Jumat, 18 November 2011

mejikuhibiniu


Mejikuhibiniu hafalan saat kita mulai masuk institusi bernama sekolah, untuk mengenal warna merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu lebih sulit dibanding kalau disingkat mejikuhibiniu. Bukan suatu kebetulan jika warna yang kita kenal pertama kali saat itu akan mempengaruhi kehidupan kita selanjutnya. Entah apa yang salah dengan mata, guru yang membimbing kita, atau mungkin kita buta warna kadang menilai sesorang, sesuatu, dari warna yang dikenal. Saat berperilaku buruk akan di cap warna hitam, kalau berperilaku baik menjadi warna putih. Anehnya raport kita akan menjadi merah saat "nilai" di kantor, sekolah mendadak terjun bebas karena "persepsi" yang tidak sama dengan kebanyakan. Sebaliknya kalau baik maka raport itu berubah warna menjadi biru.

Lebih celaka lagi, gradasi warna seperti abu-abu selalu berkonotasi plin plan, jadi gradasi yang bernuansa indah buat saya akan berpotensi di-cap tidak konsisten. Jadi saya harus belajar berhati-hati untuk mengucapkan warna, memberi warna pada sesuatu, seseorang, kalau tidak ingin disalah pahami. Hanya karena urusan warna pula saya agak menghindar agar tidak terkena salah persepsi dari orang lain, karena hari ini mewarnai adalah hobby yang paling mengasyikkan. Salah bicara bisa-bisa akan di stempel merah atau hitam, Namun karena terlalu sering menerima dua warna ini saya punya "mainan" baru, mencampur hitam dan merah dalam kehidupan sehari-hari. Saat ada orang mau berkorban untuk kepentingan kebaikan maka akan saya cap dengan warna merah (berani). Saat saya bertemu orang dengan kearifan yang begitu dalam maka saya akan memberi warna hitam, karena buat saya itu lambang keteduhan.

Bukannya saya anti dengan warna lain, namun dalam kehidupan yang selalu men-cap diri ini dengan warna merah dan hitam, warna ini begitu akrab dan mendarah daging. Setelah bertubi-tubi di bombardir dengan kesalah pahaman, difetakompli, kadang dibenci dan dicaci, dalam segala urusan kehidupan, warna hitam dan merah pada diri ini semakin dalam dan indah. Anehnya saat ketahanan mental saya ada pada batas ambang, tiba-tiba keluar air mata berwarna bening. Terus terang saya takjub sekaligus masygul. Takjub karena apapun cap luar yang diberikan manusia di mata Tuhan ia tetap bening, masygul karena kesalah pahaman ini berawal dari kekurangan kita untuk menakar cinta dan sayang diatas perbedaan yang ada. Saya ingat buku fisika jaman masih SMP, kalau semua warna disatukan maka yang keluar warna putih. Bukankah kehidupan di "mata" Tuhan tetap putih apapun warna yang kita sandang di dunia ini? dan buat saya itu indah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar