Kamis, 06 Agustus 2026

Puncak kehidupan

Cita cita semua orang dalam level pekerjaan apapun adalah mencapai puncak, sehingga semua upaya dilakukan untuka mewujudkannya. Ada yang ingin jabatannya mencapai puncak dan tak mau tergantikan, ada yang ingin memiliki materi mencapai puncak, kalau bisa tak habis dimakan sampai tujuh turunan ( kasihan yang turunan ke delapan).

Namun begitu sampai disana kebanyakan orang akan kecewa kalau tidak dibilang terkejut, karena tidak sesuai yang dibayangkannya. Sehingga sebagaimana kita tahu sebagian orang lantas kembali turun atau diturunkan bahkan jatuh.

Puncak kehidupan apapun kondisinya mirip dengan puncak gunung, bila kita lihat puncak gunung dari bawah tampak begitu Indah, sehingga banyak orang ingin mendakinya. Tapi begitu sampai disana tidak ditemukan apapun, hsnys gersang, kering, dingin dan sunyi.

Kita mengira bila sampai dipuncak ada semacam kemerdekaan dan banyak hal sehingga boleh melakukan apapun.
Sebagaimana sejarah bertutur, cerita tentang kejatuhan setelah mencapai puncak atau dijatuhkan karena tak memahami filisofi puncak layak dijadikan renungan.

Di puncak gunung, kenapa disana gersang tidak ada satu tanaman menjulang, mengisyaratkan bila telah sampai puncak, pikiran kita harus bebas dari penghalang apapun seperti ego, hasrat dan kecenderungan. Pikiran dan hatinya harus jernih dan cling.

Dipuncak yang selalu dingin dan sunyi mengisyaratkan pikiran kita harus selalu dingin dan tidak gegabah. Di puncak yang selalu sunyi, tidak ada teman sejati yang bisa diajak "curhat" kecuali Tuhan. 
Dan itupun jika kita yakin padaNya 😊, sebab saat dipuncak sering kita kehilangan keseimbangan  😊.

Jadi,  masih pingin mencapai puncak? tidak susah, hanya perlu kesabaran yang tinggi biar mental kita terlatih,  mirip lagu anak2: naik2 ke Puncak gunung tinggi tinggi sekali,,,,



Tidak ada komentar:

Posting Komentar