Senin, 06 April 2020

Mari,,,,

Mari,,,,, 
Mari,, mari mampir sebentar kesini,  saat hujan yang mulai membekukan tulang,  secangkir kopi bisa menghangatkan ingatan. Kita bisa berbagi cerita apapun jua meski mungkin tak penting bagi mu.  Mari coba hangatkan tubuh ini dengan secangkir kopi sembari menunda waktu,  tatkala perjalanan berisi simpul simpul permata bening bernama air mata.  Siapa tahu hangatnya tubuh bisa merelakan kepedihan menjadi bumbu penguat jiwa.

Bukankah keindahan itu mirip  kanvas lukisan,  berisi sketsa warna warni saat dipandang dari jauh,  namun ketika dekat,  ada noktah hitam disana sini,  guratan kasar yang tak terbayangkan. Mirip perjalanan hidup,  menjadi suci bukanlah perjalanan yang mudah dan lurus.  Kadang tiba pada kelokan tajam dan membaret tubuh lunak ini menjadi perih.  Semakin jauh berjalan,  semakin penuh pertanyaan, dan semakin kita terdiam.

Mari,,,, mari mampir sebentar disini,  menghangatkan tubuh saat hujan tak bisa diprediksi,  dinginnya menusuk tulang.  Siapa tahu secangkir kopi bisa menyegarkan tubuh yang kelu. Tatkala kenangan kelam dan hitam nikmati saja mirip pahitnya kopi,  seraya berharap,  hidup bukanlah tujuan akhir, entah dimana akan berakhir kelak,  ada upaya, hasilnya biar waktu yang bisikkan pada kita,,,,


Kepintaran mu

Kepintaran mu

Kepintaran mu bukan untuk ditunjukkan
Tapi diniatkan atas nama Tuhan yang maha rahman dan rahim
Kepintaran mu adalah cahaya yang menerangi sesama dan semua mahluk 

Kepintaran mu bukanlah dirimu, bukan pula hakikat dan esensi mu,  juga bukan personalitas mu
Kepintaran hanya identitas  bukan subyek, hanya predikat,  seperti  kecantikan, pejabat,  penguasa,  dan predikat duniawi lainnya

Maka,  jangan gunakan untuk  mencari keinginan 2 pendek mu,  mencari syahwat untuk melepaskan orgasme duniawi mu

Kepintaran mu mirip jalan setapak batu yang kau bangun selangkah demi selangkah
Bukan menuju kejayaan mu,  tapi menuju rumah pribadi mu sebuah tempat dimana pengabdian pada Tuhan mu dengan penuh cinta dan kerinduan luar biasa. 

Kelak kau akan tiba diujung jalan setapak, tatkala kau buka pintunya, dirimu hanya bisa menangis seraya berkata : terimakasih Tuhan,  semua telah sempurna sebagaimana adanya


Rabu, 01 April 2020

Sahabat itu bernama covid19

Karena saya bukan dokter,  maka apapun informasi yang berkaitan dengan covid19 yang pernyataannya di keluarkan dokter pasti saya simak seperti stay at home,  sering cuci tangan, social distancing,  kalau keluar pake masker dsb.  Diluar itu banyak info yang berseliweran tanpa tahu sumbernya pasti saya anggap berita palsu (hoax). 

Kadang suka usil,  sebenarnya ada rencana apa Tuhan ngasih corona pada umat manusia tanpa pandang bangsa, ras, agama.  Apakah corona sebenarnya dulu sudah ada? Sedangkan covid19 adalah cucu keturunannya? Apakah kakek buyut covid19 pernah juga "ngampiri dan menyapa" kakek buyut kita dulu?
Ini hukuman,  musibah ataukah berkah,  atau tanda2 kontraksi ibu alam sebelum melahirkan dunia dengan tatanan baru yang lebih baik untuk anak cucu kita.

 Apakah ini sebuah cara dari Tuhan " menghilangkan" peradaban manusia yang makin lama makin memuja materialism,   menggantikannya dengan peradaban baru yang lebih khusyuk pada alam,bumi, semesta mulai mikro kosmos seperti virus, bakteri sampai makro kosmos yang meliputi tata Surya, bintang hingga galaksi. Sebab dalam sejarah, menghilangkan peradaban  bangsa tertentu dimungkinkan kalau melihat apa yang terjadi dengan bangsa Tsamud,  Ad dsb. 

Jadi kembali ke awal,  apa rencana Nya dibalik pandemi covid19 yang bertamu dan bersemayam si badan kita? Siapakah ia,  musuh atau teman yang mengingatkan,  atau covid19 hanyalah "alarm" tentang situasi dunia yang makin memisahkan antara qalbu dan pikiran. 

Sebagai perbandingan, dalam dunia udang,  serangan virus sudah sering terjadi,  tapi virus di udang adalah secondary desease,  primer desease nya adalah bakteri patogen bernama vibrio,  sehingga praktisi budidaya berlomba2 bikin cara supaya vibrio tidak hadir dalam jumlah banyak. Padahal menurut saya, sejumlah vibrio hanya alarm kalau kualitas lingkungan sudah tidak layak untuk udang. Jika kita abai,  vibrio akan bilang dalam bahasa quorum sensing:"  ok you sudah saya ingetin, gak mau berubah,  bentar lagi udangnya saya attack".

Apakah pola covid19 juga seperti itu? jangan2 ini sebuah alarm kalau manusia sudah abai dengan lingkungannya,  baik terhadap sesama, pada hewan, pohon, batu,  sungai hingga pada setan, gendruwo,  pocong dsb. Bukankah mereka semua menghuni tempat yang sama,  berbagi space?.  Yang jelas serangan ini membuat dunia runtuh,  ekonomi global berbasis riba jadi kolaps.  Semua umat manusia akan alami resesi panjang.

Lantas siapa dan umat mana yang bertahan terhadap serangan ini? Yang akan bertahan adalah manusia2 yang terlalu sering alami penderitaan sehingga pada titik tertentu akan menjadi kebal terhadap penderitaan itu, dan aneh kalau suatu saat penderitaan menghilang,  srhingga ia merasa kangen : tumben kamu (penderitaan) ngilang,  ada apa? aku kok jadi kangen. Bayangkan,, pandemi  dianggap "sahabat" jauh dan jadi gelisah kalau sang sahabat tidak mendapat jamuan sepantasnya,  sebisa mungkin harus di ada-ada kan meskipun gak punya apa2 di rumah.  Bahkan mungkin akan mempersilahkan  badannya "dikrakoti" untuk menjamunya. Jadi kalau lihat berita ada temen, sahabat,  saudara begitu santuy tanpa takut apapun,  jangan menggoblok-goblokkan mereka.  Siapa tahu sebenarnya ia adalah manusia kuat yang tak punya pilihan apapun kecuali bersahabat dengan nya.  Sedangkan kita malah lari menghindarinya.


Selasa, 17 Maret 2020

Ello

Malam dan kamu : ello

Ketika malammu berisi celoteh tentang anak anak yang selalu ramai di mushalla saat jelang maghrib berebutan ingin jadi yang pertama adzan di depan mikropon, atau lain kali jadi sepi karena tak satupun dari mereka berteriak, saat hujan sore membuat mereka hanya bisa memandanginya
dari balik jendela.

Kadang aku pun merindui itu, saat kepolosan mereka bersenandung memuji Nya, anak dengan masa depan yang bahkan mereka pun tak mengerti definisinya apa.

Entah kenapa hidup begitu cepat berlalu. Senyum mereka seperti menambah ornamen hari dan waktu saat melihat mereka berlarian dan ribut dengan suara mikropon yang terlalu keras volumenya  berdenging memekak telinga, namun sumpah,,,aku begitu menikmatinya.

