Jumat, 18 Desember 2015

hayyya-haayyooo

Ketika,,,
jalan hanya mengantar menuju esok
hati ini akan tertambat dimana
kalau bukan hanya untuk mencari wajahMu

Ketika,,,
sore merambat pelan dan makiin berkhayal
mengabadikan hari dengan goresan menikam
siapakah diriku, siapakah dirimu
atau akankah Dia?

Kita belajar hidup hanya untuk bertanya : mengapa ?
bahkan saat kita perihpun pertanyaan yang sama
kita tertawa hanya untuk memandang kesialan
membingkainya dengan prasangka lucu
lantas bertanya pula: dimana lucunya?

Bukankah kita tak semakin pintar?
dan bertingkah dengan naif seolah itu memang realita
berputar seharian hanya buat meyakinkan :
kebenaran terkadang hanya serpih rindu yang dendam

Jadi,,,
apakah setelah ini sore akan berpendar dan esok akan gelap
jadi teringat cerita hujan : hayyaa haayooo haahiihuuu
aku bukanlah air mata, juga bukan lambang kesejukan
aku hanya hujan yang mengemis kasih sayang
rintik atau deras bukan hatiku, itu hanya ilustrasi
saat aku datangt lantas pergi, tak ada yang menangisi
aku hanya serpihan rindumu yang tertinggal
haayyaaa,hayyyyo, haaahiiihu
(hujan reda meninggalkan senyap, entah apa maknanya)

Sabtu, 14 November 2015

hujan november


November, mestinya hujan telah menjadi kebiasaan sehari-hari
namun entah kenapa ia hanya sesekali mampir lantas menghilang
debu yang telah lama menghayati hidupnya disudut halaman
semakin menebal dan enggan beranjak,
hanya kadang-kadang saat angin menerpa ia terbang
bukan untuk pamit tapi untuk bergurau
hujan bulan ini begitu pelit hingga doa pun terucap untuknya
ada rindu tentang bau tanah basah yang tersiram
ada kenangan tentang perjalanan tatkala november datang bersama hujan
mirip dengan semua file yang terbawa dan tersimpan disana
tiba-tiba, saya merindui hujan di bulan ini

Pray


Kalau kemilau berdiri di jejak yang tak menapak
sebuah keniscayaan hanya akan menjadi bongkah kesedihan
karena tak bisa ditemukan dimana rumahnya sekarang
atau kelak akan bertanya kemana akan pulang

Hidup bukankah sebuah sketsa yang isinya goresan
tentang bagaimana mengukur nafas dalam keesaan Tuhan
dan saat kau coba hitung satu satu maknanya
semua berujung pada hampa,sunyi dan hening

Jadi, apapun langkah yang hari ini akan kau lakukan
tak perlu ungkapkan itu untuk apa
jalani saja sembari mengukir senyum indah
sebab kita tak akan tahu,dimana pemberhentian selanjutnya

Rabu, 04 November 2015

kata kita


Lama saya tidak menyambangi blog ini, tiba tiba ada hal yang dikangeni, ingin kembali merasakan betapa gemetarnya jarti ini mengikuti apa yang ada di benak yang berlalu begitu cepat. Sesiang tadi tiba-tiba keinginan itu muncul setelah sebelum-sebelumnya hanya vakum merasakan kekosongan. Kenapa hal itu terjadi? karena beberapa hal diantaranya Gurpan dulu pernah bilang : broken wing,,,kelak kamu akan menyadari jika kata-kata hanya akan menjadi penjara pikiran. Kalau kamu tidak bijak, kata-kata hanya sebuah alat yang akan menjauhkanmu dari hakikat yang sebenarnya. Waktu itu saya gak mudeng hanya melongo,,,kenapa bisa begitu Gur,,,? Broken wing,,pencarian kesejatian, jalan sunyi, itu tidak memakai kalimat, aksara dan kata-kata, ia hanya perlu diam dan terus berjalan. Saya pusing mendengarnya.

Namun entah ini kutukan atau apa, perjalanan hidup membenarkan itu, kata bisa mengaburkan makna dan tidak lengkap menguraikan makna secara utuh. Awalnya saya heran kenapa bisa begitu, namun gara-gara kata, pernah kesasar pada pemahaman yang tidak mencerahkan. Ajaibnya segera setelah diam, kita kembali on the track. Bingung memang, namun akhirnya saya paham perlahan lahan. Mirip dengan es, laut, sungai, hujan, embun ia adalah bagian makna dari air, namun es, hujan, embun misalnya, tidak bisa mewakili secara utuh tentang air. Mereka hanya bagian yang menempati maqamnya sendiri. Kata, air bisa diwakili moleh banyak sebutan, hujan hanya sebuah sebutan mewakili kata air, namun bukan keseluruhan. Lebih pusing lagi kalau bicara benci, ternyata ia mewakili makna cinta, hanya posisinya yang beda, kitapun bisa terjebak dengan makna yang sebenarnya.

Saya jadi ingat sohib Broedin Van Klompen, dia bilang: mas wing, orang yang kebanyakan berkata-kata, biasanya sering kesasar daripada yang diam. Awalnya saya pikir itu guyonan ala broedin, namun tak dinyana makin jauh berjalan saya mengerti apa yang dibicarakan sampai saya sedikit iri, kenapa broedin yang lugu bisa mengerti makna yang dalam seperti ini? apa mungkin dari kyainya yang bilang sehingga dia sekedar niru yang dibicarakan gurunya itu, entahlah.
 Jadi sekian bulan saya nyepi menjauh karena memang lagi menikmati ke-diam-an ini, akhirnya kangen juga corat coret tulisan yang mengalir dan tanpa makna, ada sedikit pengobat rindu setelah sekian bulan tidak pernah menyambangi "kamar" tempat saya menyepi. Dulu saat lagi asik asiknya nulis, gurpan pernah tertawa terbahak-bahak baca tulisan yang saya aku itu puisi, sampai malu dibuatnya. Dia baca berulang-ulang dan tertawanya bertambah keras sampai akhirnya berhenti kemudian,,,menangis. Ketika saya tanya kenapa? Gurpan bilang : kata-katamu lebay bin alay bin picisan sampai saya mules menahan supaya gak tertawa terus. Tapi kenapa gurpan nangis? apa yang kamu tulis bener,katanya melas. Gantian saya ketawa ngakak, lantas dia bilang: kenapa tulisan ini muncul setelah aku jauh berjalan?kenapa bukan dulu-dulu saat aku masih banyak melakukan kesalahan,,kenapa broken wing,,,saya jawab saya hanya menuliskannya aja gurpan, itu bukan tulisan saya,,,makin keras tangisannya sampai saya melongo heran.

Lain lagi dengan Broedin sahabat saya, saat diperlihatkan tulisan ini dan saya bilang ini puisi, dia baca berulang ulang sambil memandangi wajah saya seolah gak percaya : ini puisi sampeyan? iya Din,,kenapa, jawab saya bangga. Jadi ini tulisan sampeyan mas? iyya Din kenapa?bagus gak? katanya: ehmmm saya iseng aja baca yang ini tapi kapan saya lupa? Hah,,kamu baca dimana Din? dulluuu mas,kalau gak salah dari bungkus kacang, itu tulisannya samma dengan yang sampeyan lihatkan ini? anjriiit(saya inget suka print alias cetak setiap tulisan tapi selalu berakhir ke tempat sampah dan akhirnya,,,



Kamis, 06 Agustus 2015

puncak


Cita cita semua orang dalam level pekerjaan apapun adalah mencapai puncak, sehingga semua upaya dilakukan untuk mewujudkannya. Namun begitu sampai disana kebanyakan kecewa kalau tidak dibilang terkejut karena tidak sesuai yang dibayangkannya sehingga sebagaimana kita tahu sebagian orang lantas kembali turun atau diturunkan bahkan jatuh.

Puncak, dalam dunia apapun mirip dengan puncak gunung, disana tidak ada apapun, gersang, kering, dingin dan sunyi. Jangan pernah mengira jika sampai dipuncak ada banyak hal dan boleh melakukan apapun,sebagaimana sejarah bertutur, cerita tentang kejatuhan dari puncak layak dijadikan teladan. Bukan maksud tidak boleh menuju kesana, namun jika tidak punya mental, puncak hanya akan menambah kepedihan.

Filosofi puncak kenapa disana gersang tidak ada satu tanaman menjulang adalah orang yang sampai disana harus bebas dari penghalang apapun seperti ego dan kecenderungan, pikiran dan hatinya harus jernih, sehingga pandangannya lapang. Dipuncak selalu dingin dan sunyi mengisyaratkan pikiran kita harus selalu dingin selau sabar dan tiap keputusan tidak boleh dibawa emosional, tidak ada teman kecuali satu satunya yang harus dibawa dalam hati dan pikiran,yaitu Tuhan,dan itupun jika kita percaya padaNya. Puncak dalam pengertian apapun bermakna pencapaian spiritualisne tertinggi namun juga mengandung arti setinggi tinggi badan kita pikiran, mental, jabatan, maqam, semuanya akan kembali ke bumi, karena singgasana tertinggi dalam kehidupan manusia justru ada di bawah, puncak hanya sepenggal bingkai waktu perjalanan hidup, bukan tujuan, sehingga ketika sampai disana hati kita bilang setelah ini harus turun, karena turun adalah tujuan hidup.

Ingat lagu anak-anak: naik-naik ke puncak gunung tinggi tinggi sekali,,,,
puncak adalah bagian yang tinggi kalau dilihat dari jauh memang indah menyilaukan mata dan keinginan. Jadi kalau perjalanan hidup kita memang mengharuskan menuju kesana, siapkan jalan turun dan siapkan teman sejati (Tuhan), mudah-mudahan perjalanan itu akan memberi kebaikan dan keindahan seperti lagu diatas :-)



Rabu, 05 Agustus 2015

re-intro (jam session with my friend)


Banyak buku bacaan yang mengulas tentang hidup, mulai dari makna, arah dan tujuan hidup hingga spritualisme nya. Mengasyikkan memang membaca buku tersebut karena membuka pengalaman baru. Namun seperti sebuah buku yang akhirnya tersimpan di rak, ketika kembali ke kehidupan sehari-hari, agak kesulitan untuk melalui apa yang diceritakan buku tersebut. Belajar dari hal diatas, akhirnya sampai pada kesimpulan, buku seperti jendela, ia memberi udara segar buat kita, ia menjadi pembanding ketika kita berjalan di ruas yang sama, jejak nya,,,kita yang harus buat sendiri.

Pertanyaan yang paling sering saya dengar saat bertemu dengan banyak sahabat adalah tujuan hidupmu apa? cita-citamu apa? hampir dipastikan semua menjawab ingin berkecukupan, bahagia, damai dan sejahtera dan,,,,ujungnya adalah untuk mencapai itu harus bekerja sekeras-kerasnya, sekolah setinggi tingginya sehingga mencapai karir puncak, materi pasti tidak menjadi masalah. So,,,pencapaian dari berkecukupan, bahagia dan sejahtera adalah memiliki materi sebanyak-banyaknya. Pendapat itu tidak salah, materi harus dicari memang, namun untuk mengatakan bahwa materi menjadi ujung tombak mencapai kesejahteraan dan bahagia, tidak sepenuhnya benar. Ada ironi ketika materi tercapai, ketakutan muncul,,,,ketakutan akan kehilangan, ketakutan ketidak cukupan, ketakutan jadi miskin  dsb. Enaugh is enaugh,,,gampang diucapkan namun susah dilaksanakan.

Hari ini banyak ribuan anak muda yang memulai karir dengan asumsi, kesuksesan, kebahagiaan tercapai dengan materi. Untuk jiwa yang sedang bertumbuh hal itu tidak salah, karena bisa jadi energi yang membakar semangat. Yang tidak disadari, saat tujuan hidup akhirnya berujung pada materi, harta dsb, pelan dan pasti, etika memilih sembunyi bahkan disembunyikan, dan ia muncul ketika maut menghampiri bersama sesal.. Jadi inikah kehidupan yang kita inginkan? hidup 60 tahun dengan 40 tahun berkarir hanya menemui sesal, kemana selama ini waktu terbuang?

Liburan lebaran ini saya banyak dipertemukan dengan sahabat saya baik teman SMA atau kuliah yang tersebar dipelosok negeri dengan pencapaian masing-masing dan rata-rata telah mapan. Anehnya yang ingin diceritakan bukanlah pencapaian nya sekarang, namun kekonyolan saat sekolah, kenakalan saat kuliah, kebodohan yang dilakukan dengan senang hati waktu itu, dan wajah-wajah mereka begitu gembira, sast menceritakannya. Mereka merasa jadi lagi "manusia" bukan manager atau direktur, bukan pimpinan. Dan sisi humanisme nya muncul begitu tulus, sehingga pertemuan itu ditutup dengan kesepakatan tahun depan ketemu lagi dengan pulang  membawa kebahagiaan. Saya yakin tahun depan kalau bertemu pasti dengan cerita yang sama, berulang, namun tetap saja dengan tawa lepas seolah tak bosan mendengarnya.

