Sabtu, 18 Juli 2026

ngemeng2

Setiap tarikan nafas,  setiap kecenderungan yang terlintas,  setiap angan yang sekelebat hadir, katamu; "saya hanya menegaskan,  semua adalah nisbi. Tidak ada satupun yang bisa  terbebas atas pikirannya sendiri,  semua terekam dalam jejak waktu".

Bukankah kita sering terlalu nakal mencoba menari2 tanpa sadar  hanya untuk membuat kefanaan makin terasa naif. Bahkan lain kali kita menangisinya seolah itu akan hilang selamanya,  dan tertawa saat sadar bahwa semua ini hanya main2 belaka.

Lantas setengah berbisik dirimu berkata : aku tak menangisi apapun, bahkan tatkala kehilangan.  Aku tak bersedih ketika langkah ini hanya membawaku pada gempita. Itu semua membuatku makin sepi. 

Lantas dirimu termenung tersenyum seraya bilang; banyak orang kehilangan nalarnya,  bahkan ketakutan berlebihan pada kematian,  padahal nuraninya telah lama mati,  jadi apa bedanya?yang aku lihat hanya mayat hidup.

Dilain hari kau menangis tersedu melihat lalu lalang manusia mirip di pasar2 modern namun wajah mereka hampa,  mereka tak tahu bahwa kiamat kecil makin mendekat tetapi kenapa mereka tak makin tersadar,  katamu. 

Entahlah,  sebenarnya apa yang hendak kau bilang jika semua akan perlahan menghilang,  bukankah esok tetap ada ketika kesadaran hanya sebuah cara  memahami kehidupan secara dilektika.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar