Selasa, 07 Juli 2020

Renungan

Renungan dari seorang yang lama menjadi "jendela" saya :

Kawan...

Disaat kita memakai jam tangan seharga Rp 500.000,- atau Rp 500.000.000,-, kedua jam itu menunjukkan waktu yg sama.

Ketika kita membawa tas atau dompet seharga Rp 500.000,- atau Rp 500.000.000,-, keduanya sama2 dapat membantumu membawa sebagian barang/uang.

Waktu kita tinggal di rumah seluas 50 m2 atau 5.000 m2, kesepian yg kita alami tetaplah sama.

Ketika kita terbang dengan first class atau ekonomi class, maka saat pesawat terbang jatuh maka kita pun ikut jatuh.

Kawan...

Kebahagiaan sejati bukan datang dari harta duniawi
Jadi ketika kita memiliki pasangan, anak, saudara, teman dekat, teman baru dan lama... Lalu kita ngobrol, bercanda, tertawa, bernyanyi, bercerita tentang berbagai hal, berbagi suka dan duka- itulah kebahagiaan sesungguhnya.

Hal penting yang patut di renungkan dalam hidup :

1. Jangan mendidik anak mu untuk terobsesi menjadi kaya. Didiklah mereka menjadi bahagia. Sehingga saat mereka tumbuh dewasa mereka menilai segala sesuatu bukan dari harganya.

2. Kata2 yg terbaik di Inggris :
"Makan makananmu sebagai obat. Jika tidak, kamu akan makan obat2an sebagai makanan."

3. Seseorang yg mencintaimu tidak akan pernah meninggalkanmu karena walaupun ada 100 alasan untuk menyerah, dia akan menemukan 1 alasan untuk bertahan. 

4. Banyak sekali perbedaan antara "manusia & menjadi manusia" Hanya yg bijak yang mengerti tentang itu.

5. Hidup itu antara
"B" birth (lahir) dan "D" death (mati), diantara nya adalah ada "C" choice (pilihan) hidup yang kita jalani, keberhasilannya ditentukan oleh setiap pilihan kita.

Kawan... Jika kamu mau berjalan cepat, Jalanlah sendirian. Tetapi Jika kamu ingin berjalan jauh, jalanlah bersama sama. 

6. Ada 6 dokter terbaik
1. Keluarga
2. Istirahat
3. Olah raga
4. Makan yg sehat
5. Teman
6. Tertawa

Nikmati hidup dan tetap bersandar pada Tuhan yg punya kehidupan
Have a nice day ... 👍 semoga bermanfaat ..😊


Rabu, 01 Juli 2020

Betapa naifnya

Mungkin, aku tak memiliki rumah sebesar yang kau punya
Mungkin,  aku tak memiliki mobil sebagus yang kau punya
Mungkin, aku tak memiliki : harta,  portofolio, saham investasi,  dan waktu yang disibukkan dengan segala hal hanya untuk mencari, mengumpulkan,  menguasai, dan sebagaimana yang dilakukan dirimu dan yang lainnya. 
Aku, tidak sama sekali

Sungguh aku terasa asing pada diriku saat yang lain berlari dengan kecepatan tinggi mencari semua kehidupan dunia, aku hanya berjalan memunguti sisa sisa rizki yang tercecer di jalanan,  di kecenderungan, di mimpi2.

Saat semua berlari ke barat, aku ke timur
Saat semua sibuk, aku juga menyibukkan diri dengan melihat dan menggumam : mengapa aku tak bisa seperti dirimu. 
Ketika semua merasa kehabisan waktu, ketika jargon time is money,  aku merasa waktu begitu melimpah dan time is honey. 

Aku hanya merasa memiliki angin,awan,  embun, matahari,  gunung,  pantai dan sesekali menunggangi ombak sambil menertawakan diri karena begitu naifnya saat melihat daun jatuh,  saat mendengar suara rintik hujan : aku menangis
Betapa naifnya karena aku tak memiliki apapun jua


Sabtu, 30 Mei 2020

Lebaran

Lebaran
Lebaran itu dua bentuknya, 
Lebaran fisik dan lebaran ruhani
Lebaran fisik, wajah berseri karena atribut diri serba baru dan wangi
Lebaran ruhani,  hanya wajah spiritual yang berseri

Lebaran fisik bergembira karena bertemu keluarga, saling bermaaf2an seolah semua dosa hilang hari itu juga,  bahkan hutang minta dimaafkan dan dimaklumi

Lebaran ruhani,  menangis sedih tak terperi, perpisahan begitu terasa setelah mendekap sebulan penuh mesra dengan sang Khaliq.  Lebaran ruhani hanya meminta ampunan Nya,  menapak jalan akhirat penuh sahaja

Lebaran fisik,  begitu ramai dan berlimpah makanan dan kue,  berkunjung pada sanak saudara meminta maaf untuk menjadi fitri

Lebaran ruhani,  berlimpah cahaya ampunan dari Nya,  sepi di jalan sunyi menguak rahasia ilahi,  wajah2 spiritual bercahaya berseri meminta maghfirah Nya. 

Lebaran fisik begitu sibuk,  mudik menjadi wajib,  kembali ke kampung halaman,  membawa sedikit pamer kesuksesan di kota,  dan saat kembali,  berjuang untuk hidup demi setahun lagi

Lebaran ruhani hanya perlu kerendahan hati,  kembali pada diri sejati,  mudik ke kampung akhirat dengan berjanji,  taubatan nasuha membawa catatan amal dan dosa


Rabu, 27 Mei 2020

Normal

Jika nama anda adalah normal,  mending segera di ganti kalau tidak ingin dituduh provokasi.  Kalau di depan nama anda ditambah up, jadi upnormal,  anda akan dituduh gila.  Kalau di depan nama anda di tambah para jadi paranormal,  anda akan dituduh ndukun. 

Nama normal saja sudah mengandung pemahaman yang bias apalagi di tambah di depan atau di belakang.  Misal normalisasi dengan normalitas jauh maknanya.  Saat nama anda merasa jadi bulan bulanan anda merasa dunia makin menua,  dan anda nelongso di panggil old normal,  sehingga saat bangun tidur anda akan kaget ketika semua berubah.  New normal,  demikian kata istri anda bernama norma. 

Dimana mana yang old gak mungkin bisa menyatu dengan new, karena old identik bekas,  new identik dengan fresh. Jadi perkara normal memang bisa bikin ribet.  Sesuatu yang normal2 saja bisa di bikin diksi panjang menjadi frasa yang tak ketahuan akhirnya.  Jadi ya sudah cukup berhenti disini saja.


Sabtu, 23 Mei 2020

Lebaran

Sudah lebaran kah kita? 
Lebaran selalu identik dengan hari Raya idul fitri, setelah sebulan penuh menahan lapar dahaga di siang hari, kadang emosi jiwa memuncak, mata telinga hidung menjadi sensitif dikala itu. Hari ini semua telah berakhir,  besok kita merayakannya
. Sebagaimana perayaan,  tentu semarak,  utamanya di negri kita,  tidak afdol meninggalkan oernak perniknya walau di situasi pandemi covid. 

Saat kecil dulu,  ortu selalu bilang lebaran hanya untuk yang berpuasa,  tidak boleh makan ketupat plus opor,  tidak dapat baju baru,  tidak dapat "uang" unjung2 (dari kata anjang sana,  mungkin).  Jadi cara mendidik bahwa kalau kita berlapar lapar dahulu nikmatnya belakangan,  seperti itu yang dirasakan . Bahagianya sebagai anak kecil terasa luar biasa. 

Pertanyaannya,  sudah luluskah puasa kita sehingga esok kita berhak di wisuda menjadi manusia yang fitrah.  Jangan2 puasa kita mirip bedug,  awal dan akhir puasa,  tengah kosong plong.  Jangan2  kita bisa menahan lapar (perut)  dan dahaga (kerongkongan)  tapi kosong diantaranya (hati,  nurani). Atau aktifitas bawah perut makan intens. Jika demikian,  berhak di wisuda kah kita menjadi manusia yang fitri.  

Atau jangan2 puasa adalah cara kita sembunyi,  mirip bilik sunyi namun di dalamya riuh rendah memuaskan dahaga  syahwat tanpa henti sehingga bulan2 setelahnya,  menjadi terampil bahkan lebih ahli.  Jika sejatinya wisuda lebaran ijazah nya kita pakai 11 bulan berikutnya mengamalkan ilmu di madrasah Ramadhan,  maka yang ini malah sebaliknya .

Lebaran dalam bahasa Jawa berasal dari kata lebar,  selesai atau habis.  Jadi makna lebaran selesai  habis2an,  Ramadhan kita menenun kain kebaikan,  besok kita habiskan tak tersisa.  Sudah lebaran kah kita?


Sabtu, 16 Mei 2020

Absurd

Menjelang hari Raya,  mall marak orang dan mulai ramai, pakaian dan kue2 berjajar lengkap dengan potongan diskon besar2an.  Seluruh baju,  celana,  sepatu,  tas yang ada di gudang di keluarkan dan di percantik beserta asesorisnya.  Sarung,  kopyah,  mukena baju gamis terlihat mengkilat disinari lampu.  Kerumunan ibu2, anak perempuan begitu semangat memilih dan memilah disela rengekan anak kecil kepanasan minta es krim. Bapak2nya sedikit menjauhi kerumunan dengan tatapan kosong karena THR dalam hitungan sekedipan mata sekejap berpindah tangan. 

Hari2 terakhir puasa  memang menjadi pemandangan lazim,  jika mall diserbu terutama tempat baju dan aneka kue yang sepertinya lezat. Saya saja yang kebetulan kejebak disana minder dengan pemandangan itu.  Niatnya hanya "reportase" apakah puasa masih cukup disegani di sisa terakhir,  nyatanya lewat,  tanpa sungkan tempat jajanan dan makan (food court) di siang itu penuh dengan orang berbuka dengan tentengan belanja menggelepar di lantainya,  pertanda pemuasan ego terpenuhi tanpa malu. 

Inilah salah satu pernik menjelang lebaran,  keramaian nya mengalahkan hening nya puasa.  Jadi saking ramainya jika ada yang menulis status merasa sedih ditinggal Ramadhan (nulisnya di pojokan mall sambil ngemil kentang goreng) seperti rayuan maut manusia pada Tuhan nya,  dan malaikat hanya tersenyum masygul.  Jangan2 malaikat kalau bisa misuh seperti broedin, gunung langsung keder melihat absurditas manusia.  Tapi bukankah keramaian mall menjelang hari Raya adalah bukti cinta pada Nya? 
(Kenangan Ramadhan tahun lalu)

Kamis, 30 April 2020

Mudik

Puasa dan mudik yang hakiki
Tradisi yang paling mengagumkan setelah puasa adalah mudik,  setelah berpayah2 sebulan melakukan puasa Ramadhan. Mudik,  pulang kampung, apapun namanya,  mencerminkan kondisi setelah  puasa tempat kita membersihkan karat2 jiwa,  di amplas menjadi bening,  kita pulang dengan perasaan lega,  bahagia,  berkumpul dengan saudara, tidak ada sekat kaya-miskin semua larut dalam kebahagiaan.
Itulah sebabnya, pelarangan mudik malah makin menguatkan kita buat pulkam apapun kondisi kita hari ini. 

Jadi pelajarannya ada dua : pertama,  puasa menahan keinginan raga, zat bersifat materi, puasa mempurifikasi jiwa, zat bersifat ruhani

Kedua,  setelah selesai puasa,  kita menemukan kebahagiaan dengan pulang kampung untuk menemui keluarga besar kita. 

Bayangkan,  bagaimana kebahagiaan yang di dapat jika mudik itu kembali ke kampung akhirat
Bayangkan, umur kehidupan kita di dunia  saat ini hanya sebentuk puasa sebulan lamanya. 

Inilah puasa dan mudik yang hakiki, kita hanya perlu melakoninya dengan ikhlas dan kerendahan hati,  mirip puasa yang hari ini kita jalani.