua saya- istri dan kesepian. Anak anak di kota lain menyongsong hidupnya sendiri, persis kami dulu... sibuk. Telpon menanyakan kabar hanya jadi basa basi untuk sekedar menunaikan kewajiban anak. Rumah dan isi pernak perniknya seolah mengejek kehampaan hidup.  

Apa ini yang harus dibayar,  seumur hidup bekerja,  membeli ini itu,  waktu terbatas untuk anak dan kini anak mengejar mimpinya sendiri mengulang siklus yang sanadan merasa seolah semua jadi kesia siaan belaka. Kadang pagi bukan disambut gembira namun secuil tanya apakah ini pagi terakhirku. 

Ternyata setelah merenta,  kebutuhan hidup bukanlah pemuasan raga dan indera tapi jauh ...di dalam qalbu sang kesadaran memanggil untuk dicinta dan kami menemuinya terlambat sebab jaraknya sudah sangat lebar dan tubuh sudah tak kuat menggapainya. 

Andai waktu bisa diputar... 
Kami tak akan menyiakan waktu untuk mengejar hal yang menjadi sia sia di usia tua. Kesadaran diri mestinya dipupuk sejak muda,  karena butuh otot mental kuat. Kalo sekarang kala fisik sudah drop,  begitu dibanting kehidupan otot ini tak terlatih dan tumbang. 

Begitulah kami merenungi ini tiap pagi dengan sesal dan menangisi waktu yang berharga terbuang untuk membeli absurditas dan yang ngenes siklus ini terulang pada anak kami. 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar