Saya ini orang yg berfikiran realistis banget, misal, ada yg bikin, status sedih karena habis ini ditinggal Ramadhan, maaf2 nih ye, kata orang betawi, ada sedikit kecongkakan atau show of force spiritualism disana, bagaimana mungkin sedih ditinggalkan Ramadhan, namun hati dan pikirannya sibuk mempersiapkan lebaran, persiapan mudik.
Bahkan kalau gak mudik, mungkin sedang membuat alibi dengan bilang sedih karena belum tentu tahun depan ketemu Ramadhan. Saya ini agak udik dengan urusan demikian, kenapa?, jujur dengan berakhirnya puasa, seneng banget rasanya.
Puasa buat saya adalah penghematan yg luar biasa, kebiasaan ngopi hilang, kebiasaan asupan gula berlebihan yg membebani metabolisme saya berkurang. Seneng, karena di tingkatan puasa saya yg masih mirip anak TK, bangun sahur, adalah perjuangan yg luar biasa, dan setelah ini tidak lagi. Perkara tahun depan ketemu atau ga, dengan ramadhan, bukankah kita tinggal menjalaninya.
Memang benar, Bulan puasa, kata khatib jumat siang tadi adalah bulan dimana kucuran berkah begitu luar biasa, bulan pengampunan yg tdk bisa diperoleh di bulan lainnya. Namun, bukankah "pertandingan yang sebenarnya" ada di 11bulan berikutnya?
Ramadhan hanya training center sebelum kita kembali disibukkan dengan pemenuhan ego yang tiada habisnya.
Puasa, dalam pandangan "nakal" saya, adalah melatih "kematian" dengan berjarak pada materi.
Puasa adalah cara belajar meniada, melepas beban tubuh dengan memberi kesempatan jiwa kembali pada habitat sebenarnya.
Puasa jadi semacam " kubangan kecil" tempat kita mengais jejak DNA kita, dari mana asal diri ini sebenarnya dan akan bergerak kemana.
Melatih kepekaan ini penting karena jika tidak, diri akan ditarik kemanapun, terombang ambing dengan berbagai penampakan akhir tujuan kehidupan.
Terus apakah saya merancang untuk mudik? Mudik saya mungkin agak berbeda, bukan pulkam, namun ke kota dimana saya mengawali karir dan ketemu anak mertua. Rasanya seperti dilempar ke masa lalu, dan kok ya pas puasa, sehingga menimbulkan kembali frame2 hidup masa lalu yang tak ingin diingat(disini saya merasa sedih).
Biarlah puasa saya masih di tingkatan alif belum ba,ta apalagi tsa, yang penting tahun ini saya bisa membuat anak mertua bahagia bisa pulang ke kota kelahirannya,,,,😀.
Jadi sepanjang perjalanan tadi lagu wajibnya :,,,,pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu, masih seperti dulu,tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna,,,, 😭😭😭😥😥(nyanyi2 sampe seret gulu iki kekurangan asupan cairan,,, 😀😀😀)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar