Rabu, 21 Juli 2010

Jejak itu,,,


Kemana jejak itu pergi?
ketika batas ilusi dan mimpi
mati sebelum waktunya
sebuah dunia yang diakui sebagai utopia
menjadi kabur atas nama realita
ahhh,,,akan kesanakah akhirnya
lenyap bersama kelembutan cahaya
seperti menembus batas air dan udara
imajinasi yang pengakuannya teramat absurd
bukankah ia nyata
hanya dalam bentuk yang beda
namun tak akan diakui sebagai ibu kebenaran
karena fikiran terlanjur memasukkannya
dalam kotak-kotak tak bernama

kenapa,,,
segala sesuatunya harus dibuktikan dengan realita
ketika fikiran hanya noktah kecil
dari sebuah jalan bernama dogma
biarkan sekali- sekali angan liar yang bicara
tentang kejujuran alami
yang lama tak pernah ditemui
karena waktu telah berjanji
ia hanya tunduk pada kelembutan
ia hanya tunduk pada keyakinan
ia hanya tunduk pada kesabaran
bukan fikiran yang terkontaminasi
dengan ukuran dan angka
toh,,, sama saja
ia hanya nisbi yang terpenggal
ditelikung atas nama keabadian

Kemana jejak itu akhirnya pergi?
apa ia akan lenyap di ujung waktu
sebelum pasir menghapusnya dengan yang baru
meninggalkan sebuah bayangan
tentang masa lalu
hmm,,, entahlah











Hujan( Utopia)


entah kenapa kesengsem lirik lagu ini, menurut saya ini puisi yang dilagukan, guratan kata2nya sederhana namun emosinya nendang banget :-), bukan sebuah kebetulan memang,,, bisa jadi mewakili sepenggal hidup kita yang pernah ada,,,:-)

Rinai hujan basahi aku
temani sepi yang mengendap
kala aku mengingatmu
dan semua saat manis itu

Segalanya seperti mimpi
kujalani hidup sendiri
andai waktu berganti
aku tetap tak kan berubah

Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri

Selalu ada cerita
tersimpan dihatiku
tentang kau dan hujan
tentang cinta kita
yang mengalir seperti air

aku bisa tersenyum
sepanjang hari
karena hujan pernah menahanmu disini
untukku




Sabtu, 03 Juli 2010

Entah,,,


Tuhan,,,
hari ini aku hanya ingin sampaikan
atas semua kelimpahan yang telah engkau tetapkan
yang tak bisa aku hitung satu satu
dari semua kegembiraan
hingga kepedihan
yang menguras tawa hinga
airmata yang mengalir
entah hingga kemana
semua ku terima dengan pasrah
kalau ini memang sebuah jalan yang harus
aku lewati demi menemuiMu kelak

Tuhan,,,
aku hanya ingin
setiap nafas cinta dan hembusannya
biar ia menguap ke udara
bergerak menjadi angin
mengendap menjadi awan
berharap nantinya menjadi hujan
kasih sayang
biar ini menjadi langkah menuju kemuliaan
agar aku bisa memandang kehidupan
dengan penglihatanMu

Tuhan,,,
ampuni dengan ketidak sempurnaanku
hingga memahamimu dengan logika teramat sederhana
terkadang hanya menemui jebakan yang membingungkan
arah hidup apapun kelak yang dijalani
aku hanya meminta satu hal saja
jadikan tubuh ini alat cintaMu
buat menebar keindahanMu
jadikan raga ini pendar cahayaMu
sebagai tebusan rasa bersalahku padaMu



Rabu, 30 Juni 2010

nothing


aku,,,
hanya sebuah angan
noktah yang hilang di keremangan
debu kecil tak bertuan
melayang karena kecenderungan
mengembara di sudut waktu demi sebuah penghambaan
kepada sesama, kepada kehidupan
dan inti dari semua sebab
berjalan mengendara angin
berjalan bersama awan, bintang
dan semua keindahan
hanya sang waktu menemani
saat malam gelap
saat pagi menerangi
sampai ketika saatnya tiba
sang inti memanggil dengan kelembutan
seraya berkata
" hai jiwa yang tenang"
masuklah,,,
masuklah dalam dekapan
mengalir bersama sungai kebaikan
bermuara di telaga keheningan
disanalah semua kebaikan berada
menjelma menjadi cahaya


anak jaman

anak-anak jaman
bergerak di lingkaran edan
menari mereka mabuk kepayang
menjemput khamer kehidupan
menenggaknya dengan sekali tegukan
terhuyung ketika malam-malam tiba
seraya menertawai kebodohan
yang terulang selalu saja terulang
ritme yang sama namun tanpa nada
hambar,,,
kemana mereka ketika fajar tiba
cahaya yang sebenarnya
namun terlalu silau mereka melihatnya
karena terbiasa sudah,,,
mata yang buta hanya melihat sampah
sampah kehidupan ketika masa berlalu
mereka melihatnya dari waktu ke waktu

anak-anak jaman
mencari ibu kehidupan
namun yang didapat kesemuan
entah kenapa,,,sang waktu tega
mengajari mereka dengan tergesa-gesa
enggan belajar sabar
enggan melihat hati
kalau hidup sebenarnya pertarungan
dengan diri sendiri
kemana mereka akhirnya....
kelak,,,
kalau bukan teronggok di sudut kehidupan,,,
menjadi bulan-bulanan penyesalan
saat waktu hanya berlalu
tanpa bisa berputar
buat berkata sedikit sesal

anak-anak jaman
bergerak cepat tanpa arah
saat semua lewat sudah
mereka dapati kekosongan
hidup diatas gelembung
menanti satu per satu pecah
sebelum tenggelam,,,
dalam sumpah serapah
mengutuk sang guru dengan muram
menyesal dengan kelahiran
sambil tertawa entah kenapa
kesejatian yang dicari-cari di luar
hanya penantian sia-sia,,,
ugh,,,







Rabu, 23 Juni 2010

,,,bbbrrrrrr,,,,,

"kepedihan hati, luka, kecewa, apapun kata yang menggoreskannya
hanya bisa disembuhkan bukan oleh sang waktu
namun dengan membiarkannya mengalir
menuju muara keikhlasan,,,dihadapanNya"

Bilur-bilur membiru ini
kenapa harus kembali ada
seperti mengokohkan luka lama
membaca hati tak lagi dengan keheningan
namun dengan kemarahan dan prasangka
hasilnya bisa diduga
seperti bermain petak umpet
kadang datang, lain waktu pergi
tetap saja sama,,,membawa luka

kemana tawa yang terdengar kemarin ?
lepas seolah dunia mengacuhkannya
kemana wajah lembut berseri kemarin ?
melihatnya,,,
seperti embun memeluk fajar tiba
menyejukkan

bukankah telah jelas maknanya
keikhlasan seperti embun pagi
saat fajar tiba,,,saat matahari merona
kemana ia perginya
kalau bukan untuk kembali esok hari
bukankah jelas maknanya
ketulusan itu seperti wangi bunga
sebelum ia meluruh dan layu
kupu-kupu terindah menghampirinya

hmmm,,,
apa beda fajar dan senja
bukankah ia berangkat dari tak ada
lantaran ia hadir di waktu yang beda
bukan berarti ia terpisah
ia satu
kenapa harus dipertanyakan
asal muasalnya

jadi,,,
biarkan ia mengalir di kelokan sungai kehidupan
jangan pernah tanya akan kemana akhirnya
ia hanya kembali ke muara
tempat semua berawal dan berakhir
tempat semua kebaikan menemukan
rumah sejatinya
yaitu kedamaian dan bahagia

Selasa, 22 Juni 2010

matahari merah saga

matahari merah saga
cahayanya semburat
dibalik awan jelaga
keindahannya,,,
memerah jingga di ufuk sana
pertanda
senja,,,baru saja tiba

hidup,,,yang bergerak mengarungi waktu
akankah ia membawa benih asa?
tentang impian, tentang bahagia
ketika harus berdiri di tahta bimbang
ketika air mata dan kecewa
melingkari diri laksana mahkota
kenapa,,,?
kecengengan apa lagi yang hendak dibawa
simfoni kepedihan mana yang hendak dipermainkan
karena ia telah lama sirna dari singgasananya
tapi kenapa,,,?
setelah lama jauh berjalan
tawa, tangisan, jadi teman berjalan dengan akrabnya
namun begitu senja tiba
harus mengulangi kepedihan yang sama
air mata mana lagi yang diminta
ia telah lama mengering
membatu menjadi keterasingan
kenapa harus mengais lagi sia-sia
walau samar,,,bayangannya ada

terlalu naifkah bila mimpi dan realita
menyatu dengan waktu yang tak sama
kebetulan yang sering terucap
masih terlalu rapuhkah
meretas tali yang tergenggam
nisbi,,,? hmmm,,,entahlah
sehingga harus berulang menjumput keyakinan
dengan kesabaran

masa depan,,,
seperti sebatang seruling
keindahan suaranya
menggetarkan kalbu ketika jauh
namun seyakinnya ia ada
karena ia hanya bisa dipahami
dengan kejernihan
bukan dengan kemarahan
entahlah,,,
kesanggupan hati memang tak bisa diterka
terlalu dangkal dipahami dengan kebohongan retorika

matahari merah saga
cahayanya semburat jingga di ufuk sana
hmmm,,
aku tahu
senja baru saja tiba