Minggu, 21 Mei 2017

Late post(jalan sunyi)

Kami hanya coba merunuti jalan dimana embun pernah memberi kesejukan, kami juga merunuti jalan yang sering dianggap gegap gempita dengan  menamainya "jalan sunyi". Angin, matahari, hujan, hutan, gunung hanyalah persinggahan sementara untuk memahami betapa berkah hanya bisa dicapai dengan kerendahan hati. Kami mengagumi pohon yang diam namun selalu bersyukur selama sehari semalam hanya untuk bertumbuh mengikuti cahaya.

Jalan di depan kami adalah mencari bukan "mencari", kami tidak bergerak keluar namun ke dalam, memahami kalbu dengan membawa kenikmatan dari mata wadag dan mata batin untuk mengerti betapa jalan sunyi hanyalah cara bergerak menemui berkah dan karuniaNya. Tidak semua kami memahaminya dengan urutan logika yang bisa memenjara, terkadang hanya dengan mata buta.  Bila semua terukur dengan dikotomi dan angka, dualitas yang membuat kami tak bisa bergerak dan menjebak, ijinkan memaknainya dengan kelembutan dan keindahan, inti dari kemanusiaan. Kami bukanlah filsuf, bukan pula pencari kebenaran, hanya seorang yang nyadong keikhlasanNya, kasih sayangNya, mengemis cintaNya.

Baju kami hanyalah syukur, selimut kami rendah hati, sepatu kami adalah keikhlasan, dan perjalanan kami hanyalah cinta. Mungkin sudah terlalu biasa jika ini disalah pahami, sebab kesepian tak menyingkirkan dan menghindari menuju tempat sepi. Kami menjalaninya di lahan-lahan keramaian, pusat ego manusia di sudut sudut jaman. Mengolah sampah peradaban yang ter(di)singkirkan menjadi cahaya dan keindahan, lahan subur untuk ditanami dengan nafas ke-esaan, dan merawat menumbuhkannya dengan cinta. Biar kelak ketika nafas dan darah tinggal satu hirupan, harapan kami adalah meninggalkan jejak yang akan mengilhami angin, hujan, pohon, batu,embun, matahari dan semua mahluk bumi untuk selalu berendah hati dalam syukur dan keikhlasan. Sebab buat kami dunia bukanlah tempat memiliki sesuatu namun menakar keikhlasan cintaNya dalam satu tarikan nafas. Dan itu terlalu cukup buat kami, sebutir debu yang pongah mengharap kasih sayangNya,,,:-).

Selasa, 09 Mei 2017

Semua akan indah pada waktunya

"Semua Akan Indah Pada Waktunya"

Siang tadi saya berkesempatan jadi cerewet dengan menemui yunior saya eks pengurus jurnalistik kampus.  Layaknya senior yang harus dihormati,  saya bombardir mereka dengan jargon dunia kerja yang tentu saja membuat mereka bengong, saya merasa bangga sedikit , melihat yunior begitu terpana. Di akhir waktu saya beri mereka kesempatan bertanya,  tentang dunia pekerjaan dengan harapan saya bisa menjawab semua yang ada di benak mereka. Namun pertanyaan mereka membuat lemas kehilangan daya walaupun pertanyaannya cukup sederhana : "pak abis ini saya kerja kemana?"
Runtuh kewibawaan saya sebagai senior dengan pertanyaan itu,  jadi sekian jam saya bombardir dengan idealisme,  realisme seputar dunia pekerjaan bahkan sedikit angkuh saya sisipi tentang spiritualisme dengan harapan mereka melihat seniornya kelihatan digdaya,  akhirnya ngelimpruk,  nyesel banget saya bercuap2. Kalau pertanyaan itu yang nanya broedin pasti tak pisuhi,  seluruh kebun binatang pasti habis saya sebut.

Tapi ini,  pertanyaan yunior,  sama saja mereka bilang: "ente cuap2 sampe berbusa ga ngefek buat saya yang saat ini melihat dunia aja ga jelas", minjem istilahnya syaripah alias nyonya broedin : auk ahh gelap. Tiba-tiba dunia yang saya lihat juga jadi gelap,  entah karena Malang lagi turun hujan,  namun dinginnya seperti menusuk kewibawaan saya. Dalam hati saya misuh: jangkrikkk,,,,,lapo aku mau crito iku. Saya mewakili senior minta maaf (dalam hati, karena gengsi) dengan hal tersebut,  saya melihat kepedihan di wajah mereka sehingga ada temen2nya melihat jadi sarjana adalah bencana. Penelitian yang jadi prasyarat kelulusan sarjana seperti pintu madesu. Saya ga berani menyalahkan sistem pendidikan saat ini,  bisa dibilang subversif nanti 😀😀😂, saya juga enggan bilang kalau mereka tidak siap masuk dunia pekerjaan sebagai tenaga fresh graduate karena minim skill. Karena saat awal karir dulu saya juga alami hal yang sama, harus mencari sendiri, mirip bebek yang dilepas ke sawah buat nyari makan sendiri, matuk sana sini,,, 😀😀😀😂😂😂😂

