Sabtu, 29 Mei 2021

Lebaran

Lebaran
Lebaran itu dua bentuknya, 
Lebaran fisik dan lebaran ruhani
Lebaran fisik, wajah berseri karena atribut diri serba baru dan wangi
Lebaran ruhani,  hanya wajah spiritual yang berseri

Lebaran fisik bergembira karena bertemu keluarga, saling bermaaf2an seolah semua dosa hilang hari itu juga,  bahkan hutang minta dimaafkan dan dimaklumi

Lebaran ruhani,  menangis sedih tak terperi, perpisahan begitu terasa setelah mendekap sebulan penuh mesra dengan sang Khaliq.  Lebaran ruhani hanya meminta ampunan Nya,  menapak jalan akhirat penuh sahaja

Lebaran fisik,  begitu ramai dan berlimpah makanan dan kue,  berkunjung pada sanak saudara meminta maaf untuk menjadi fitri

Lebaran ruhani,  berlimpah cahaya ampunan dari Nya,  sepi di jalan sunyi menguak rahasia ilahi,  wajah2 spiritual bercahaya berseri meminta maghfirah Nya. 

Lebaran fisik begitu sibuk,  mudik menjadi wajib,  kembali ke kampung halaman,  membawa sedikit pamer kesuksesan di kota,  dan saat kembali,  berjuang untuk hidup demi setahun lagi

Lebaran ruhani hanya perlu kerendahan hati,  kembali pada diri sejati,  mudik ke kampung akhirat dengan berjanji,  taubatan nasuha membawa catatan amal dan dosa


Jumat, 09 April 2021

Meneteslah air mata gurpan

"gurpan selalu bilang makan kalau lapar,  minum kalau haus,  tidur kalau ngantuk,  pertanyaannya begini : kalau yang dimakan dan diminum tidak ada,  harus bagaimana gur?"tanya saya

Gurpan tampak kaget sampai tak sadar tubuhnya terdorong ke depan dan menatap wajah saya dalam2 seolah tak percaya pertanyaan itu di lontarkan. 
"Maaf2 gur mungkin pertanyaan saya salah"saya menunduk nyesel telah membuat pertanyaan yang membuat kaget,  biasanya saya hanya bisa "di goblok2an".

Kamu,,,, kamu,,, serius dengan pertanyaan itu broken wing? Katanya menatap saya seperti tak percaya. 
"Yaaa gur,,, ini pertanyaan setelah alami pergolakan batin sekian lama".
Sekali lagi gurpan menatap wajah saya dan dari kelopak matanya air menggenang mylai terisak menangis sembari tersenyum.
Tentu saya kaget tak pernah gurpan seperti itu. 

Pertanyaan pasti mewakili suara batinmu,  dan itu bukan dibuat2, apa yang kamu ali sampai pada kesimpulan : pertanyaan yang kamu ajukan tadi. 
"Maksudnya gimana gur?"
Jujur aku kaget brokenwing,  tidak mengira bisa secepat itu kamu sampai pada pertanyaan ini,  tapi aku gembira .
Makin pusing saya,,,, 

Brokenwing, jawaban dari pertanyaanmu,  kalau yang dimakan saja sudah tidak ada terus harus ngapain? Kamu sampai pada kondisi tak memiki apapun kecuali Dia yang maha kaya.  Dan itu terjadi sampai pada situasi untuk hal yang paling dasar kebutuhan hidup manusia kamu tak sanggup.  Saat itu kamu merasa bener2 Allah yang kamu miliki. 
"yaaa,,, benar gur, situasi itu yang saya alami"

Ketidak sangupanmu sampai pada batasnya dan kamu hanya bisa merintih,  batinmu terluka,  bukankah itu yang kamu rasakan betapa kamu memiliki Nya seutuhnya. Dan keajaiban datang seolah ada invisible hand yang bekerja. 
"Benar gur"saya hanya bisa menunduk.  Kami terdiam lama, saya melirik gurpan wajahnya sudah basah dengan air mata. 

Broken wing,  katanya,  teruskan lakumu ini, kamu telah sampai pada gerbang jalan sunyi berikutnya, disana ketakutan2mu,  semua keinginan2mu akhirnya tak berarti buatmu,  yang ada  kamu menjadi abdulah seutuhnya.  Laku apapun yang kau kerjakan,  selama itu hanya bentuk cintamu pada Nya,  mudah2an ini jadi pengantar ridha dan ampunan Nya.  Kelak saat kau disana kamu hanya bisa menangis,  betapa gusti sang maha Cinta menyayangimu. Dan kau tak memerlukan apapun lagi, cukup semua sudah cukup. 

Menetes air mata saya dan kami pun menangis sesenggukan. 


Ketika kesepianmu

Ketika kesepianmu mencapai puncaknya,  ketika kegelisahanmu menggedor batinmu, ketika keterasinganmu dengan diri sendiri sampai titik nadir,,, 

Kamu hanya merasakan pertanda untuk segera membasuh wajahmu dengan wudhu dan menemui Nya dalam dzikir dan tahajud. 
Ia rindu padamu,  rindu keluh kesahmu,  kangen dengan rintihanmu.  Kangen mendengar ocehanmu, pintamu yang mengada2, sebab bagi Nya itu tanda cintamu yang tulus,  tak mengada2. 

Saat air matamu menetes karena kegerahan batinmu membuatmu limbung,  dia "tersenyum" lantas dintentramkan hatimu dengan cara yang tak kau mengerti. Sampai kau tertidur kelelahan dan terbangun tanpa sadar semalaman IA menjagamu dalam rahman rahim Nya. 




Rabu, 07 April 2021

Doa kita (pengamen ala broedin)

Broedin van Klompen sohib saya bilang, tidak mungkin Tuhan tidak menjawab pinta dalam doa2 kita. Hanya jawabannya adalah "Ya" dan "Tidak ".
Jangan ngresulo kalau dijawab tidak, katanya. Tuhan sedang ngajari kita untuk belajar rasa cukup dan syukur.

Kadang,,, lanjutnya, kalau dirasakan bener2 kita ini sebenarnya sedang di ujo, sekaligus di uji.
"Maksudnya gimana dien?"
Katanya : kalau mau dilacak atas semua pinta dalam doa kita, mulai kecil sampai gerang begini, coba mas bro prosentase berapa yang dijawab ya, pasti secara statistik lebih besar.

"Loh bener itu dien"
Kalau kemungkinan jawaban 'Ya' lebih besar, kenapa harus mengeluh saat sekali2 Tuhan menjawab tidak, katanya. Mosok Tuhan kita manfaatkan seolah2 seperti mesin ATM mas bro, katanya ngakak . Mesin ATM aja nolak kalo saldonya kurang. Kita sering kurang ajar, gak pernah nambah saldo, mintanya di iyakan terus.

Padahal dengan diajari rasa "cukup" dan "syukur" aslinya loh saya malu minta2 sesuatu, makanya kadang habis shalat saya tipe orang lamcing mas bro.
"Opo lamcing dien? "
Bubar salam langsung plencing, katanya tergelak.
"Pantes nek mari sembahyang awakmu langsung bubar jalan, tak kiro opo mikiri parkiranmu? " saya ketawa denger istilah lamcing.

"Jaann,,,,uisin ane mas bro arep jaluk2,meskipun disuruh minta, tapi ane tahu diri, wong saldo kebaikan sebagai tabungan masa depan saya masih sedikit, mosok mintanya buaaanyak"

Saya terdiam (sembari misuh) sambil mbatin, kadang sohib saya ini pikirannya clear, jujur ngerasa tertohok, entah nyindir atau apa.

"Ojo misuh mas bro,,,, ane dulu kalau doa gak terkabul pasti misuh". Sialan konangan,,,
Hah,,,, ente mungkin satu2 nya manusia berani misuhi tuhan dien, kuwalat.  
"Misuh dalam hati mas bro,  tapi yo ngono setelah misuh tuhan ngasih saya banyak dan berlebih"

Mestinya ente seneng to dien
"Malah sebaliknya mas bro,  hati malah ga tentrem,  nek tak pikir2 kalau ada orang ngamen, kita cepet2 ngasih uang supaya pengamen itu segera pergi,  jangan2 tuhan ngelihat saya seperti itu,  akhirnya saya malu buat minta2"
Saya manggut2 bener juga logika pengamen ala broedin.  Sering doa kita lebih serius dari shalat kita.  Pinta dalam doa kita panjaaaang,  sedang bacan shalat hanya surah pendek. 

Rasa cukup memang subyektif tapi sebanyak apapun permintaan,  akan minta lebih banyak dan banyak lagi sampai pada titik tertentu  kehilangan jati diri.  Kita hanya menjadi pengemis doa,  tak lebih dari itu. 



Rabu, 17 Maret 2021

Lokkah tak adere* - latepost

Semalem, dalam kesempatan "nongkrong" di tempat minum kopi di Situbondo, ada sepasang muda mudi kalau dilihat dari gesturnya lagi pdkt.  Dari logatnya yang kental aksen madura, saya yakin mereka lokalan orang sana,  namun yang bikin senyum2 sendiri,  pdkt ala Jakarta,  bahasanya lo gue,,,,, nyakartai (bukan nyakar-tai) 😁. Seolah dengan bahasa gaul rasa cinta akan lebih diterima

Persoalan bahasa agar bisa kelihatan keren dengan memakai aksen tertentu terutama nyakartai sudah lama saya amati.  Di Malang,  mahasiswanya setiap ketemu entah di mall, warung jarang pake bahasa ngalam sekarang, lebih merasa cool kalau bisa ber-elu gue, padahal ketika ketemu temen sekampungnya tanpa tersadar bilang : ehhh nda,,,,piye kabarmu, suweloh ra ketemu nda,,,,; nda bahasa slank brarti bro untuk orang jawa mulai dari kediri sampai pacitan. Persoalan ini juga karena rata2 pendatang dari jakarta banyak kuliah disana bahkan penyiar radio di  malang banyak pakai ucapan lo-gue.

Gejala apakah ini? Saya sih menyebutnya imferior culture, persoalan gegar budaya bagi pendatang yang berlatar belakang agropolis menuju metropolis. Lain halnya surabaya, mereka lebih suka dengan ucapan slank setempat, bahkan penyiar radio anak muda disana selalu memakai ucapan suroboyoan, sampai dalam interaksi dengan pendengar yang namanya umpatan "raimu" umum diucapkan. Jancuuk,,,,,sudah menjadi hiasan sehari2 sebagai tanda keakraban. Surabaya terasa lebih egaliter, mereka tak merasa minder kalau tak nyakartai. Bahkan anak2 muda  pendatang dari ibukota pernah saya dengar enteng aja bilang janncuuk, mereka merasa ada penerimaan dengan bilang kata2 tersebut. 

Repotnya anak2 muda di jakarta mulai jarang memakainya, mereka selalu selipkan bahasa english,sehingga ada bahasa jaksel, jakbar, jaktim, untuk menunjukkan perbedaan komunikasi di daerah tsb.
"iam find2 aja tuh jalan sm dia yg penting ngerasa comfort aja, after all, time yang akan kasih descision,  mo lanjut apa kagak", piye jal nek ngono ngomonge,,, 😁😁😁. Saya hanya bilang,  anak muda ibukota  merasa imferior, kalau ga sisipkan kata inernasyeonal. Sama dengan yang di Situbondo semalam,  gak marem kalau ga pakai bahasa nyakartai,  hanya saya jadi kuatir,  jika yang perempuan menolak terus pakai bahasa sono,  pasti bilangnya. : lo-gue,,,,,, end,,,,, 
Pastinya si cowok langsung ambruk sambil bilang : lokkah tak addere
😁😁😁😁😁
(*) luka tak berdarah



Time doesn't make difference

Paling seneng kalau lagi hangout (cangkruk) ngamati anak2 milenial, sambil kepo apa yang dikerjakan mereka.  Harus diakui,  ada gap memang anak daerah dengan kota macam Jember, Surabaya, Malang.  Suka gak suka ini penting sebab,  10 tahun lagi mereka yang akan berdaulat menggantikan generasi berikutnya. Bisa dibayangkan jika sekarang starter point nya malah biasa2 saja, kelak  hanya menghasilkan generasi biasa2 pula. Tanpa bermaksud sinis,  ini adalah ironi problem daerah versus kota. 

Tanpa juga bermaksud komparasi,  dalam beberapa hal kompetisi itu penting,  kesadaran akan ilmu, literasi dsb harus mulai disematkan pada anak2 muda usia 15-20 tahunan.  Teknologi informasi sudah menjalar kemana mana baik kota maupun daerah,  mestinya ini menjadi trigger buat ortunya atau bahkan sekolah? agar lebih nge- push dan nge- boost  anak2 nya.

Jadi ini perkara apa? Wes ngene wae,  saya pernah melihat,  anak2 smu di starbak mulai sore sampai malam bergerombol di depan laptop asik mengerjakan tugas kelompok(jajane arek2 smu di setarbak,  sangune piro,,,,, 😁). Tapi buat saya itu positif karena mungkin wifi disana lebih kenceng daripada di rumah. Atau lain kali mereka begitu serius diskusi di Jeko sambil nyeruput mbuh minuman opo plus makan donat yang empuk (pasti gulanya tinggi, sehingga saya gak doyan). Sekarang menukik ke daerah,  disana tidak ada setarbak atau jeko,  adanya indo*****, kebetulan  kopinya enak,  ada beberapa anak paling tidak 17 tahunan lagi rame, bukan diskusi kelompok, tapi barengan main game online. 

Apa saya harus misuh2 bilang pakyu,,,, ini realita,  meskipun gak bisa di gebyah uyah sampe uaasin,  disparitas literasi bahkan mungkin mental terjadi,  padahal memiliki akses yang sama dalam teknologi informasi,  di kota maupun daerah sudah foji alias 4G. Kesimpulannya memang jelas : waktu.  Dikota waktu berjalan seperti adukan semen molen,muter begitu cepat sehingga yang kuat di tengah yang gak kuat minggir. Di daerah waktu begitu panjang mirip pisang molen,  Selow dan renyah. Sama2 molen tapi beda cara,  akhirnya,,,,, begitulah adanya 😀😀😀, dalam bahasa internasyonal istilahnya adalah : "time doesn't make a difference, but mind".




Time doesn't make difference

Paling seneng kalau lagi hangout (cangkruk) ngamati anak2 milenial, sambil kepo apa yang dikerjakan mereka.  Harus diakui,  ada gap memang anak daerah dengan kota macam Jember, Surabaya, Malang.  Suka gak suka ini penting sebab,  10 tahun lagi mereka yang akan berdaulat menggantikan generasi berikutnya. Bisa dibayangkan jika sekarang starter point nya malah biasa2 saja, kelak  hanya menghasilkan generasi biasa2 pula. Tanpa bermaksud sinis,  ini adalah ironi problem daerah versus kota. 

Tanpa juga bermaksud komparasi,  dalam beberapa hal kompetisi itu penting,  kesadaran akan ilmu, literasi dsb harus mulai disematkan pada anak2 muda usia 15-20 tahunan.  Teknologi informasi sudah menjalar kemana mana baik kota maupun daerah,  mestinya ini menjadi trigger buat ortunya atau bahkan sekolah? agar lebih nge- push dan nge- boost  anak2 nya.

Jadi ini perkara apa? Wes ngene wae,  saya pernah melihat,  anak2 smu di starbak mulai sore sampai malam bergerombol di depan laptop asik mengerjakan tugas kelompok(jajane arek2 smu di setarbak,  sangune piro,,,,, 😁). Tapi buat saya itu positif karena mungkin wifi disana lebih kenceng daripada di rumah. Atau lain kali mereka begitu serius diskusi di Jeko sambil nyeruput mbuh minuman opo plus makan donat yang empuk (pasti gulanya tinggi, sehingga saya gak doyan). Sekarang menukik ke daerah,  disana tidak ada setarbak atau jeko,  adanya indo*****, kebetulan  kopinya enak,  ada beberapa anak paling tidak 17 tahunan lagi rame, bukan diskusi kelompok, tapi barengan main game online. 

Apa saya harus misuh2 bilang pakyu,,,, ini realita,  meskipun gak bisa di gebyah uyah sampe uaasin,  disparitas literasi bahkan mungkin mental terjadi,  padahal memiliki akses yang sama dalam teknologi informasi,  di kota maupun daerah sudah foji alias 4G. Kesimpulannya memang jelas : waktu.  Dikota waktu berjalan seperti adukan semen molen,muter begitu cepat sehingga yang kuat di tengah yang gak kuat minggir. Di daerah waktu begitu panjang mirip pisang molen,  Selow dan renyah. Sama2 molen tapi beda cara,  akhirnya,,,,, begitulah adanya 😀😀😀, dalam bahasa internasyonal istilahnya adalah : "time doesn't make a difference, but mind".