Kesimpulannya adalah kita merasa dimanusiakan (tidak dilihat dari jabatan) ketika ditarik ke masa lalu saat  belum menjadi apa-apa, masih tiada dan itu menyenangkan. Bagaimana tidak menyenangkan karena hari-hari ketika sekolah belum memiliki plan apa-apa selain mengisi hari itu dengan kegembiraan...disini senang disana senang. Tidak ada ketakutan esok hari akan seperti apa semua mengalir begitu saja. sehingga saya terkejut bagaimana sahabat saya bisa begitu detail menceritakan kekonyolan setelah sekian lama, mungkin kenangan itu yang paling diingatnya, kenangan yang dibawa hingga dewasa.

Kalau hidup bisa dipilah menjadi bingkai waktu, maka batasannya adalah day to day, hari ke hari, dan kita mengisi semua aktifitas di wadah yang bernama hari mulai senin hingga minggu. Wadah-wadah itulah yang sekarang kita isi dengan apapun, kerja keras mencari uang, sekolah sepintar-pintarnya, pencapaian karir hingga puncak. Akumulasi dari semua akan kita lihat dalam setahun, sewindu,  dasa warsa,,,dan wajah hidup itu terbentuk disana. Kalau boleh memilih, saya akan mengisi wadah bingkai waktu dengan kebaikan dan cinta, sebab hidup bukanlah bercerita tentang pencapaian apapun kecuali hal diatas. Bagaimana detail mengisi dengan kebaikan dan cinta, cukup ini jadi rahasia Tuhan dan saya :-)








Jumat, 31 Juli 2015

saat-saat,,,


Beberapa hari ini mengalami momen yang luar biasa, pertama saat menemani sahabat yang mengalami kesedihan tatkala apa yang diupayakannya telah lama akhirnya kandas, tanpa perlu menyebut apa, hingga malam saya menemaninya,,ya menemani dalam diam dan termangu, bukan galau, ini mirip gabungan puncak kesedihan dan rasa tak percaya. ini mirip kondisi beberapa tahun silam saat saya alami hal yang sama. ada semacam kebuntuan namun meleleh teramat perlahan, entah kenapa  kemarin pun menikmati berbagi kesedihan dengan sahabat. Hidup memang berganti antara tawa-sedih, dan kali ini bagian sedih ada di pintu depan hati. Esoknya sahabat tersebut berganti ketawa-tawa sembari melihatkan koleksi batu akiknya. Gantian saya yang sudah terlanjur menghayati kesedihannya malah gagal move on.

Momen lainnya adalah ketika teman sekelas di SMA tumben-tumbennya ngajak reuni, setelah lama dan hampir semburat di pelosok negeri ini, tiba-tiba kabar itu datang. Tentu saja  terheran dan hampir sebagian telah lupa wajah-wajah itu. Anehnya hanya dengan tertawa, bisa ingat namanya.  Nama yang dimaksud adalah nama panggilan, bukan nama asli. Ada yang berbau binatang, ada yang dipanggil nama bapaknya (walau bapaknya telah wafat). Waktu seperti ditarik ke masa lalu dengan wajah yang tidak cupu lagi, namun semangatnya menderu :-). Satu hal yang bisa ditarik adalah wajah-wajah gembira. Saya tahu betul kisah  apapun ronanya entah sedih, senang yang terjadi dulu, saat menjadi kenangan rona sedihnya hilang menjadi tawa. Dan cerita yang mengalir begitu luar biasa, tahu betul detail kejadian saat SMA dulu. Rupanya kenangan itu yang membekas dan dibawa hingga dewasa.

Dua hal yang beda momen namun  mengalaminya dalam waktu yang bersamaan, satu hal yang bisa diingat adalah apapun situasi yang dialami, kesedihan maupun kegembiraan, semua menguras energi yang teramat besar. ketika sedih kita seperti terlempar ke bawah jurang yang dalam tanpa tahu akan kemana. Ketika bahagia, energi juga terkuras namun sebanding dengan rasa senang seperti menemukan diri ini dalam tanda " tanpa tendensi apa-apa. Inilah yang dicari semua orang. Apapun level pekerjaan, sosial, maqam yang disandang, saat dikembalikan ke masa lalu ketika kita tak punya apa-apa justru yang diingat kejadian kekonyolan, dan anehnya ini yang paling diingat. Pelajaran yang bisa saya ambil dari dua momen tersebut adalah, apapun kesedihan kita hari ini,,,kelak itu akan kita kenang dengan tawa. Kita selalu ingin kembali pada saat kita tak menyandang status apa-apa karena saat itu kita dihargai sebagai manusia, bukan predikat yang disandang. Ujung-ujungnya kalau kita tarik kembali adalah, manusia bisa jadi manusia bukan pada saat meng-ada namun ketika meniada, buat saya ini indah.