dijalan setapak debu selalu menyingkir ke atas
jalan yang mulai merekah , tak mampu menahan,,
betapa kemarau telah membuatnya menjadi bagian yang legam
dan membakar
seberapa lama menunggu bulir hujan yang terlalu lama hilang
entah kemana asanya, mungkin menyublim menjadi tangis yang senyap
jadi bukankah sesal seperti menabur kemarau di terik matahari
mengharap hujan akan tiba dan menyisakan satu bulir saja
cukup,,? tidak,,,hidup tak kan mengizinkan harapan yang berbalut putus asa
tak mungkin karena ia tak menyukainya
jadi, kalau hujan yang dinanti, sementara kemarau hanya memberi perih
kepada siapa lagi berharap?
ahhh,,,bukan seperti itu akhirnya,,
bukankah disengatan kemarau panjang apapun
ada pagi yang indah dengan bulir embun yang tertinggal?
buatku itu cukup
(ketika rasa memiliki-dimiliki, cinta-benci, rindu-dendam, masa lalu-masa depan, menjadi serpihan-serpihan nisbi, memilikiMu seperti bulir embun yang tersisa, yang tertinggal, dan itu terlalu cukup buat meninggalkan damai)
Akhir Oktober yang panas di Tuban
Tidak ada komentar:
Posting Komentar