Saya tatap mata lugu mereka, tak akan banyak yang akan duduk dipuncak nantinya, sebagian akan perlahan menghilang dari peredaran,sebagian yang lain akan menyadari, meskipun terlambat, pilihan2 hidup mereka. Jujur saya merasa bersalah,  karena bukankah itu juga jadi bagian tanggung jawab seniornya buat ngasih cahaya semampunya,  jalan mana yang baik buat ditempuh,  mulai dari pilihan awal masuk hingga keluar. Di akhir waktu saya hanya titip sama mereka,  kuatkan mentalmu,  dunia ini tidak butuh orang pintar,  tapi butuh orang bermental baja(mbuh bener apa ga saya bilang sedikit ngawur biar ga kelihatan panik). Saya hanya bilang "semua akan indah pada waktunya".

Setelah itu saya buru-buru pamit,  takut dengan pertanyaan lanjutan yang akan membuat hati ini makin galau,  duhh Gusti,,, kuatkan hati mereka saat memulai berlayarnya "perahu" kehidupan mereka.
#buat Anas and izis

Selasa, 02 Mei 2017

Mo limo ala gurpan

Mo limo,,,,
Saya terlampau hafal, tiap menjelang Ramadhan,  Gurpan selalu menemui saya dengan caranya sendiri, entah kebetulan atau tidak,  kali ini saya nemui seorang dengan gaya sporty,  celana jeans dan kaos polo plus kaca mata bening,  namun anehnya tanpa tangkai,  saya juga bingung ko iso nempel. Di pojokan mall ada tenant dengan tulisan mencolok,  gurpan corner,  menjual mo limo.  Saya ketawa hampir pingsan dibuatnya,  gurpan jualan mo limo.

"Gurpan,,,apa kabar? Lama ga ketemu,,, saya memeluknya sambil berkaca kaca. "Broken wing,  katanya sambil tertawa,  ketemunya mesti selalu disini, jarang banget di warung kopi hehehe... Ini yang ingin saya tanyakan gur,,, jualan mo limo, kamsutnya opo? Kamu tahu kenapa saya bikin corner di pojokan toilet? "Gak ngerti gur kenapa". Kamu pernah nanyakan dimana jalan sunyi berakhir? Aku bilang ditoilet tempat manusia menjadi apa adanya,  ga ada jaim2an, mau pejabat,  mau artis atau orang biasa,  gitu kebelet,  ga ada mau pipis dibuat akting secantik mungkin, mau BAB ga bisa dibikin se eksotika mungkin, semua wajar dan manusiawi. "Terus apa hubungannya dengan jualannya gurpan mo limo? ".

"Aku hanya jualan ide,  tempat pojokan kita bisa duduk sebagai manusia,  apa adanya,  kita bisa ngobrol tentang keluh kesah manusia dalam hidupnya atau apa saja". Memang ada yang mau? Pertanyaan yang naif sebenarnya,  di gurpan corner ada kursi pijat plus musik lounge yang memanjakan orang,  disana betah berjam2. Lantas apa hubungannya dengan mo limo gur? Ini bukan mo limo seperti biasanya broken wing,  mo limo yang saya maksud adalah :Mondokk, moco, mowo, moso, mandheg. " artinya apa gur?

Banyak manusia kehilangan habitat sejatinya broken wing,  hingga mencari kebahagiaan diluar dan lupa sejatinya mereka harus ngapain.  Mondok,  bukan berarti harus nyantri,  ibaratnya mondok adalah tiap orang harus menuntut ilmu,  apapun usianya,  gendernya,  karena hanya dengan itu dia bisa membuka hatinya.  Moco,  adalah kelanjutan dari mondok,  setelah menuntut ilmu orang akan bisa "membaca" alias iqra.  Membaca situasi,  membaca alam,  apapun. Setelah kamu bisa moco,  selanjutnya mowo,  alias bara,  alias api,  hidupmu harus bisa menerangi sekitarnya,  memberi kegunaan buat sesama,  dan untuk itu kamu perlu menahan diri alias moso alias puasa,  itu membuatmu tetep berjalan dijalur yang benar,  sehingga dalam totalitas pengendalian dirimu,  dirimu mandheg alias bisa mengendalikan diri mana yang perlu msna yang tidak.

