Sabtu, 30 Agustus 2014

Tuhan itu seperti apa yang kamu pikirkan

Kamu merasa Tuhan meninggalkanmu, jangan2 kamu menjauhiNya

Kamu merasa Tuhan memberi musibah tanpa henti jangan2  kamu salah mengerti makna musibah dan ujian

kamu merasa tiap doa Tuhan jarang mengabulkannya, jangan2  Dia memberi tenggat sampai kamu siap menerimanya

Kamu merasa sulit mendapat kemudahan rizki dariNya jangan2 telah lama ucap syukur hilang darimu

Kamu merasakan kesepian luar biasa, jangan2 kamu telah lama tak mengetuk pintuNya

Jumat, 29 Agustus 2014

Angan ingin dan angin


Doa bukanlah harus sebentuk pinta
ia juga bisa wujud rasa syukur
atau kesakitan yang diterima
di sekeliling kita

Doa juga bukan tempat tawar menawar dengan Tuhan
namun bisa jadi tempat mengeluhkan
menangiskan semua perlakuan
atau keruwetan yang sehari hari kita hadapi

Doa bisa jadi tempat meletakkan
semua keinginan yang telah lama ada dalam angan
dan biarkan ia menjadi angin
siapa tahu itu akan sampai ke langit
dan malaikat menjadi sejuk karenanya
sehingga dengan sukarela
menyampaikan harapan kita padaNya

Doa bisa jadi seperti rinai hujan
ketika dilakukan terus menerus,
itu akan membasahi langit Arsy
mudah-mudahan karena itu Tuhan berkenan mengabulkan
semua keinginan kita

Selasa, 19 Agustus 2014

di ujo juga di uji


Kelapangan rizki yang diberikan Tuhan mestinya membuat kang Darsim bahagia, namun ini tidak malah sebaliknya. Dalam hatinya terdalam ia gundah, bukan tidak mensyuykuri apa yang telah diberikanNya, namun serangkaian peristiwaq yang dialami kang darsim dan seumur-umur baru mengalaminya membuat dia bertanya-tanya: ada apa ini. Awalnya kang Darsim senang saat anak ke duanya diterima dengan lolos seleksi di fakultas kedokteran karena ia tahu anak keduanya memang berotak encer, sehingga masalah biaya bisa diupayakan. Seminggu kemudian anak pertamanya bilang kalau dapat beasiswa sekolah di luar negeri. Tentu saja ia mensyukuri. Nah,,kebahagiaan ini berlanjut karena hasil panen sawahnya lancar bahkan berlebih dibanding yang lain, disusul hasil ternaknya juga bagus. Ini yang membuat gundah, kang darsim jarang menemui keberuntungan ini secara beruntun, sebagai orang jawa Tulen dia berfikir dan waspada apa gerangan dibalik ini.

Saat termenung sendiri di gubuk sawahnya tiba-tiba mbah Dullah menghampiri. dengan takzimnya kang darsim mencium tangan mbah Dullah orang yang jadi guru ngajinya semenjak kecil. " napa Sim kok aku lihat dirimu seperti sedang mikir sesuatu yang berat, mestinya kamu bahagia karena aku dengan hasil panen sawahmu lebih dari yang lain ", " injih mbah maapkan saya bukannya tidak mensyukuri semua yang diberikanNya, tapi kebahagiaan itu seperti sesaat mbah kyai, seminggu ini saya gundah karena mengapa Tuhan memberikan kelapangan dalam keluarga saya serentak hal yang tidak akan saya alami sebelumnya".
Mbah Dullah pun tersenyum: "Sim ada hal yang harus dilakukan kalau kamu merasa seperti itu". Injih mbah kyai, saya harus gimana, jujur saya takut jangan-jangan ini hanya pancingan". "Pancingan gimana Sim". Yaa,, mungkin Tuhan sedang menguji saya dengan kelapangan ini mbah kyai". "hehehe,,,kalau kamu merasa seperti itu hal pertama yang harus kamu lakukan adalah bersyukur atas kenikmatan itu dengan doa setelah itu kamu harus tahu doa saja tak cukup, implementasinya adalah nafkahkan sebagian hartamu untuk yang berhak". sampun mbah kyai tapi mengapa masih ada yang ganjal di hati. " kenapa sim apa kamu takut kehilangan?". Mboten mbah seumur-umur saya selalu hidup dalam takaran pas kalau tidak dibilang sering kekurangan, saat tuhan memberi berlimpah kenapa saya tidak bisa melampauinya.

"Simm,,aku tahu apa yang ada dalam hatimu, ujian tidak harus bermakna penderitaan, banyak ujian juga berupa kesenangan, orang jawa bilang saat ini kamu di ujo, diberi kelapangan rizki, tapi kamu juga betul kalau di ujo juga bagian dari di uji, yang harus kamu lajukan adalah tetap rendah hati dimata manusia terlebih rendah hati padaNya, karena tak semua orang bisa melewatinya. Pesan kanjeng nabi, kalau kamu mencari dunia kamu akan dapat duniamu, kalau kamu mencari akhirat maka akhirat dan dunia keduanya dapat", ujar mbah Dullah sambil tersenyum. Mata kang Darsim berkaca-kaca, seolah apa yang mengganjal dihatinya tiba-tiba seperti digelontoir keluar dadanya yang sesak terasa lega, diciumnya tangan mbah Dullahsambil bilang : ini ketakutan saya mbah, lega rasanya mbah kyai mau ngasih tahu. "Sim,,kamu betsyukur sudah dipilih Tuhan untuk menjadi orang yang ditugasi mendistribusikan rizki kepada yang berhak lewat tanganmu, lakukan itu sebaik-baiknya, mudah-mudahan kamu diberi kelancaran sampai batas waktu untuk bertemu denganNya kelak". Tambah deras air mata kang darsim: mbah ingetkan saya jewer telinga saya kalau tidak bisa jalankan amanah ini,dipeluknya guru ngajinya itu, mbah dullah pun tersenyum, ada kebanggan pada murid ngajinya yang paling bandel waktu kecil.






Jumat, 08 Agustus 2014

Adinda (love you so much)


aku mungkin pernah melihat matahari terbenam
seperti pernah melihat terbitnya di ufuk timur
tetap saja tak bisa bedakan karena yang terlihat
hanya keindahan matahari yang melembut jingga
ini seperti cinta yang tak hilang keindahannya
semakin lama seperti percaya ini niscaya
kehadiran yang tak akan bisa menghilang begitu saja

aku mungkin pernah berurai air mata
saat sedih kehilanganmu, saat perih berucap
dalam diam engkau berkata selamat tinggal
atau aku terbahak melihat kenaifan dirimu tentang hidup
ini bukankah seperti cinta tertinggal di daun kering
(perpisahan terindah bukankah ketika kau berkata:
aku akan meninggalkanmu seperti daun kering gugur)
kebetulankah?


Rabu, 06 Agustus 2014

Mudik


Dalam bahasa suroboyoan, mudik bermakna terbang, namun makna itu lebih akrab ditelinga kita tentang sebuah aktifitas pulang kampung pada hari raya lebaran. Mungkin mudik berasal dari kata udiki alias kampung. Pulang ke kampung halaman pada hari lebaran seperti sebuah keniscayaan, keharusan dengan konsekwensi biaya berapapun. Pertanyaannya kenapa? kenapa mereka begitu antusias buat mudik meski keluar biaya yanjg tak sedikit, kelelahan yang teramat sangat. Yang jelas ada semacam sengatan spritual yang dicari setelah setahun bekerja di kota besar. Tidak perduli kaya miskin esensi mudik begitu dicari, terlepas dari kebutuhan pengakuan yang tidak didapatkan di kota. Pengalaman spiritual yang didapatkan inilah yang bikin adiksi, kebutuhan akan pengakuan, kebutuhan untuk diterima sebagai manusia tanpa embel-embel tertentu, perasaan persaudaraandan  silaturahmi yang membuat semua menjadi damai. Apapun namanya, ini seperti rasa dilahirkan kembali menjadi manusia, perjalanan kembali menjadi manusia sejati, pengalaman kembali untuk meniada, meniada dari ego menuju jati diri.

Mudik sebenarnya perlambang perjalanan manusia menemui Tuhannya, yang dicari setelah keseharian bekerja keras, setahun menunggu, ia hanya ingin berjumpa dengan kasih sayang kedamaian dan pengakuan tanpa embel apapun. Mudik hanya ingin diri ini menjadi manusia bukan hewan ekonomi, budak kekuasaan. Bukankah menjadi manusia normal hal yang diinginkan setelah dibombardir dengan kemilau harta tanpa batas namun malah mereduksi rasa kemanusiaan yang makin terlupa. Tidak diularang memiliki apapun tanpa batas, tapi kalau hanya menjauhkan dan malah mengasingkan nurani, kalbu dengan kebenaran, tidak saja semua sia-sia, namun malah makin tersesat dalam labirin bernama kerakusan. Susahnya menemukan jalan keluar membuat mudik menjadi jendela untuk membuat badan yang telah lusuh oleh peluh oleh ukuran bernama banyak-sedikit sampai martabat yang hilang. Apapun ternya manusia masih merindukan kembali ke asal muasal, akar rumput tempat dia diterima apa adanya, kerinduan yang harus dibayar mahal dengan cara mudik. Bukankah dengan mudik kita menjumpai manusia begitu memaapkan, bertoleransi sedemikian besarnya, bukan kemarahan tapi senyuman.


