Senin, 08 Agustus 2011

Jujur saya iri dengan mereka

Kadang,,,saya merasa trenyuh sekaligus bersedih karena beberapa teman yang saya kenal baik dan tidak diragukan dari sisi kepintaran namun menyasar (untuk tidak mengatakan terjebak) dalam frame kehidupan yang buram, padahal mereka cerdas untuk tahu kapan masuk dan kapan keluar. Sekali mungkin bisa di toleransi, namun kalau itu berulang saya hanya bisa mengelus dada seraya berdoa semoga Tuhan selalu membimbing mereka. Saya tahu betapa hati mereka telah terbakar amarah dan terluka. Air mata tak cukup untuk menyejukkannya.

Yaa,,,ini bercerita tentang sepenggal hidup yang diamanatkan Tuhan lewat kehidupan dan cinta, namun ada yang salah menangkap persepsinya sehingga ibarat menggali sumur yang didapatkan hanya dangkal dan air keruh belaka., Padahal kalau mau bersabar dan menggali lebih dalam mereka akan temukan air jernih. Saya paling suka mengutip tulisan Gede Prama, beliau bilang kehidupan ini seperti taman di halaman rumah. Kita bisa bersikap dengan mengabaikannya dengan skeptis dan pesimis dengan tidak merawat taman kita. Hasilnya taman itu tetap ada dan yang tumbuh hanya rumput dan tanaman liar, tidak enak dipandang. Atau kita mau membuatnya indah dengan memangkas, memupuk, memotong hingga indah dipandang.

Begitulah kehidupan serupa taman, apapun sikap kita, skeptis, pesimis, hidup terus berjalan namun tanpa arah, tujuan. Kehidupan indah yang didambakan memang selalu dilewati dengan air mata, dipangkas dengan keadaan, disana kita belajar dewasa sehingga kehidupan ini meng-indah. Namun sebagaimana kita tahu mudah untuk berkata susah dilaksanakan. Hanya tinggal kita, akan kemana "taman" hidup kita dibawa.

Agak susah memang ketika kehidupan diisi dengan kebencian dan sesal, seperti memelihara taman hidup kita dengan tanaman berduri, tidak saja melelahkan, namun mudah sekali terjebak dalam hidup yang menguras energi, berat memang hidup di masa kini dengan menggendong masa lalu, saya tahu karena pernah alami kondisi begini. Tak mudah memang membuang kebencian yang diakibatkan masa lalu, lebih susah memaafkan diri sendiri dari pada memaafkan orang lain. Sama tak mudahnya berbuat ikhlas ketika beban kehidupan makin menyempitkan mimpi masa depan.

Kembali lagi dengan teman-teman baik saya yang hari ini mengalami kepedihan hidup, skeptis, pesimis dan dizalimi oleh orang lain sehingga gelap memandang masa depan, saya tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa semoga Tuhan memberi mereka pundak yang kuat. Karena saya tahu betul hanya orang yang dipilihNya kelak akan menjadi kekasihNya dengan diberi beban kehidupan semenjak mereka masih muda. Saya yakin kelak Tuhan akan mengangkat beban itu dan menjadikannya mereka bercahaya asal bersabar dan ikhlas. Mereka menjadi pendar cahaya bagi kehidupan ini dan sesama. Kalau ini terjadi, jujur saya iri dengan mereka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar