Rabu, 26 Februari 2020

Rain in Malang

Rain in Malang
Hujan begitu elok menurunkan rinainya,  hawa yang dingin,  langit kelabu dan pasi,  mendung yang melarutkan bulirnya hingga menembus tanah dan hilang entah kemana. 

Hujan di Malang begitu eksotika hingga cahaya langit  memudar seperti kehilangan gairah,  tapi tetap terasa syahdu seolah membawa pesan : perjalanan hidup,  mirip kumpulan rindu yang membentang membentuk pelangi.  Bukankah itu sebentuk Cinta Nya?


Senin, 24 Februari 2020

Sore menengok langit

kita pernah berjalan suatu ketika berdua menyusuri hujan dengan sebuah penggal lagu yang lupa dari ingatan, namun tetesnya begitu mengena dan tersirat untuk janji bersama membesarkan anak kita dengan kidung dan puisi. bahkan tergelak saat tahu "senyuman Tuhan" membuat kita ketagihan dengan kenaifan2 kecil  membaca langit sore seperti melihat gumpalan eskrim dan saat malam tiba melihat bintang, kita menatapnya tanpa henti seolah bertanya kenapa kedipannya begitu mempesona. 

Dan kita tanpa sadar menangis saat daun luruh karena angin, begitu eksotikanya. Lantas tertawa kenapa begitu naifnya menagisinya toh kelak dia kembali menjadi tunas. Dan saking asiknya jadi tak perduli dengan apa yang kita peroleh, acuh dengan pencapaian yang terasa nisbi dibanding dengan sejuknya angin berbisik seolah bilang : " kalau dari awal sebenarnya kita tak punya apa-apa, kenapa harus menyesali kehilangan kecil di dunia yang memang kita tak pernah memilikinya "
#soremenengoklangit


Rabu, 05 Februari 2020

Saat doamu terasa hampa

Saat doamu terasa hampa

Ketika doamu lebih serius dari perangaimu terhadap sesama,
ketika kamu marah dan terluka saat semua pinta tak terkabulkan oleh Nya, apakah kamu tengah membentak Tuhan dan berusaha memojok kan Nya.

Bagaimana mungkin Dia yang menyayangimu dan begitu santun terhadapmu kamu lukai hanya karena setitik asa yang sirna.


Minggu, 19 Januari 2020

Life

Bukankah hidup demikian?
Dimanapun maqom kita,  tak perduli tinggi-rendah,  lapang-sempit,  ia hanya wadah tempat kita ber-istiqamah untuk meng-indahkan hidup,  bukan meng-indahkan wadahnya.
Manusia  seperti ini telah "sampai", biasanya ia tak peduli tampilan luar,  ia hanya memasuki kedalaman cahaya dan memendar dalam ketakziman luar biasa.


Rabu, 15 Januari 2020

Tiada - meng-ada - meniada

#Tiada_mengada_meniada#

Tanpa babibu tiba-tiba Gurpan datang malam-malam bukan lewat pintu tapi ngetuk jendela, sambil cengengesan dia bilang sorry broken wing, hujan terlalu deras untuk saya akui jika saya kedinginan,. Dengan rambut basah tentu saya memeluknya dengan penuh rasa kangen,  entah sudah berapa bulan dia menghilang dengan tugas "under cover" nya.  Saya tahu harus menyediakan kopi nasgithel buatnya serta kacang rebus kesukaannya.  Untung tadi sore anak mertua seperti feel kalau dia datang,  semua sudah cemepak.

"Apa kabar broken wing,,,, ente selalu always kan",  sambil senyum khasnya itu loh. Saya hanya tercekat,  bagaimana tidak,  tiap dia datang selalu saja membisikkan : piye wes lulus durung,  katanya sambil terkekeh.  Saya hanya bisa menggeleng,  belajarku masih alif Gur,,, entah kenapa ga bisa ke ba,, apa lagi ke ta tsa hamzah iya, ga kebayang Gur. 

Saya tahu pasti jika gurpan datang akan jadi malam yang panjang. Tapi saya senang,  lama gak nongol baru kali ini dia datang.  Sambil nyeruput kopi,  gurpan cerita baru pulang dari mall terus kehujanan.  Saya pasti terbahak kalau cerita pulang dari mall,  pasti kehilangan dompet dan entah ajaibnya dompet tersebut selalu berada di tas kerja saya.

 "broken wing,  lama tidak bertemu manusia saya jadi kangen kamu" katanya terkekeh.  Lah memang di mall kan banyak manusia gur,  banyak yang bening pula. "Husshh ojo banter2 bojomu denger nanti, ayu lahirnya,  tapi hatinya membawa kepedihan,  ga tega saya ngeliatnya ,  malah ada yang mirip mayat hidup berjalan". Haaah,,, jangan nakutin gur,,, setahu saya ga ada yang jelek mirip gituan di mall. "bukan harfiahnya broken wiiiiinng,,, tapi hatinya,  ego yang tanpa pernah di cuci dengan air mata batin membuat mereka susah lepas dari godaan godaan hidup".  Gak ngerti aku gur,, saya melongo. 

"Broken wiiinggg,  cukuplah kita menangis saat kita lahir ke dunia,  cukup sekali saja,  setelah itu,  jika datang apa yang disebut dengan definisi kepedihan,  penderitaan,  kemalangan,  yang sering dipersepsikan dengan tangisan,  itu tandanya kamu harus mulai meniada.  Proses manusia untuk menunduk dalam,  proses manusia untuk kembali ke khittah. Saat lahir,  proses 'meng-ada' harus disandarkan semata-mata untuk proses selanjutnya yaitu meniada,  menyatu dengan hutan kosmis,  kamu bilang makro kosmos kehidupan,  kembali menjadi gelombang".

Bukankah itu yang pernah gurpan bilang,  dari tiada,  meng-ada lantas meniada,  mirip lahir lantas kembali mati. "Lebih dari itu sebenarnya broken wing, kematian sejati sebenarnya hidup abadi, hidup sesaat bisa jadi kematian abadi". Maksudnya gur? tambah mumet kepala. 
"Gini broken wing,  kehidupanmu yang singkat di dunia ini, kalau hanya dipakai untuk itu2 aja,  kamu seperti meng-ada tanpa mau meniada,  padahal siklus hidupmu seperti daun,  mulai dari tunas,  pucuk,  menghijau,  menguning dan tanggal". Lantas apa hubungannya dengan kita2 ini gur?.

"Hidup ini terlalu singkat buat diratapi broken wing,  terlalu sekejap untuk disia2kan,  banyak dari teman, sodara,  mengejar kehidupan ini seolah mereka tak ingin sengsara,  hingga kadang tega menafikan sodara lainnya.  Definisi sedih, perih, derita,unhappy,  disematkan saat mereka tidak memperoleh sesuatu,  gagal mencapai sesuatu,  namun abai jika hidup tidak hanya memperoleh dan mencapai sesuatu. Kehidupan dengan waktu yang diberikan Tuhan,  disematkan padamu adalah untuk menjadikan sesuatu,  membangun infrastruktur hatimu dulu,  lantas infrastruktur kebaikan untuk keluargamu,  tetanggamu. Saat itu intens kamu lakukan,  semua yang kamu peroleh hari ini adalah efek,  tools,  untuk membuat project2 spiritualmu selanjutnya".

Hidup bukanlah bergerak dari egoisme yang satu ke egoisme yang lain, hidup hanya bisa dipahami dengan kelembutan meski untuk kesana kamu perlu kerja keras,  kerja yang tak merujuk pada memperoleh sesuatu,  hidup adalah penghambaanmu pada Nya,  bukan padanya.  Hidupmu hanyalah menyelaraskan gelombang talentamu dengan mikrokosmos,  makro kosmos kehidupan".
Bertubi tubi gurpan nyerocos sambil mengunyah kacang rebus,  sampai lupa kulitnya dikremus juga. Seperti biasa saya mengangguk tanda tak mengerti. 

Anehnya gurpan selalu memandang saya dengan lembut seolah kasihan dengan kegeblekkan saya,  lantas berbisik: "aku tadi kehilangan dompet broken wing, sekarang aku mau pulang gak punya sangu". Makanya to gur di mall ojo lirak lirik ae to,  dijawab sambil terkekeh, sambil dijawab : "aku ngelirik juga ada maksute broken wing". Saya hanya berlalu dan mengambil dompetnya yang tiba2 nyangsang di tas kerja. Wes broken wing aku pamit,  sambil berbisik: anakmu sehat2 disana,  tadi nyampaikan salam buat kamu dan mamanya.

Naahhh,,, ini yang bikin mata tiba2 berlinang. " ojo nangis, gembeng banget sih kamu broken wing,  hidup cukup sekali kamu nangis,  waktu kamu lahir,  setelah itu tertawalah dengan kenaifan kehidupan. Yaa,, yaa gur ayamsori, gurpan ga nginep,  mau kemana habis ini?  Ga usah broken wing,  jaga dirimu baik2 yo,  teruslah laku di jalan sunyi, sory aku masih ada urusan lain,,, tiba2 cling,,, gurpan menghilang dari hadapan saya,  dan saya  berteriak gur,,, gur,,,,tunggu,,. "yahhh,,, yahhh ada apa,  ngelindur lagi,,," tiba2 anak mertua nepuk punggung.  Ahh,,, tibake ngimpi to,,, 😀😀😀😁


Senin, 13 Januari 2020

Hedomis

Hedonis yang akademis atau akademis yang hedonis? 

Apakah ada yang salah dengan pendidikan kita?, salah menerjemahkan kesejahteraan (prosperity) dengan kekayaan (affluence) hasilnya kita rasakan sekarang ini, kesejahteraan ditafsirkan dengan menumpuk kekayaan bukan dengan berbagi bersama, hebatnya pendidikan kita mendukung hal ini ditandai dengan makin mahalnya biaya pendidikan dan sekolah (makin komersial)  memposisikan diri sebagai jalan keluar untuk menggapai sukses kehidupan (?). Jangan-jangan institusi bernama sekolah dan kampus makin meng-alienasi siswanya. 

kelak akan datang sebuah jaman dimana sekolah dan perguruan tinggi akan memiliki gedung yang mentereng namun mulai ditinggalkan siswanya, ia hanya menjadi puncak menara gading(museum) ilmu yang tidak memberi kontribusi pada sisi kemanusiaan, sampai akhirnya alumni makin tidak bangga dengan almamaternya. 

Saat nanti teknologi 4.0 masuk ke sekolah /kampus, belajar dan kuliah tidak harus datang ke sebuah ruangan, cukup dari rumah,  kelak reuni tidak akan seramai dulu,  hanya sebuah penegasan kalau seseorang pernah belajar bersama dalam sebuah modul tertentu. 

Apalagi sekarang banyak mall berdiri berdekatan dengan kampus sehingga saat penat belajar tinggal nyebrang buat refresh.  Di kampus mereka belajar menjadi pribadi intelektual  akademis,  saat nyebrang/ngemall menjadi pribadi hedonis. Gabungan keduanya mereka disebut pribadi yang hedomis (hedonis akademis 😁) dan ditangan mereka lah,  Indonesia kelak akan dipimpin,,,,, 

Catatan : ini pemikiran broedin van klompen saya hanya disuruh menuliskan dan merapikan,  saat saya bacakan kembali tanpa sadar dia misuhhh,,,, hassuuu,,,,,, 😁😁😁


Sabtu, 11 Januari 2020

Jalan cahaya

Apa yg benar2 jadi milikmu belum tentu milikmu, apa yang bukan milikmu belum tentu bukan milikmu, sebab kehidupan hanya pinjaman yang kelak akan kau kembalikan

Jadi berendah hatilah jika hidup mu hanya nyadong Cinta Nya, tawaduklah dengan semua gembira dan sedih, sebab siapa tahu itu sebenarnya wujud Cinta Nya

Yang kamu perlukan hanya melunasi hutang Cinta Nya, dengan merangkai kebaikan dalam kurun waktu yang telah di tentukan, ladang yang kamu garap untuk bekal mu kelak

Kala itu terjadi, dirimu sirna dalam lautan cinta, bergerak  melewati ruang dan waktu hanya menuju satu arah : Rab mu

Sehingga , ketakutan, kepedihan,  kekuatiran, gembira, bahagia, hanya titik kecil mirip kunang2 penghias malam , selebihnya dirimu melebur dalam cahaya diatas cahaya
#jalansunyi