Senin, 06 Oktober 2014

Rei*

hamba hanya meminjam cahayamu
hamba coba merenda kebaikan
dan menelisiknya di benang waktu tak terhingga
bukankah ini demi waktu yang tak bisa hamba taati
ketika ujung tak berharap terpisah awal

kebesaran hanya bisa teruji dengan doa
doa hanya terlantun dengan hati melembut
ketika semuanya telah ada dan pada tempatnya
harapan hanya jadi lenguh yang tersisa

*Rei terjemahan dari bahasa portugis berarti raja

kelok sungai

kelok sungai selalu memberi cerita
kisah yang beda namun berakhir sama
boleh saja likunya meliuk liuk tanpa asa
tetap saja menanti diujung muara
kembali ke asal sebelum bertemu hidup

bukan saja rahasia hidup terpatri disana
terbenam di bebatuan yang kita sangka itu akhir
sebab,,tetap saja kadang kita tak mengerti
kenapa harus ada liku bila tenang di haribaan
tempat kedalaman yang membeningkan

pun

lelap tak ada beda
karena,,pun,,akan menanti

langkah hanya akan kembali
disana,,pun,,menunggu setia

hidup hanya mengulang kisah
sebab waktu bertanya pada,,pun,,

bukankah cerita akan selalu berawal
dengan epilog cantik
berakhir dimana,,pun,,telah terlelap

Selasa, 23 September 2014

ketika

Ketika "mencari" jadi kata tak berarti
Ketika ruang waktu jadi serpihan masa lalu
Ketika rahasia menjadi tabir buta
Ketika embun pagi tak cukup lembutkan prasangka
Kemana jeda melangkah meninggalkan hari

Mungkin harus menepi,,,
Menepi menemui sunyi?
kata itu tak berarti lagi kini



Jumat, 19 September 2014

jejak ke seribu

ini jejak yang ke seribu
setelah bertahan dengan senandung sunyi
kidung suci yang membawa cahaya
hingga penantian kelak tiba

perjalanan bukanlah sisakan waktu
itu seperti mencari jejakMu dalam rindu




kita tak pernah tahu

1.
kita tak benar-benar tahu dimana langkah ini jeda
seperti tak pernah benar tahu ufuk dimana kita berhenti
setiap hari hanya menyusur jejak yang lekang

2.
kadang ,,,menoleh ke belakang seperti tersaput kabut
menyeringai hanya untuk memastikan ini adalah kebenaran
namun di lain waktu kepasrahan bukan ingkar hanya niscaya
yang coba kita pegang erat

3.
kita tak pernah tahu kapan berhenti bukan
bukankah hanya mimpi yang membawa sejauh ini
berharap celotehan anak kecil yang kita sangka itu kita
menemani jadi penghantar tidur kemudian terlelap
kita pernah bermimpi seperti itu



 

Selasa, 09 September 2014

rumah dan "rumah" kita

Ketika pergi sejauh-jauh yang kita rindui hanya rumah
Saat tenggelam dalam bahagia kita ingin membaginya di rumah
Ketika pedih menghampiri kita selalu ingin menghapusnya di rumah

Bukankah rumah selalu menerima kita apa adanya
Bukankah rumah selalu menyediakan dirinya tanpa jeda
Kita menangis rumah menjadi tempat membasuhnya
Kita bahagia rumah menyediakan gempita

Ada yang membangun rumah beralas tahta
Sebagian lain dengan tumpukan materi tak ada habisnya
Ada yang  membangun labirin didalamnya tanpa tahu kenapa
Ada yang mengira rumah adalah tumpukan ego belaka

Jadi rumah sejati yang bagaimana?
Rumah sejati itu beralas fana
Atap dan temboknya tiada
Pintu dan jendelanya istiqamah
Berpagar syukur dan tafakur
Semua menunduk dalam tawaduk
Kalau segala hanya milikNya