sesaat sunyi


"bukankah perjalanan kehidupan, kelak hanya kembali meniada, lantas kenapa kita terlalu gegap gempita menemui dunia dengan tangan terbuka seolah kita abadi", tanyamu.
"siapa bilang begitu?"
"kamu sering bilang saat malam melihat bintang jauh seolah untuk mengusir sunyi dan tiba-tiba kamu mengatakan setiap sinarnya mewakili waktu yang tak terhingga sebelum padam, bukankah itu makna kematian, kau berumpama dengan kata meniada"
"hmmm,,,meniada bukanlah sebentuk kematian ia hanya kembali menjadi fitrah manusia yang sebelumnya tak ada di dunia hanya dengan kelembutanNya bisa menjadi ada, bukankah manusia hadir disini hanya menjalankan makna cinta, bukan kerakusan, kematian aku selalu kiaskan dengan daun gugur, dan sebelum jatuh ke tanah akan melayang dengan eksotika seolah memberi salam perpisahan dengan berkata: aku kembali pulang, jadi ini dunia bukanlah rumah, pulang yang sejati ada di dekatNya"
"lantas kenapa engkau begitu bergairah dengan dunia jika akhirnya kembali tanpa apa-apa?"
"Tuhan tak mungkin sia-sia mencipta segalanya, dunia adalah sebentuk hadiah cintayang diberikan pada kita, tugas manusia untuk menjaga amanah itu dengan sebaik-baiknya"
"amanah bagaimana ?"
"amanah membangun, membentuk dunia dan seisinya untuk kemakmuran bersama bagi generasi sebelum, sekarang dan selanjutnya"
"begitu ? lantas kenapa masih ada ketimpangan yang menghasilkan air mata?'
"disana bersemayam rumah kerakusan"
"maksudnya?"
"kalau dirimu diberi keleluasaan Tuhan untuk menikmati kelebihan yang diberikanNya, lantas engkau menggunakannya hanya untuk kesenangan diri, memperluas kerakusannmu akan harta, kekuasaan karena itu memang mengasyikkan dan memberikan kecanduan tanpa tahu atau engkau berpura-pura lupa bahwa engkau diamanahkan untuk mendistribusikannya secara adil dan merata untuk orang yang ditakdirkan Tuhan menerima bagian itu, pada suatu titik kamu akan tiba di kegamangan"
"kegamangan apa maksud kamu?"
" engkau merasa memiliki semuanya akan menyangsikan keberadaanNya dan dirimu merasakan kesepian luar biasa, sampai pada terminal waktu engkau sebenarnya tiada dan hampa, kegelisahanmu menjadi-jadi saat dirimu tak menemukan apa yang dicari, padahal kalau tahu engkau tinggal mengetuk pintu rumahNya, trapi lupa caranya"
"apakah buruk keterlanjuran memiliki kesenangan pada dunia dan memilikinya?"
"tidak, dari awal Tuhan telah menghadiahkannya untukmu, terserah tingkat kedewasaan spiritual kamu, karena itu bisa jadi jalan untuk semakin mendekat dan bermesraan denganNya, menghilangkan kemelekatan yang berlebihan dan bergandengan mesra untuk membuat dunia ini seperti playground yang indah"
"aku jadi makin tak mengerti?"
"ketidak mengertian adalah pintu terbukanya pengertian"
"jadi apa yang harus aku lakukan sekarang ini?"
"apa yang bisa kamu lakuakan sekarang ini lakukanlah"
"aku hanya seorang yang punya kesanggupan bekerja menafkahi keluarga"
"itu sudah lebih dari cukup, kamu tinggal memelihara istiqomahnya konsistensinya"
"itu saja?"
" ya hanya itu"
"lantas yang kamu ceritakan panjang lebar tadi?"
"anggap saja tak ada"
"bagaimana bilang tak ada, aku telah dengarkan dengan seksama"
"tak harus untuk dimengerti"
"entahlah setelah mendengar uraian tadi aku hanya merasa sepi"
"kamu tinggal ketuk pintuNya"
"begitu?"
"ya,,"
sesaat sunyi pun menyelimutinya