Rabu, 05 Agustus 2015

re-intro (jam session with my friend)


Banyak buku bacaan yang mengulas tentang hidup, mulai dari makna, arah dan tujuan hidup hingga spritualisme nya. Mengasyikkan memang membaca buku tersebut karena membuka pengalaman baru. Namun seperti sebuah buku yang akhirnya tersimpan di rak, ketika kembali ke kehidupan sehari-hari, agak kesulitan untuk melalui apa yang diceritakan buku tersebut. Belajar dari hal diatas, akhirnya sampai pada kesimpulan, buku seperti jendela, ia memberi udara segar buat kita, ia menjadi pembanding ketika kita berjalan di ruas yang sama, jejak nya,,,kita yang harus buat sendiri.

Pertanyaan yang paling sering saya dengar saat bertemu dengan banyak sahabat adalah tujuan hidupmu apa? cita-citamu apa? hampir dipastikan semua menjawab ingin berkecukupan, bahagia, damai dan sejahtera dan,,,,ujungnya adalah untuk mencapai itu harus bekerja sekeras-kerasnya, sekolah setinggi tingginya sehingga mencapai karir puncak, materi pasti tidak menjadi masalah. So,,,pencapaian dari berkecukupan, bahagia dan sejahtera adalah memiliki materi sebanyak-banyaknya. Pendapat itu tidak salah, materi harus dicari memang, namun untuk mengatakan bahwa materi menjadi ujung tombak mencapai kesejahteraan dan bahagia, tidak sepenuhnya benar. Ada ironi ketika materi tercapai, ketakutan muncul,,,,ketakutan akan kehilangan, ketakutan ketidak cukupan, ketakutan jadi miskin  dsb. Enaugh is enaugh,,,gampang diucapkan namun susah dilaksanakan.

Hari ini banyak ribuan anak muda yang memulai karir dengan asumsi, kesuksesan, kebahagiaan tercapai dengan materi. Untuk jiwa yang sedang bertumbuh hal itu tidak salah, karena bisa jadi energi yang membakar semangat. Yang tidak disadari, saat tujuan hidup akhirnya berujung pada materi, harta dsb, pelan dan pasti, etika memilih sembunyi bahkan disembunyikan, dan ia muncul ketika maut menghampiri bersama sesal.. Jadi inikah kehidupan yang kita inginkan? hidup 60 tahun dengan 40 tahun berkarir hanya menemui sesal, kemana selama ini waktu terbuang?

Liburan lebaran ini saya banyak dipertemukan dengan sahabat saya baik teman SMA atau kuliah yang tersebar dipelosok negeri dengan pencapaian masing-masing dan rata-rata telah mapan. Anehnya yang ingin diceritakan bukanlah pencapaian nya sekarang, namun kekonyolan saat sekolah, kenakalan saat kuliah, kebodohan yang dilakukan dengan senang hati waktu itu, dan wajah-wajah mereka begitu gembira, sast menceritakannya. Mereka merasa jadi lagi "manusia" bukan manager atau direktur, bukan pimpinan. Dan sisi humanisme nya muncul begitu tulus, sehingga pertemuan itu ditutup dengan kesepakatan tahun depan ketemu lagi dengan pulang  membawa kebahagiaan. Saya yakin tahun depan kalau bertemu pasti dengan cerita yang sama, berulang, namun tetap saja dengan tawa lepas seolah tak bosan mendengarnya.

Kesimpulannya adalah kita merasa dimanusiakan (tidak dilihat dari jabatan) ketika ditarik ke masa lalu saat  belum menjadi apa-apa, masih tiada dan itu menyenangkan. Bagaimana tidak menyenangkan karena hari-hari ketika sekolah belum memiliki plan apa-apa selain mengisi hari itu dengan kegembiraan...disini senang disana senang. Tidak ada ketakutan esok hari akan seperti apa semua mengalir begitu saja. sehingga saya terkejut bagaimana sahabat saya bisa begitu detail menceritakan kekonyolan setelah sekian lama, mungkin kenangan itu yang paling diingatnya, kenangan yang dibawa hingga dewasa.

Kalau hidup bisa dipilah menjadi bingkai waktu, maka batasannya adalah day to day, hari ke hari, dan kita mengisi semua aktifitas di wadah yang bernama hari mulai senin hingga minggu. Wadah-wadah itulah yang sekarang kita isi dengan apapun, kerja keras mencari uang, sekolah sepintar-pintarnya, pencapaian karir hingga puncak. Akumulasi dari semua akan kita lihat dalam setahun, sewindu,  dasa warsa,,,dan wajah hidup itu terbentuk disana. Kalau boleh memilih, saya akan mengisi wadah bingkai waktu dengan kebaikan dan cinta, sebab hidup bukanlah bercerita tentang pencapaian apapun kecuali hal diatas. Bagaimana detail mengisi dengan kebaikan dan cinta, cukup ini jadi rahasia Tuhan dan saya :-)








Tidak ada komentar:

Posting Komentar