Selasa, 01 Agustus 2017

Menangkap sunyi

Menangkap sunyi
Dulu saat tenaga dan pikiran masih kuat untuk begadang sampai pagi bahkan dilanjutkan sampai malam lagi, badan hanya terkekeh dan biar pikiran tetap fokus, doping kafein hal yang bisa dilakukan. Kenapa harus bela-belain begitu? Idealisme anak muda yang lagi gandrung dengan hal yang berbau jurnalistik membuat saya begitu nikmati "kemalangan" itu,,,,😀😀😀. Jujur, masa depan adalah hal yang tak terpikirkan. Berkutat dengan sejumlah nara sumber, dikejar date line jadi keasyikkan sendiri dibanding tuntutan SKS yang mengejar saya. Saya menyebutnya idealisme tanpa pijakan realitas. Ibaratnya api masih merah.

Setelah lulus, saya pernah berfikir untuk jadi jurnalis yang sebenarnya, namun apa mau dikata, idealisme saja tak cukup, koran yang kala itu masih jadi sumber utama informasi, masih merasa superior terhadap idealisme kampus dan faktanya saya  malah jadi imferior,,,,😀😀😀. Teknologi informasi yang belum bagus saat itu untuk negara berkembang membuat pilihan berbenturan dengan realita, ternyata modal sarjana hanya sebuah simbol di depan nama, tak lebih dari itu, selebihnya(,,,,,maaf,,,,,saya baru menyadarinya belakangan,,,,) tak laku.

Perjalanan waktulah akhirnya menambatkan saya ke dunia baru dan agak asing, perikanan secara kapital bukan perikanan dalam teori buku yang usang. Saya katakan usang karena ada gap terlalu jauh antara teori dan pragmatisme. Bergerak mirip ombak, naik turun dan pasang surut di dunia ini terasa menggetarkan. Sebagaimana kita tahu, kapitalism membawa adagium baru mirip filsuf perancis descartes : corgito ergo sum (aku berfikir maka aku ada). Dan saya pun terkagum kagum, pergerakan revolusi ekonomi yang menekankan rasionalis individual memang ngedab2i. Hasilnya industri perikanan melesat jauh ke atas dengan dukungan sumber daya alam. Dan saya yang saat itu masih ada di pinggiran merasakan pusaran ekonomi ini tumbuh begitu mengesankan.

Namun entah kenapa, ada "bug" dalam otak saya sehingga virus idealisme ala kampus kadang muncul tenggelam dengan membawa pertanyaan : saat eksploitasi alam tanpa henti, dimana batas moral berada. Apa yang tersisa jika kelak tiba pada batasnya. Apakah teknologi nanti bisa memecahkannya, atau ganti haluan karena dari hitungan ekonomi sudah tidak layak. Berapa banyak gerbong2 yang selama ini menikmati asupan dari sana perlahan mulai memintal benang bernama absurd. Entah dari mana asalnya, otak saya bernyanyi : lir ilir tandure woh sumilir, tak ijo royo2 tak sengguh penganten anyar,,,,,,
Ahhh,,,jangan2 otak saya kepanasan hingga hang

Tiba-tiba pikiran ini menyadar tubuh sudah tidak ijo royo2, bukan penganten anyar, namun sudah jadi bocah angon. Lamat-lamat ada rangkaian yang bukan kebetulan dari kehidupan ini, mulai muda hingga usia seksi, ternyata ada penugasan yang harus saya jalani yaitu : "menangkap sunyi" atau kata mbah google Capture the silence. Yo wes jalani ae sambil ndungo mugi2 diparingi lancar,,,,,ngoten nggih mbah google,,,😀😀😀 ( sejak kapan sampeyan dipanggil mbah wong laire ae tahun 98, sek umur 19 tahun)

Jumat, 21 Juli 2017

Apa aku puritan?

Kalau saya punya anak,  semenjak kecil ga akan dikenalkan dengan gadget apalagi medsos,  biarkan ia berkembang dengan dunia khayalannya sendiri,  bahkan hingga kelak kuliah,  malah saya dorong untuk bisa menulis dan bikin puisi gombal koyo bapakmu, sehingga bisa ngrayu ibukmu dulu pake puisi picisan,,,,,😂😂😂😂 dan internet pun dibatasi untuk kegiatan studi sambil sedikit ngancam : jamanmu ki apes nak,  bapakmu weruh carane mbuka history browser,,,, 😀😀😀

Sekolah pun begitu,  saya gak mau yang puldaysekul,  puldaymain malah,  saya biarkan saat nak kanak children tangannya belepotan lumpur,  main hujan2an,  corat coret tembok,  mukulin meja kursi sampe bocelpun dibiarkan agar otot motoriknya tumbuh sempurna,  karena saya dulu juga begitu.

Saat masuk SD-SMU,  saya tidak targetkan untuk jadi juara kelas,  ranking dan tetek bengek,  bahkan saya tidak marah kalau nilainya jelek dengan bilang : kamu beruntung,  bapakmu ndisik nilainya lebih jelek dari kamu,,,,😂😂😂

Bahkan kuliah ga saya targetkan jurusane opo, syukur2 iso nang kedokteran ojo perikanan,,,,😀😀😀 perkara nanti kelak kerja dimana,  yang penting kamu happy kuliahmu,  temenmu banyak,  perkara IP,  terserah kamu pasang target berapa. Penak to jadi anakku,,,,, 😀😀

Dalam pergaulan,  cari temen yang banyak, baik2lah menjaga diri,  jangan sampe ke mall pake celana ketat,  baju ketok udele,  rambut dicat warna warni koyo arbanat.  Karena kamu dinilai bukan dari tampilan luar,  tapi inner. Pake baju yang sopan,  nek wedok ya tak kon jilbab-an,  ben iso kembaran ambek ibune. Syukur2 kamu punya suara merdu,  sehingga saat qiroah atau nyanyi iso duet sama bapake.  Siapa tahu nanti nek lanang,  di kon ngimami shalat maghrib,  kamu lolos langsung diamini camermu.  Gimana enggak,  waktu baca ayat,  usahakan surat sing rodo dowo,  model2 sabihisma dst,  atau surat terakhir al baqoroh,  malaikat ae sing denger pasti bolak balik bilang amiiiinnn,,,,,, mosok camer enggak. (Aku ndisik yoo,, di ngonokno,,,,😀😀)

Opo aku iki puritan? Hiihiii,,,,,😂😂😂😂

Rabu, 28 Juni 2017

Dara

Nasihat buat anak perempuanku:
Kamu tahu,  semua perihmu tentang hidup selalu ditangkap sunyi, karena ia tahu,  setiap gegap gempitamu sebenarnya mewakili hampa dirimu,  sunyi dalam ramai.  Sampai manapun pencarianmu, tenggatnya waktu.  Jadi berhentilah menjadi yang lain,  jadilah dirimu yg genuine.  Bersahabatlah dengan perih,  bukan berpura bahagia,  namun setelah itu kehilangan jati dirimu.  Hidup tak akan bertanya kamu menjadi apa,  ia hanya bertanya kamu telah berbuat apa,  hidup tak pernah bertanya apa yg kau punya,  ia hanya bertanya untuk apa semua yg kamu peroleh.

Kelak dirimu akan tahu,  tangisan mu tentang kepedihan,  ketidak adilan dan semua derita,  itu mirip doa yg akan memenuhi langit. Malaikat begitu pontang panting saat deras air matamu mirip hujan membasahi arsy. Malaikat bahkan malu jika tak kabulkan selama itu untuk kebenaran.

Jadilah dirimu cantik bukan dengan memoles ragamu yang kelak akan merenta,  namun dengan membuat sketsa hidupmu penuh kebaikan,  apapun warnanya.  Karena tiap kebaikan mirip bibit yang akan menjadi pohon dan merindang,  meneduhkan. Jadilah cantik bukan karena tuntutan feminismu,  namun karena setiap ibu kebaikan,  akan selalu datang dari perempuan.  Jika tidak,  kelak anak2 mk u tak akan mengerti apa makna kerakusan dan serakah.  Tak bisa bedakan mana halal mana haram.

Tetaplah istiqamah dengan kondisi batinmu hari ini,  bukankah setiap jejak yang kau buat,  kamu pasti tahu Tuhan menyayangi dirimu melebihi apapun.

Senin, 22 Mei 2017

The night

The Night
Malam mungkin akan melewatimu sebentar diantara desah nafas yang selalu menyebut namaMu,,,esok juga akan ada matahari yang akan memberimu asa,,,bukankah ini hanya jeda untuk memberimu detik yang akan menghilangkan hina. Buakankah ini kesempatan dirimu buat menguntai doa dengan siraman air mata. Di sudut sudut malam, diantara kantuk yang menggenang, rasa, dera, dan kepahitan, hanya goresan di ujung pena. Saat mengering, kau akan tahu itu jadi bagian lukisan hidup yang indah dengan memandangnya dari kejauhan. Waktu memberi itu, senyuman,,,

Jadi, kecemasan apapun yang hari ini dan esok ada, mirip dengan suara rintik hujan yang sebenarnya segera sirna ketika jatuh, tak ada yang harus dikuatirkan, dan tak usah dipahami dengan jargon apapun, semua akan terlewati tanpa ada apa-apa. Satu hal yang harus kalian lakukan hanyalah satu hal: biarkan segala hal menyelesaikan masalahnya sendiri dengan cara apapun, yang penting diantara bait-bait doa yang terucap, kamu hanya meng-agungkan nama Nya, bukan hal pinta, karena itulah cinta sesungguhnya

Inner self

Diujung kehidupannya,  merasa malaikat maut segera menjemput, pak tua itu memanggil ketiga anak lelakinya,  si sulung,  tengah dan yang bontot."anakku,  ayah mungkin tidak lama di dunia ini, aku panggil kalian bertemu untuk menentukan siapa yang berhak menerima warisanku berupa tanah dan rumah". Ketiga anaknya manggut2 tampak berseri kecuali anak bontotnya yang begitu bersedih sebab selama ini dia yang merawat ayahnya.

Lantas pak tua melanjutkan : ayah Kasih uang 1juta, penuhi kamar kalian dengan barang apapun dari uang itu,  yang bisa memenuhi kalian berhak atas warisanku.

Segera setelah itu ketiga anaknya keluar membeli barang,  si sulung membeli garam, dgn pikiran garam murah dan bisa dapat banyak. Tapi dia hanya bisa memenuhi separuh kamar,  si sulung pun kecewa.  Ganti si anak tengah membeli kapuk, karena kapuk ringan dan mengembang harapannya kamar bisa penuh,  namun lagi lagi kecewa karena hanya bisa penuhi 3/4 nya.  Akhirnya si bontot kembali dengan membawa korek api dan lilin.  Kemudian di nyalakannya sebatang lilin yang segera cahayanya memenuhi kamar tersebut. Akhirnya sesuai kesepakatan warisan jatuh ke anak terakhir namun ditolaknya,  malah harta warisan tersebut diserahkan pada kakaknya,  dan dia hanya minta bisa merawat ayahnya sampai meninggal,  setelah itu pergi meninggalkan semua hal yang pernah menjadi haknya.

Moral cerita diatas adalah, kehidupan selalu memiliki arah dan tujuan, ada yang "berenang" di sungai2 kebendaan,  ada yang berjalan2 menyusuri jejak Nya. Si bontot memilih itu,  bukan berarti tak mau materi, namun diperlukan dalam kapasitas tertentu, selebihnya buat dia malah jadi beban yang harus dipanggul,  dan ia rela melepaskan.

Minggu, 21 Mei 2017

Alif-hamzah ya

Saya hanya bisa meniti alif ba ta tsa
mengulanginya berkali kali namun
tetap saja hamzah,,,ya hanya ada di kejauhan
khatam hanya jeruji yang pandai bersembunyi
tabir semu yang sengaja tak akan nampak dimatamu
namun batin berkata itu sudah cukup mengena
tatkala orang bijak berkata: hidup tak hanya meniti huruf
melakoninya tanpa penghayatan itu sia2

Mungkin saya terlalu naif kalau yang bisa di eja
hanya huruf-huruf yang menguntai menjadi terbaca
C-I-N-T-A,,,dan tiba tiba angin mengangguk daun menjuntai
pagi ini serasa pagi yang lain
entah kenapa

Ga ada judul

Saat kami terpaku menatap embun yang hilang
ditengah gempita angin menelisik satu persatu relung
di kedalaman kewarasan ini mengejawantah jadi debu
perlahan menghilang menjadi cahaya berpendar dibalik mentari
episode ini kami selesaikan saat daun pun perlahan menjuntai
menunduk syukur di ribuan dengung suara lebah diantara kelopak bunga
kau tahu?ini mirip suara dzikir yang begitu lembut mengagungkanMu
hanya sedikit yang bisa mendengar, hanya sedikit yang bisa melihat
betapa ritmis kehidupan ini, betapa cinta telah jadi DNA dalam nafas kami
dan dimana egoisme dan keserakahan bersembunyi tatkala semua hanya,,,
bagian terkecil dari esaNya,,,?