Sabtu, 31 Desember 2011

catatan tanpa nama


waktu,,,seperti lembaran kertas

didalamnya tertulis catatan semu

tentang kisah tawa, airmata,kepedihan dan bahagia

sebentar akan terlipat menjadi perahu kertas

pelan akan hanyut menuju sungai masa lalu

menjelma menjadi kenang

menjadi pupuk jiwa

biar kelak menjadi cahaya




Kamis, 29 Desember 2011

Udin naik angkot


Nazarudin Hoja bertanya pada Gurunya :" kenapa saya diberi Tuhan istri cantik? "karena kamu pintar memilih dia, jawab sang Guru."sudah cantik,,baik pula",,karena kamu memang pintar memilih dia. "tapi kenapa dia bego?". Kalau dia pintar tidak akan memilih kamu, jawab Gurunya kalem.

Moral dari cerita diatas adalah, terlampau sering kita ingin yang baik tanpa mau yang buruk, mau indah tapi menghindar yang buruk. Mengharap bahagia enggan menerima kesedihan. Hidup ini memang aneh, saat bahagia datang dari pintu depan, pada saat yang bersamaan wajah pedih telah menunggu dari pintu belakang . Bahagia dan sedih seperti bandul jam, semakin bergerak ke kanan akan semakin kuat bandul itu menarik ke kiri.

Jadi yang dilakukan adalah menerima dikotomi, dualitas, baik-buruk, senang-susah dalam kemesraan yang sama. Gampang diucapkan namun sulit dilakukan,,,tapi bukankah kehidupan apapun ronanya adalah untuk dialami bukan sekedar dipelajari?. Jadi kalau sekarang lagi patah hati, atau sedang nge-fall in love,,,bukankah sudah saatnya untuk dialami. Patah hati dan jatuh cinta tidak sekedar berhubungan dengan kekasih, namun juga dengan Sang Maha Kasih. Pasang surut hubungan demikian bukankah mengasyikkan.

Jadi kalau hanya mau enak tapi enggan menerima yang tidak enak, sama saja menerima kebahagiaan dengan tangisan, tawar apapun keberuntungan yang menghinggap. Sehat terasa nikmat saat kita sakit. Persis seperti saat Nazarudin Hoja naik angkot, dihadapannya ada seorang wanita cantik dengan rok mini sehingga bagian yang paling dalam terlihat tanpa disadarinya, karena takut malu kalau diingatkan, tak kalah akal Nazar pun bernyanyi "indonesia tanah air beta" :,,,,,disanaaaa,,tempat lahir betaaa,,,dengan cepat wanita itu menutup kakinya :-).

Lantas apa hubungannya dengan kehidupan?hmmm kalau boleh di-ibaratkan kehidupan dengan wanita cantik,,kadang kita terlampau percaya diri sehingga lengah kalau hal yang amat vital dan dalam diabaikan, sehingga kita tersadar saat nyanyian bernama sakit, tangisan, kepedihan datang. Apa bagian vital dan dalam dari kehidupan? tanya saja pada nurani :-)










Jumat, 23 Desember 2011

Tuhan dan sepak bola


Saya tidak habis pikir kenapa sepakbola di Brazil dikiaskan menjadi agama. Tapi memang negeri itu banyak melahirkan legenda sepak bola seolah talenta disana tak ada habisnya. Namun untuk kiblat sepakbola saya malah pengagum Belanda dengan total football-nya, keindahannya memang tidak bisa mengalahkan negara Amerika Latin, namun daya serang yang melibatkan seluruh pemain buat saya mengagumkan. Sedangkan untuk klub mengaku menjadi Romanisti, bagaimana keterikatan fans dan pemain saat laga di lapangan begitu kental.

Lantas apa hubungan sepakbola dengan Tuhan? ada beberapa hal, pertama, secara filosofi sepak bola berke-bolaan yang esa, hanya ada satu bola di lapangan yang dimainkan 22 orang ( bukankah ini mirip dengan berketuhanan yang maha esa?). Bayangkan kalau bola sepaknya di lapangan lebih dari satu, bukan saja permainan menjadi tidak menarik namun jadi sumber kesemrawutan, sama dengan Tuhan Yang Esa, kalau lebih dari satu pasti bencana. Kedua, sepak bola membuat orang menjadi dekat dengan Tuhan, seperti sahabat saya yang melakukan shalat istiqara, agar timnas Indonesia menang dalam Seagames kemarin. Walau hasilnya timnas gagal merebut emas, sahabat saya berkilah kalau saat final dia kurang khusuk, dibanding supporter dari jiran. Ketiga, hanya sepak bola yang mampu melunturkan sekat ras, sosial, kasta ekonomi, semuanya menyatu dalam kekhusukan satu bola sepak. Bukankah ini juga yang diisyaratkan Tuhan? di"mata" BELIAU hanya orang khusuk yang diterimaNYA, bukan pangkat, harta, dan kepintaran.

Bayangkan total football Belanda menyerang seperti air bah dengan secepat kilat kembali bertahan, tanpa kenal lelah mengejar bola dimanapun berada. Bukankah dalam berketuhanan kita harus total, disudut manapun posisi kita, sebagai centre bek, deffender, striker, libero, pemain sayap, tetap istiqamah mengejarNYA. Saya juga mengagumi bagaimana keakraban Romanisti dan pemain di lapangan, begitu dekat layaknya sahabat. Entahlah dalam berketuhananpun mestinya begitu. DidepanNya kita pantang kurang ajar, tapi bukan berarti kaku seperti atasan-bawahan. Bukankah BELIAU pernah bilang : AKU seperti yang engkau sangkakan. Saya kadang membayangkan BELIAU berwajah ramah bukan marah, layaknya sahabat seperti Romanisti dan pemainnya. Anehnya saat Tuhan "berwajah" ramah kehidupan pun berubah menjadi lebih bersahabat.

Kadang saya berandai-andai, apakah negara yang sepak bolanya maju, wajah penduduknya lebih toleran dengan perbedaan ? saat melihat diri sendiri saya takut, sepakbola kita memang akan terus maju, tapi jadi ngeri melihat tawuran ketika klub kebanggaannya kalah,. Apa Tuhan "berwajah" pemarah, sehingga tak henti-henti negeri ini menerima cobaanNya.

one moment time


Ada yang bilang selain ruang dan waktu sebagai dimensi ke 3, hari ini teknologi informasi telah memberi satu dimensi lagi. Lebih akrab dengan dunia maya, internet hari ini telah merubah manusia dari semua sisi. Dimensi ke 4 memang membuat perubahan yang cukup signifikan pada manusia, dan cara memandang dunia pun berubah. Maka muncul budaya baru, perilaku baru, dengan semua aspek positif dan negatifnya.Saya yakin bapak evolusi manusia,,omm Darwin pasti terkejut dari alam kuburnya melihat perubahan ini. Ditengah kemudahan diatas perubahan, saya melihat potret yang menggelikan dari manusia di negeri bernama bangsa Indonesia.

Begini,,,saya merasa orang-orang makin intim saja dengan gadget teknologi informasi. Saya pernah lihat di bandara Surabaya, ruang tunggu seperti senyap, hanya bunyi tang ting tung, mulai dari BBM, sms, FB, nge-twit dan cuek dengan sebelahnya. Di jaman yang makin instan ternyata perilaku makin instan saja. Interaksi sesama ditentukan dengan situs jejaring sosial, teman di FB ribuan, namun teman dunia nyata hanya segelintir saja. Lebih menggelikan lagi masalah cinta ternyata terbawa, banyak yang dapat jodoh dari fasilitas ini ( saya yakin biro jodoh hari ini banyak yang colaps ).

Teknologi ini memang menghanyutkan, sekali masuk tak akan bisa kembali, ia seperti telah menjadi "tuhan" baru di abad modern. Interaksi dengan dunia nyata sebatas just say hello. Anak yang dilahirkan di jaman digital paling terpapar dengan kondisi ini, ada keperihan yang tak bisa ditampakkan namun terlihat jelas. Interaksi mereka di dunia nyata seperti absurd, ada namun tak disana. Mungkin mereka tidak pernah belajar bagaimana berinteraksi dengan sesama secara tulus, mereka belajar semuanya secara virtual. Kehidupan butuh dialami bukan dengan belajar secara virtual termasuk bagaimana rasa menyayangi. Kepekaan yang hilang, kaku dan rigid. Ini menyedihkan.

Saya pernah melihat bagaimana seorang sahabat gagal menyayangi seseorang di dunia nyata karena lupa (atau tidak tahu)bagaimana menyayangi secara tulus, bagaimana mencintai seseorang dengan hati, bukan logika. Ini mempengaruhi perilaku, dan saya terkejut saat melihatnya begitu sensitif, egois,possesif, tidak bisa berkomitmen dan terkesan tega namun terlihat kebingungan dan gamang. Ada keperihan yang tak bisa dilihat namun terasa ada dari sorot matanya. Lantas siapa yang patut disalahkan? entahlah,,,kehidupan nyata memang harus dialami bukan dipelajari walau konsekwensinya berurai air mata, harga yang setimpal dengan bahagia yang di damba.

Kamis, 22 Desember 2011

Nyanyi sunyi bidadari


Disini,suara-suara angin tak mungkin terdengar lagi
hanya gemuruh sunyi menepis setiap hasrat untuk menemui
dendang yang terdengar kidung melantunkan kecongkakan malam
memerihkan setiap bulir darah terhanyut sampai tepian mimpi
setelah ini,,,tak mungkin ada lagi

Bukan ditepian jaman menelisik satu satu asa yang hilang
bukan disana,,,sebab senja kemarin ia sudah tak ada
perpisahannya di ujung jalan saat kelok pagi menyeringai sepi
kamu harus tahu,,,saat itu senyap
mata hanya kabur karena tak bisa menahan sesak

Disini, suara-suara angin tak mungkin terdengar lagi
bukan karena apa,,,
namun hati terlanjur pasi saat dirimu berkata
setelah ini, tak akan ada lagi senyum untukmu
setelah pergi,,,tak akan ada lagi bidadari

Ya,,ya,,ya,,aku tahu
yang tertinggal hanya kidung sunyi
kidung sunyi bidadari

Rabu, 21 Desember 2011

sebutan



Perkara sebutan memang tidak mudah, hanya karena salah sebut saja masalah sepele jadi rumit dan sebaliknya.Misalnya hanya karena merasa pintar secara tidak sengaja menyebut sahabat saya naif, ngamuklah dia. Hanya karena merasa cantik,dibilang kurang pantas, sewot jadinya. Padahal kalau mau bilang cantik/ganteng terhadap seseorang bisa saja walau kesannya sedikit menjilat. Tapi apa daya lidah terlanjur mengatakan yang sebenarnya. Saya mengerti betapa nisbinya masalah kecantikan, kepintaran di jaman ini.

Kemarin, saya sengaja menyebut beib sama si Pinkan,,,alih-alih tersenyum, dia malah sewot : can't you call me a bit sweet, I don't like this title, I felt like a little pig,,, hahaha,,,(baby,,bisa diplesetkan jadi babi memang). Kalau gitu Ayy aja yaa,,,. Boleh-boleh dari kata ayaang yaa,,,sumringah dia. Bukan dari kata ayam,,,(babi ma ayam kan sama sebutan buat ternak),,bletaak,,kepala kena timpuk jari dia yang keras. Betapa untuk menyebut orang tersayang saja begitu nisbi

Jadi pasal sebutan memang mempunyai sense yang tidak sama, seperti putra teman saya yang berumur 3 tahun diajarkan menyebut mama dan papa dengan kata : bunda dan ayah, namun apa daya sang anak lebih suka memanggil bunda-panda, padanan yang klop menurut anaknya. Tentu saja ayahnya blingsatan saat anak itu memanggil ditengah keramaian. Hmm sebutan nama saja begitu nisbi buat saya

Dunia yang makin sempit oleh teknologi kadang memang membuat manusia menjadi ter-alienasi, informasi yang berseliweran di udara membuat kita seperti makin asosial saja. Lola,,demikian dia di panggil, admin yang biasa membereskan semua masalah saya di kantor, mulai bikin laporan, program dan plan market, begitu lancar dikerjakan semua hal yang berkaitan dengan data di komputer. Di FB-nya punya teman hampir mendekati seribu, namun saat saya tanya, teman yang riil tidak sampai 10 orang, saya kaget. Lebih kaget lagi dia dapat pacar dari situs jejaring sosial juga. Hasilnya, dia ngadu kalau pacarnya possesif, saya tertawa dengar istilah itu, sehingga hari itu setumpuk kerjaan diselesaikan dalam hitungan jam. Dia lagi kesal rupanya. Masa pak,saya tidak boleh kenal sama ini,ga boleh temenan sama itu, ga boleh telpon ini,,bla..bla,,bla segepok larangan yang diterima sambil matanya sembab menahan tangis. Besoknya sudah ketawa-ketawa, dia bilang sudah putus dan dapat gantinya lebih cakep, dari,,,FB juga,,,(saya tidak tahu menyebut ini gejala apa? syndrom dunia maya, dunia yang nisbi? mungkin)

jadi perkara sebut menyebut di jaman sekarang memang perkara yang tidak mudah, salah bicara arti dan reaksinya bisa beda, saya ingat si Pinkan pernah bilang begini :be careful with your mind because it will affect your speech, keep your speech it will affect your actions, keep the action as it will affect your habit, keep your habit because it will affect your character, keep your character because it will affect your future. Hmmm,,,,

Jumat, 16 Desember 2011

when morning comes


morning may be past with sincerity
maybe it will touch every hear
when heart is only silence
tears only able to say : I will not go anywhere

here is only hope the second that had once passed
reincarnate be recalled happy
not revenge that makes the wound
because destiny has said
life will just pass behavior with tears
be happy or otherwise

would not that have been enough
so there's reason to say: bad faith and attended pretense
that should do is go to the front to pick up the dream
all let God accompany other in joy and sorrow