Kadang kita menginginkan kembali menjadi polos seperti mereka, waktu terhentak ketika menatap mata teduh itu sehingga rela berhenti hanya untuk menyadari mereka mahluk yang dikirim kesini hanya untuk meyakini, kita semakin menua dan mereka menjadi jiwa yang meng-indah hari demi hari, sedangkan kita makin merenta.

Ahh,,, hidup memang menoreh banyak kenangan tentang masa lalu saat hujan kembali mengguyur kota ini dan aku tak menyesal menemuimu dengan celoteh cadel sembari bershalawat : alohuakbal shogilo,,,,,
(entah kenapa anak itu akhirnya dipanggil ello)

Senin, 09 Maret 2020

Tersenyum dan mengangguk

Kita mungkin hanya sepenggalan langkah berjalan, 
rasanya seperti menit terakhir yang kita punya, 
ada banyak hal yang harus diceritakan :
tentang sepasang burung berkicau dengan paruh berpelukan
ini seperti membaca kisah roman picisan
dan kau tahu endingnya?berantakan tatkala dari depan
dua pejantan kucing memperebutkan betina, 
musim kawin katamu

Jadi cerita burung pun hanya kisah yang berlalu, begitu
jeritan angin yang meliukkan pohon membuatnya kabur
aku hanya tertawa, karena ini bukan hal yang sepadan
jadi dengan ngelantur kesana kemari
bagaimana bisa kita menemukan jalan
kalau semua kisah berakhir di tempat kita memulainya, 
ada yang bisikkan itulah hidup sejati
sejauh berjalan dibawa angin akhirnya kembali

Tiba-tiba anginpun berbisik:
"kamu ingat ini bulan apa?"
aku mengangguk
"setinggi-tingginya harapan, ada jeda untuk sunyi
disana kamu akan bertemu keikhlasan dan romantika
saat kau tahu itu,jarak,dan waktu hanya sepenggal
perjalanan yang sempurna"
aku tersenyum dan mengangguk

# tulisan kesukaan saya setelah sekian lama kekeringan ide buat menangkap momen hidup 😊


Jumat, 06 Maret 2020

Urip mung sarono

Urip mung sarono
Kalau lihat bio saya,,, (cieeee),  kata pertama tertulis : "urip mung sarono"
Kata itu terlontar dari bapak penjual es thung2(es puter) yang biasa lewat depan perumahan.  Kenapa beliau bisa bilang gitu? Pernah saya tanya sekedar basa basi : pripun pak rame dinten niki? (gimana pak ramai hari ini?).  Dia jawab : "mboten mesti pak, kadang rame kadang nggeh sepi,  dilakoni mawon,  urip niku mung sarono". Artinya : tidak mesti pak, kadang ramai kadang sepi,  dijalani saja,  bukankah hidup hanya sarana.

Jawabannya,,,, bikin mak nyess di hati,  keikhlasan bapak penjual es menjalani hidupnya dengan bilang urip mung sarono,  hidup hanya sarana,  hanya wadah.  Wadah tempat menyemai keikhlasan, ketulusan dan kebaikan2,  nilai2 kasih sayang, rahman rahim. Langsung dijalani oleh si bapak dalam keseharian (gak kayak saya dikasih ujian dikit mberotnya setengah mati).  

Hanya orang yang laku lampahnya konsisten bisa bilang seperti itu,  dibanding diri ini,,, saya minder sama sampeyan pak,  jauh seperti melihat langit.


Kamis, 05 Maret 2020

Dibalik kata

Dibalik kata
Terpekur sunyi menanti dirimu
kembali,,,,,
Ia menahan nafas pertanda waktu hanya nisbi
Tak tertahan kerinduannya,  seperti melihat cakrawala yang berganti menjadi jingga

Dibalik kata
Keheningan hanya bisa sembunyi
Semua ucap,  semua tafakur seperti buih terombang ambing di laut sepi seolah kelak akan kembali

Dibalik kata
hanya doa yang bisa menembusnya sebab bukan karena ia ada, namun ketiadaan 
Dari sunyi kembali sunyi
Dari tiada menuju keabadian
Tempat ibu sejati bersemayam