Saya bengong denger gurpan berbicara mo limo,  baru kali ini dia bicara begitu,  namun saya tahu kenapa dia bilang begitu,  ini hampir puasa,  dan selalu gurpan ngasih petuah untuk bekal saya.  Saya hanya bisa tertunduk terharu,  its emotional for me. 😭

Kamis, 27 April 2017

Ini tentang broedin

Drs. Broedin van Klompen Prof. S. Tp, S. Ag, MA
Saya nemukan akun itu di fb,  atas nama broedin dan kalau lihat foto profilenya seh sama,  hanya yang ini pake dasi,  dan saya tahu foto itu yang dia pake saat e-ktp.  Yang bikin geli,  status yang menganalisa tentang ulasan mikro ekonomi cukup tajam dan lugas.  Dan ammpuun,,, yang nge-like  rata-rata doktor demikian juga temen virtualnya,  karena canfumkan gelar juga.

Gayanya yang kemaki membuat saya ketawa,  nggregetno sekaligus kagum,  masa doktor beneran dia makan argumentasinya,  di statusnya bilang jika makro ekonomi sangat dipengaruhi oleh pergulatan global dan mikro ekonomi hanya dipengaruhi cuaca lokal.  Argumen yang nyleneh membuat statusnya banyak dikomen,  dan sohib saya broedin van klompen bilang dengan logika: kalau anda jualan es di siang yang panas oke,  tapi bagaimana jualan es tetep laku saat cuaca hujan? Jawabannya cukup cerdik,  anda cukup dengan jualan yang bisa di cuaca dingin dan panas,  misal kopi bisa jadi es kopi,  es teh bisa jadi teh nasgithel. Mbuh ngawur opo ga banyak yang komen memuji dia.

Banyak orang mengira broedin adalah konsultan usaha mikro dan pengamat ekonomi,  sehingga banyak yang pingin di konsultani tapi dengan cerdik dia ngeles dengan alasan waktu,,,, 😂😂😂😂. Sehingga saat ketemu dia langsung,,,misuhhhh saya dulukan,,,, jaannn,,,,, k,  ente kapan sekolah sampek profesor dien,,, namanya pengelabuhan intelektual. "Sopo sing bilang profesor? ". Lah itu di akun fb kamu cantumkan gelarmu sak abreg,  dan cilakanya orang percaya gaya pencitraan jadulmu. Broedin hanya ketawa terkekeh hingga membuat saya penasaran,  broedin orang cerdas,  dia ga mungkin melakukan itu tanpa maksud.

Akhirnya saya tahu justru dari istrinya syaripah (panggilannya mbak Sari,,, 😂😂😂), jadi mas brok lom tahu artinya,,,syaripah nerangin kalau itu hanya singkatan Drs: dari Sampang,  prof. Stp : profesi sebagai tukang parkir,  S. Ag: Surabaya arek gemblongan,  MA: madura asli,,, gitu mas brok,,, mbak Sari aja taunya barusan(istri broedin selalu menyebut namanya sendiri kalau bicara). Trus maksudnya apa mbak Sari?. Kata kak dien,  buat nyindir orang yang maniak gelar dan pinter  tapi hatinya gelap. Ohhhh,,,, saya manggut2,,,entah kenapa saya kebayang wajahnya yang nyindir saya. 😪😪

Sabtu, 15 April 2017

Bahagia(absurd?)

Bahagia
Ini cerita tentang bahagia yang pernah saya janjikan pada mertua dan anaknya dulu waktu masih pedekate dengan semangat saya berusaha meyakinkan kalau anaknya bisa disunting tidak usah kuatir tentang masa depan,sebab pasti saya akan jadi lelaki yang bertanggung jawab untuk kehidupan anaknya dan cucunya. Tentu saja sebelumnya anak mertua sudah saya "racuni" tentang masa depan Bla,,Bla,,Bla,,😂😂. Ibaratnya kalau adinda mau jadi istri saya, apapun mau keliling dunia kemana Ok,mau ke Paris, ke bulan, Ok punya. Hasilnya saya sukses menyunting anak mertua yang kelak jadi ibunya anak-anak. Saya sendiri kadang heran berani beraninya ngelamar anak orang dengan menawarkan masa depan yang indah, ibaratnya saya nunjuk satu bintang di langit sambil bilang itu rumah kita,,,,😀😀 padahal dulu ngelamar masih pengangguran, badan kerempeng karena kurang gizi,,,,😅😅

Setelah jadi istri, saya pun tersenyum kecut kalau diingatkan janji itu, jangankan ke Paris bahkan ke 🌒 bulan, nyediakan waktu buat nemenin ngobrol aja susahnya minta ampun, sampai saya berkesimpulan kebahagiaan itu sebenarnya absurd, antara realita dan impian garis pemisahnya  letaknya di lidah. Apakah istri saya bahagia, entahlah saya gak berani nanya,,,,😁😁😂, dosa rasanya sama mertua dulu,,,,karena sebenarnya dulu saya ngemis cinta anaknya,,,😂😂. Tapi apapun saya sukses telah memberikan kebanggaan sama anak mertua, bisa menjadi ibu, dipanggil nyonya dan dilingkungan rumah dipanggil ibu Joko, hal yang tidak mungkin terjadi kalau tidak menikah dengan saya,,,,,😂😂😂😂, karena bukankah banyak wanita, gadis menginginkan hal tersebut,,,,hahahaha,,,

Jadi, saya sampai pada kesimpulan, jika bahagia absurd adanya, bahagia yang sejati sebenarnya bagaimana ?Kata mas gede Prama bilang kebahagiaan yang datang dari luar dan terbeli, akan datang dan pergi. Jadi kebahagiaan datangnya dari dalam ya mas gede,,,,setelah saya renungkan mungkin benar bahagia sebenarnya serangkaian sikap dan bukan keadaan. Bayangkan saat pagi hari saya terbangun dengan kondisi kucek gitu, nyonya bilang pria paling ganteng yang pernah ditemui,,,,langsung saya cium dia,,,,dan ditolak karena bau jigong,,,,😂😂😂. Apakah ini serangkaian sikap yang membuat bahagia muncul dari dalam,,,entahlah tapi saya berusaha membenarkan biar gak ingat janji saya dulu ngajak dia ke Paris, kalau ke bulan saya bilang sekarang disana lagi musim dingin gak enak hihihi,,

Rabu, 22 Maret 2017

HBD sayang

Bukankah kita tak perduli berapa jumlah usia yang telah dilewati?  Kita hanya perduli dengan mengingat semua kenangan indah yang pernah kita lalui bersama.  Kita juga tak mungkin mengingat kecengengan tang tak pernah membuat kita terjaga.  Yang di mau kita hanya ingin setiap moment dalam benak mengalir dalam darah dan menjadi DNA kita seraya berkata,  bahagia ternyata sederhana

Entahlah,  liku hidup telah membuka kebuntuan tentang bagaimana cara mencintaimu dengan teramat bersahaja,  karena kita pernah hidup dengan kenaifan yang berbeda.  Namun apapun itu,  bukankah kita tau bagaimana saling menyayangi dengan cara kita masing masing. Waktu,  dimensi yang semula membentangkan jarak,  dengan caramu ternyata ia hanya lingkaran spiral meskipun seperti jauh namun kita bisa menatap sambil tersenyum,  terlalu dekat bukan,,, 😀.

Jadi apapun dimanapun dirimu,  merindui dan menyayangi sudah jadi hirupan nafas keseharian,  dan meskipun mimpi mengaburkan wajahmu,  di hati terdalam ada sebuah keyakinan,  cinta tak kan hilang oleh masa.  Ketika waktu penggal menemuimu,  ayah hanya pengen bilang: HBD sayang

Kamis, 09 Maret 2017

"Wajah" tuhan

*Kangen sama tulisannya gede prama*
Cerita seorang ibu melihat permennya diambil putranya tanpa seijin sang ibu, sang ibu marah lantas berkata: tidakkah kamu melihat Tuhan ketika mencuri permen mama?. Dengan polos si anak menjawab :lihat ma,,,. Mendengar jawaban itu sang ibu tambah marah, diikuti pertanyaan lebih emosi: Tuhan bilang apa sama kamu?. Dasar anak polos, dia menjawab jujur: Boleh ambil dua.

Ini cerita yang terbuka dari penafsiran, namun dari satu sudut pandang, "wajah" Tuhan di kepala kita tergantung pada kebersihan batin kita. Dalam batin yang bersih anak yang polos dan jujur, Tuhan berwajah pemaaf dan pemurah. Dalam batin yang mudah emosi dan curiga, Tuhan menjadi pemarah dan penghukum
(Gede Prama: Simfoni dalam diri, mengelola kemarahan menjadi keteduhan)